MARRYANNE: Merangkul Kerentanan Modern Shoegaze

Usai jalani tur Pulau Jawa yang dilabeli Distant Light Tour akhir tahun lalu, kini Marryanne buka babak baru dengan melepas “Feel the Pain”.
marryanne
MARRYANNE

Marryanne akhirnya memperdengarkan karya terbarunya, usai merilis ulang album mini (EP) “Into the Void” dalam format cakram padat (CD) pada Oktober 2025 lalu.

Kini, unit shoegaze/alternative rock asal Cirebon, Jawa Barat tersebut meluncurkan maxi-single bertajuk “Feel the Pain”, yang memuat sepasang lagu baru; “Feel the Pain” dan “Forfeit”.

Dirilis pada 27 Februari 2026 lalu, kedua lagu tersebut terhubung melalui satu alur emosional, menelusuri cerita yang berkelanjutan.

Tentang bagaimana amarah yang tak terkendali dapat menyebabkan kehilangan dan bagaimana kehilangan itu tetap membekas lama setelah intensitasnya mereda.

“Feel the Pain” berpusat pada amarah sebagai kekuatan yang menghancurkan. Lagu ini menangkap perasaan terjebak dalam pikiran yang berulang, dimana frustrasi berbalik ke dalam dan identitas mulai kabur.

Liriknya mencerminkan luapan emosi, ketika amarah tidak lagi meledak-ledak, tetapi berat, berulang dan melelahkan. Pergerakan terasa mendesak namun tanpa arah, didorong oleh intensitas daripada kejelasan.

Sementara di “Forfeit”, vokalis Erlinda Nazwa Rahmadani (Oya), gitaris Cyril Muhammad Falih (Cyril) dan R. Erlangga Eka Pratama, bassis Andhika Dwi Himawan (Andik) serta dramer Arrest Bupala Rafiadi (Ares) melanjutkan cerita setelah amarah mereda, mengungkapkan apa yang tersisa, yakni kehilangan.

Dengan latar belakang cahaya lampu kota, lagu ini mengeksplorasi kekosongan yang tertinggal setelah kebisingan mereda. Amarah masih ada, tetapi lebih tenang terjalin dengan kerinduan dan ketidakhadiran.

Waktu terasa rapuh, kenangan dikejar daripada dipertahankan, dan koneksi menjadi sesuatu yang ada sebentar sebelum menghilang.

“Forfeit” merangkul kerentanan, dimana rasa sakit dan keintiman hidup berdampingan dalam momen yang singkat.

marryanne

Room No.6

Proses peracikan “Feel the Pain” dan “Forfeit” sebenarnya sudah berlangsung lama. Demo awal “Forfeit” dibuat pada akhir 2023. Lalu pengembangan sampai aransemen penuh untuk kebutuhan manggung rampung pada Juni 2024.

Sementara lagu “Feel the Pain” diciptakan di pertengahan 2024 dan pertama kali dibawakan saat pentas di Krapela, Jakarta Selatan pada September 2024.

“Jadi dua materi yang kami rilis ini sudah kami bawakan sejak pertengahan tahun 2024,” seru pihak Marryanne kepada MUSIKERAS menegaskan.

Shoegaze tentu saja masih menjadi benang merah konsep musik yang diterapkan Marryanne. Namun berbeda dibanding EP “Into the Void”, kali ini referensi serta pendekatan musikal yang digunakan lebih ke arah modern shoegaze.

Kurang lebih acuannya seperti band Nothing, Life On Venus, Whirr serta band non-shoegeaze macam Momma.

“Kami memang mencoba untuk membuat perbedaan di setiap rilisan kami. Kalo soal signifikan atau tidak, mungkin pendengar yang bisa menilai apakah cukup jauh dari EP ‘Into the Void ataukah masih mirip.”

Proses produksinya sendiri, termasuk rekaman yang dieksekusi di Jags Studio dan Room No.6, berlangsung sejak Agustus hingga Desember 2025 lalu.

Khusus di lagu “Feel the Pain”, Marryanne menyebutnya cukup menantang proses rekamannya lantaran durasi dan lirik yang panjang, serta layering yang lumayan banyak.

Kedua karya terbaru Marryanne tersebut sudah bisa digeber via berbagai gerai penyedia layanan musik digital. Termasuk di kanal Bandcamp. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
no8
Read More

NO8: Nadin Amizah Versi Modern Metal?

Fenomena band atau solois rock berkedok dan merahasiakan identitas aslinya mulai menjalar ke Indonesia. Salah satunya diadopsi NO8 yang berasal dari Bandung.