Warthog adalah unit crossover thrash–punk asal Jakarta yang menggabungkan kecepatan thrash dengan semangat pemberontakan punk. Mereka menghadirkan musik yang lugas, keras dan tanpa kompromi.
Mulai menggeliat pada 2022 lalu, Warthog dilahirkan dari keresahan terhadap realitas sosial, budaya konsumtif serta dinamika kehidupan jalanan yang penuh tekanan.
Dengan berondongan riff tajam, tempo menghajar serta vokal penuh amarah, Warthog membangun identitas kuat di skena ‘bawah tanah’ lokal.
Secara musikal, band yang digerakkan gitaris Dino Jacob, vokalis Antonius Budi (Anton), dramer Bambang Jatmiko (Miko) dan bassis Agung Yulianto ini terinspirasi oleh band-band crossover thrash klasik.
Di antaranya seperti Suicidal Tendencies, DRI dan Municipal Waste, namun tetap mempertahankan karakter orisinal dengan sentuhan punk jalanan yang kasar dan penuh energi.
Membesut 18 trek berdurasi singkat, cepat dan padat, “Rock and Roll 50” didominasi semburan lirik yang mengangkat tema kritik sosial, perlawanan terhadap ketidakadilan, solidaritas skena hingga realitas hidup kelas pekerja.
Tajam, Manusiawi
Proses rekaman “Rock and Roll 50” dijalani para personel Warthog secara independen untuk menjaga karakter sound yang raw dan autentik, namun tanpa kehilangan kekuatan produksi yang solid.
“Kami diuntungkan dengan adanya studio pribadi Warthog sebagai bengkel untuk berkreasi. Itu yang membuat kami tidak memaksakan ketika tidak ada ide dan biarkan mengalir,” urai pihak Warthog kepada MUSIKERAS.
Mereka mengaku merasakan keseruan ketika menjalani proses memilih atau menyajikan karakter sound gitar lama, namun yang tetap terdengar tajam.
“Hal ini menentukan pemilihan karakter sound yang akan kami gunakan dalam setiap lagu. Termasuk untuk bass dan dram tanpa menggunakan double pedal.”
Masih dalam urusan sound, mereka juga masih menerapkan sistem analog atau todong dari empat semburan suara head amp yang berbeda, plus penggunaan perangkat Fractal Audio System yang menyediakan tiruan berbagai jenis ampli secara digital serta berbagai efek suara.
“Agar musiknya tetap terdengar ‘manusiawi’! Keseluruhan lagu menantang (proses rekamannya) karena sound berbeda dari setiap lagu. Termasuk pemilihan head untuk menentukan karakter sound gitar untuk setiap lagu.”

Eksplosif, Intens
O ya, untuk pemilihan judul album, “Rock and Roll 50” ternyata dilatari usia para personelnya yang rata-rata 50 tahunan.
“Sudah berumur, tapi tetap menunjukkan semangat untuk tetap berkreasi dan sesuai dengan musik oldschool yang kami usung.”
”Sejak terbentuk, band ini telah tampil di berbagai hajatan underground, festival komunitas serta berbagi panggung dengan sejumlah band lintas paham musik keras.
Aksi panggung Warthog dikenal eksplosif, menciptakan moshpit intens, interaksi tanpa sekat dan atmosfer keliaran yang terkontrol. Setiap pertunjukan bukan sekadar konser, tetapi pelepasan energi kolektif antara band dan audiens.
Nama Warthog merepresentasikan karakter liar, kuat dan tak mudah dijinakkan—selaras dengan musik yang mereka gelorakan.
Dengan semangat dan solidaritas komunitas, Warthog berkomitmen untuk terus bergerak, merilis karya dan menyuarakan keresahan melalui distorsi dan tempo cepat.
“Rock and Roll 50” sudah tersedia di berbagai gerai penyedia layanan musik digital sejak 26 Februari 2026. Termasuk di kanal YouTube. (mdy/MK01)