METALLICA: 40 Tahun “Master Of Puppets”

Hari ini, 40 tahun yang lalu, Metallica merilis “Master Of Puppets”, salah satu album paling penting dan berpengaruh dalam sejarah musik metal dunia.
metallica
METALLICA 1986 (Foto oleh Ross Halfin)

Metallica mengawali perjalanan menuju proses kreatif “Master of Puppets” setelah menyaksikan penayangan konser Live Aid di televisi, pada musim panas 13 Juli 1985 silam.

Saat itu, dramer Lars Ulrich, vokalis dan gitaris James Hetfield, gitaris Kirk Hammett serta bassis Cliff Burton berkumpul di sebuah rumah yang mereka tinggali bersama, di kawasan El Cerrito, California, AS.

Terinspirasi kuat usai menyaksikan penampilan Black Sabbath, Status Quo serta Led Zeppelin di konser amal tersebut, Metallica pun langsung terlecut untuk menggarap demo lagu-lagu baru di garasi rumah mereka itu.

Loncat ke September, band bentukan 1981 silam ini menyimpulkan bahwa “Master Of Puppets” bakal menjadi lagu utama dari album terbaru mereka. Bersama enam lagu lainnya, mereka lantas memboyongnya ke studio Sweet Silence di Kopenhagen, Denmark.

Di sanalah Lars, Hetfield, Hammett dan Burton memoles dan merekam album “Master Of Puppets” bersama produser Flemming Rasmussen selama periode 1 September hingga 27 December 1985.

Mereka juga menambahkan “That Thing That Should Not Be”, sebuah lagu yang baru dibuat ketika Metallica berada di studio Sweet Silence.

“Saat kami merekam (album) ’Ride the Lightning’ pada tahun 1984, produser kami adalah Flemming Rasmussen, seorang warga Denmark. Dia benar-benar tipe orang yang cocok untuk kami: cepat tanggap, sangat cerdas,” ujar Lars memuji, dikutip dari wawancaranya dengan The Guardian, pada Desember 2016 silam.

Kenapa harus berangkat ke Denmark? “(Karena) Nilai tukar antara dolar dan (mata uang) krone sangat menguntungkan kami sehingga kami memutuskan untuk merekam album berikutnya di Denmark.”

Ditambah lagi, lanjutnya, jika akan memindahkan sekelompok anak muda Amerika berusia 20 tahun ke mana pun di wilayah Eropa Barat, Kopenhagen bukanlah tempat yang buruk. Semua orang berbicara bahasa Inggris, dan mereka sangat memahami budaya Amerika.

“Dan ada banyak bir enak,” seru Lars lagi, semangat.

Cliff Burton

Pada momen itu, para personel Metallica menampung begitu banyak energi dan keyakinan. Lars mengingat, bahwa saat itu semuanya bersifat naluriah. Ia tidak ingat pernah memikirkan ide atau cara terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu. Pokoknya langsung hajar!

Seperti di komposisi “Master Of Puppets” misalnya. Mereka mengerahkan seluruh kemampuan. Secara naluriah, Lars dan rekannya di band menyadari bahwa mereka telah menemukan sesuatu yang benar-benar menyentuh dan mereka tahu harus menyempurnakannya.

“Ini semua tentang membuatnya ketat,” kata Ulrich pada 2017. “Setiap trek gitar harus benar-benar rapi dengan trek gitar lainnya!”

Di mata Rasmussen, para personel Metallica sangat ambisius, pekerja keras, dan selalu membuat demo yang bagus, jadi lagu-lagunya kurang lebih sudah selesai ketika mereka tiba di Kopenhagen.

“Setiap kali sebuah grup datang ke studio, mereka selalu ingin menjadi band terbesar di dunia – tetapi dengan Metallica, saya merasa mereka benar-benar bisa mewujudkannya. Dan mereka berhasil!”

Sang produser juga menambahkan, kerja sama yang terjalin berjalan mulus lantaran kedua pihak sudah memiliki visi yang sama tentang bagaimana album itu seharusnya terdengar.

“Jadi kami semua bekerja sama ke arah yang sama. Itu tidak sering terjadi. Saya memiliki perasaan yang kuat bahwa kami sedang membuat album klasik. Rasanya seperti perjalanan yang menyenangkan. Saya tidak ingat satu pun pertengkaran. Itu juga cukup tidak biasa.”

“Setiap kali mereka membuat album, itu lebih besar dari yang sebelumnya. Mereka masih muda dan penuh percaya diri. Anda tidak bisa mengalahkan itu.”

Rasmussen juga mengenang Cliff Burton, dimana “Master Of Puppets” menjadi kontribusi terakhirnya sebelum dinyatakan meninggal dalam kecelakaan bus di Swedia pada 27 September 1986.

