INHERITORS: Thrash Usang Sentuhan ‘Anak Muda’

Usai vakum delapan tahun, Inheritors kembali lewat karya baru, “Cheating Death” dengan sentuhan modern, yang memanaskan jalan menuju album.
inheritors
INHERITORS

Inheritors menantang takdir lewat thrash metal gelap dan brutal di lagu rilisan tunggal terbarunya, bertajuk “Cheating Death”.

Tema liriknya, lahir dari refleksi personal para personelnya yang pernah berada di ambang kematian, sekaligus kegemaran kolektif mereka terhadap tema horor dan thriller seperti Final Destination.

“Cheating Death” berbicara tentang ilusi manusia yang merasa bisa mengakali kematian, padahal kematian selalu menemukan jalannya sendiri.

Sekaligus, lagu itu menandai sisi Inheritors yang paling gelap dan buas sejauh ini.

Riff thrash cepat dengan nuansa old school proto-death thrash metal akhir 80-an, yang dikombinasikan dengan komposisi yang lebih padat, groove yang lebih kejam serta breakdown dan solo gitar yang agresif.

Unit crossover thrash metal asal Malang, Jawa Timur ini menyebut referensinya antara lain mengacu kuat ke era album Metallica, “Kill ’Em All” (Juli 1983) hingga “Pleasure to Kill” (November 1986) dari Kreator.

Juga ada spirit Sepultura era awal yang menjadi benang merah utama, namun diramu tanpa terjebak nostalgia mentah.

“(Kami) Back to roots aja, lebih meminimalisir eksperimentasi dalam thrash yang kami usung. Harapannya lebih raw dan mewakili golden era nya thrash.,” cetus gitaris Patrick Lesmana kepada MUSIKERAS, mengungkap konsep di balik formula Inheritors saat ini.

Vokalis Noviar Rahmat (Dion) menambahkan, “Kami coba lebih straightforward dan groovy dalam penulisan lirik.”

“Meskipun riff-riff mungkin terinspirasi dari band-band tua seperti early Sepultura, Anthrax dan lain-lain, tapi sound design kami mencoba tetap modern.”

“Yang pertama, jelas riff yang selalu kami jaga agar tetap relevan di masa kini, tapi dengan segala rombak kanan kiri atas bawah, riff yang terdengar tua kami sulap agar lebih ear-friendly di masa sekarang,” seru bassis Sulton Ubaidillah (Obed) mempertegas.

Keseluruhan racikan tersebut, lantas dilapis groove dari permainan dram Rufa Hidayat yang ia sebut bisa memicu mosh-pit!

Non-Thrash

“Cheating Death” di sisi lain, juga menunjukkan kekuatan baru Inheritors.

Karena di lini gitar, kini bergabung Galih Priyomukti yang menandai pertama kalinya band bentukan Oktober 2014 lalu tersebut menggunakan formasi dua gitaris.

Meski datang dari latar non-thrash, Galih justru membawa pendekatan yang lebih eksploratif dan segar, memperkaya karakter riff dan solo tanpa mengaburkan identitas gelap Inheritors.

Kehadirannya membuat sound band terasa lebih padat, heavier, dan terbuka ke materi-materi yang lebih luas.

“Galih menambahkan unsur modern dalam Inheritors, supaya ada sentuhan ‘anak muda’ dalam musik tua ini,” seru Patrick.

“Dari segi musikal,” sambung Dion, “Galih cukup melengkapi musik kami. Banyak isiannya yang sebelumnya nggak kepikiran dan aku rasa untuk live show, dua gitar sound-nya akan lebih ‘bulet’.”

Dan memang, sejak awal Inheritors dibentuk, lagu yang mereka racik sudah diniatkan untuk dieksekusi formasi dua gitar.

“Mungkin karena selama ini belum nemu personel yang ‘click’ aja. Kebetulan kami dikenalkan Galih oleh Patrick dan overall mantaplah,” ujar Obed.

“Kebetulan thrash kan sudah terkenal sebagai musik ‘orang tua’ ya. Dengan adanya Galih sebagai penyuka djent dan metalcore garis keras, menurutku nambah warna baru banget ya buat Inheritors,” imbuh Rufa meyakinkan.

Galih sendiri berharap kontribusinya di “Cheating Death” serta lagu-lagu lainnya bisa tetap sesuai dengan yang diharapkan.

“Aku sendiri berangkat dari background musik keras yang sedikit berbeda jadi lebih sering tambah kamus dan referensi. Selain itu goals-nya untuk saat ini lebih ke meng-compliment supaya lebih fresh.”

inheritors

Chainsaw Massacre

Dalam penggarapan produksi rekamannya yang dilakukan di SuaraWibu Studio dan Griffin Studio, “Cheating Death” rupanya lahir dari stok riff lama Patrick yang lantas dikembangkan menjadi sebuah komposisi lagu baru.

Karena sedikit banyak sudah berbentuk, maka proses kreatif penulisan serta penyusunan aransemennya pun terbilang sangat cepat.

Tak hanya musiknya, namun juga dari tema lirik yang rupanya sudah cukup lama terngiang-ngiang di kepala Dion.

“Jadi ide lagu ini harusnya dirilis setelah singleNo Rest for the Wicked’ di medio akhir 2016 pre-hiatus kami. Jadi overall, yah cukup singkat untuk penulisan ‘Cheating Death’.”

“Kebetulan juga lagi pengen punya track yang old school proto-death thrash metal akhir 80-an. Tapi tetep kami kombinasiin dengan groove yang menurut kami lumayan masa kini,” seru Obed.

“Cheating Death” adalah pernyataan bahwa Inheritors belum selesai. Mereka mungkin tidak bisa mencurangi takdir, tapi mereka bisa menantangnya dengan distorsi, kecepatan, dan kegelapan.

O ya, mengenai rencana perilisan album, Inheritors menyebutnya bakal menjadi semacam kolase perkembangan thrash metal, dari era ’80-an hingga 2000-an, dimana tiap lagu membawa karakter dan pendekatan yang berbeda.

Sejauh ini, mereka sudah mengantongi sebanyak lima lagu untuk kebutuhan album. Rencana jumlah lagu bakal memuat delapan trek keseluruhan.

Tapi sebelumnya, mereka berencana akan merilis satu lagu lepas lagi, sebelum memuntahkan album pada pertengahan tahun ini.

Sebelum “Cheating Death”, Inheritors telah meluncurkan beberapa karya rekaman. Mereka pertama kali memperkenalkan diri lewat lagu tunggal berjudul “Chainsaw Massacre”.

Di lagu debut itu, Inheritors mengombinasikan thrash metal/crossover ala Metallica, Megadeth dan Slayer, dengan lirik terinspirasi film horor favorit mereka.

Lagu itu lantas termuat di “Inheritors: I”, album mini (EP) debut yang dirilis pada 10 Juni 2015.

Setelah itu menyusul EP “Inheritors: II” (23 Mei 2016), lagu lepas “No Rest For The Wicked” (11 Oktober 2016), “From The Grave” (15 Januari 2025) dan “Pestilence” (feat. Agan Iksar dari Dazzle) pada 21 Maret 2025.

“Cheating Death” (tonton video liriknya di tautan kanal YouTube ini) telah disiarkan via Spires Records di berbagai gerai penyedia layanan musik digital – termasuk Bandcamp – sejak 26 Februari 2026. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
no8
Read More

NO8: Nadin Amizah Versi Modern Metal?

Fenomena band atau solois rock berkedok dan merahasiakan identitas aslinya mulai menjalar ke Indonesia. Salah satunya diadopsi NO8 yang berasal dari Bandung.