“Saya ingat betapa briliannya dia dalam mengatur harmoni dan sisi melodi dari semuanya. Dia harus banyak menunggu saat kami mengatur dram dan ritme gitar, dan dia benar-benar bosan. Tapi ketika dia datang untuk merekam bagiannya, dia luar biasa!”

“Saya rasa ‘Master of Puppets‘ mewakili suatu masa dalam sejarah. Semacam akhir dari era Cliff Burton di Metallica, yang menyedihkan, tetapi juga sangat penting,” ujar James Hetfield mengenang.

metallica

Kumpulan Dinamika

Terdiri dari empat bagian yang berbeda dengan total durasi delapan menit tiga puluh lima detik, “Master Of Puppets” sangat berbeda dibanding lagu-lagu rock arus utama pada masa itu.

Walau sempat dianggap tidak ideal untuk kebutuhan promo radio, namun durasinya yang luar biasa panjang itu justru menjadi kekuatan lagu tersebut.

Jika disatukan, bagian-bagiannya menciptakan kemegahan sinematik, sarat momen agresif yang menggebu-gebu, sekaligus melodius.

Dalam biografi Metallica karya Mick Wall, “Enter Night”, Lars menjelaskan bahwa dulu, mereka membuat versi kasar sebuah lagu dan ia lalu pulang ke rumah, menghitung durasinya dan berkata, ‘Hanya tujuh setengah menit!’

“Saya berpikir, ‘Sial, kita harus menambahkan beberapa riff lagi… Jika kita bisa membuat lagu itu sedikit lebih panjang, sedikit lebih menarik, dan tetap berhasil, mengapa tidak?’”

Daya terjang album “Master Of Puppets” benar-benar maksimal lewat berondongan delapan lagu di dalamnya. Bukan hanya mengandalkan lagu yang dijadikan judul album.

“Battery”, “Damage, Inc.” serta dua komposisi instrumental yang epik; “Welcome Home (Sanitarium)” dan “Orion” juga melesat menjadi komposisi yang digemari para pemuja band ini, selain menjadi favorit para personel Metallica sendiri.

Menurut Lars, seperti yang ia tuturkan kepada Library of Congress pada 27 Mei 2016, mereka telah memainkan hampir semua lagu di album di atas panggung konser.

Battery” adalah lagu pembuka abadi Metallica selama bertahun-tahun dan terkadang masih menjadi lagu pembuka di setiap konser mereka.

“‘Sanitarium’ adalah salah satu balada hebat kami. Ini adalah salah satu lagu favorit saya untuk dimainkan karena, dari segi dram, lagu ini memiliki banyak kebebasan; saya memainkannya dengan cara yang berbeda setiap kali. ‘Orion’ (juga) adalah instrumental favorit kami untuk dimainkan, ini favorit penggemar.”

James Hetfield menambahkan, dikutip dari sebuah wawancara di segmen Rock City TV Jepang, saat perayaan 20 tahun perilisannya.

“’Orion’ salah satu lagu yang paling menyenangkan. Sangat emosional, meskipun tidak ada liriknya. Dan dengan kehadiran Rob Trujillo di band sekarang yang memainkan gaya Cliff (Burton) yang luar biasa, lagu itu terdengar lebih baik dari sebelumnya.”

“Kami cenderung melihat album kami sebagai kumpulan dinamika yang berbeda: ada lagu cepat, lagu tempo sedang, balada, instrumental. Seperti kelompok makanan – Anda membutuhkan karbohidrat, protein, dan semua itu,” ucap Lars, dari wawancara berbeda.

“Master of Puppets” merupakan album studio ketiga Metallica, yang dirilis pertama kali pada 3 Maret 1986 via Elektra Records.

Khusus lagu “Master Of Puppets” sendiri merupakan tonggak sejarah musik rekaman. Sebuah lagu kebangsaan generasi, dan salah satu lagu metal terbaik yang pernah ditulis.

Seperti yang dikatakan Lars sendiri: “Siapa yang menyangka, 40 tahun kemudian, lagu-lagu ini masih bisa memberikan dampak sebesar itu?” (@mudya_mustamin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
evanescence
Read More

EVANESCENCE: Hanya Gelar Konser di Malaysia

Dalam rangkaian tur dunianya, Evanescence bakal gelar konser secara eksklusif di Kuala Lumpur, Malaysia. Satu-satunya negara yang terpilih untuk Asia Tenggara.
avenged sevenfold
Read More

AVENGED SEVENFOLD: Konser Lagi di Jakarta

Pada 10 Oktober 2026 mendatang, Avenged Sevenfold dipastikan akan kembali menggelar konser, di Jakarta International Stadium (JIS), Jakarta.