AMORPHOUS: Di Gerbang Api Kedua Black Metal

Gerbang menuju album mini (EP) telah dibuka oleh Amorphous lewat lagu lepas terbaru, dieksekusi formasi terkini yang terberkati untuk bergabung.
amorphous
AMORPHOUS

Amorphous menandai babak baru dalam perjalanan artistiknya, baik dari sisi musikalitas maupun kedalaman konseptual, lewat sebuah lagu rilisan tunggal terbaru bertajuk “Under Black Blossom Trees”.

Kali ini, unit black metal asal Tasikmalaya, Jawa Barat ini mengangkat tema kematian sebagai gerbang transendensi, sebuah jalan yang melampaui batas.

Melalui narasi figur simbolis yang menganggap dirinya sebagai pembawa wahyu, lagu ini merefleksikan panggilan kepada jiwa-jiwa yang terasing untuk meninggalkan dunia fana dan kembali menuju tempat yang telah lama dinantikan.

Inspirasi lirik di “Under Black Blossom Trees” berasal dari perenungan tentang keseimbangan antara keyakinan, rasa takut, dan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan oleh logika manusia.

Mereka ingin menggambarkan bagaimana manusia sering berada di antara rasa takut dan penerimaan terhadap hal-hal yang misterius dalam kehidupan.

Lewat lagu ini, Amorphous tidak mencoba memberi jawaban pasti, tetapi justru mengajak pendengar untuk menafsirkan maknanya sesuai dengan pengalaman dan pemikiran mereka masing-masing.

Vokalis Adittya Rama Suteja (Guzmarteel), gitaris Muhammad Iqbal (Deathskvll) dan Muhammad Nugroho (Vlyrthvax), bassis Muhammad Rizwan (Grimvart) serta dramer Idham Muhammad mmeulai penggarapan karya rekaman terbarunya sejak tahun lalu.

Merupakan bagian dari perampungan EP yang mereka targetkan rilis tahun ini.

Dari sisi produksi, “Under Black Blossom Trees” direkam di Damage Studio, Tasikmalaya, sedangkan sesi rekaman untuk dram dilakukan di QR Studio, Ciamis. Lalu terakhir, mixing dan mastering dipoles di Orvious Soundlab.

Kolaborasi itu menghasilkan kualitas produksi yang lebih solid dan ‘halus’ dibandingkan materi Amorphous sebelumnya.

amorphous

Dimensi, Energi

Dengan formasi terbaru yang kini beranggotakan lima personel, band ini menghadirkan aransemen yang lebih kaya dan atmosferik di “Under Black Blossom Trees”.

Secara musikal memperlihatkan perkembangan signifikan dalam pendekatan karakter bunyi Amorphous.

Lalu, kehadiran Tandani Mutaqim aka Lord Daevas dari unit black metal Sethos sebagai vokalis tamu turut memberikan dimensi baru yang memperkuat karakter vokal dan intensitas emosional dalam komposisi ini.

“Kami menyebutnya gerbang kedua, setelah album pertama keluar,” ujar pihak band kepada MUSIKERAS.

“Lingkup dimensi dan energi selanjutnya dengan komposisi energi full personel,  menekankan untuk meracik api yang lebih besar dan sulit dipadamkan.”

Saat penggodokan komposisi serta aransemen “Under Black Blossom Trees” yang berdurasi enam menit 57 detik, Amorphous menegaskan tetap memegang teguh paham melodic black metal sebagai benang merah musiknya.

“Tentu saja masih di melodic black metal, (yang) dibalut dengan sentuhan orisinalitas kami sendiri sebagai identitas absolut.”

Seperti sudah disinggung di atas, peluncuran “Under Black Blossom Trees” merupakan langkah pemanasan menuju perilisan EP. Sejauh ini, Amorphous telah memulai proses produksinya.

“Kami sudah menulis part demi part dari mulai riff gitar dan lainnya. Semoga bisa rampung secepatnya tanpa kendala apa pun. Ditunggu saja.”

Lewat “Under Black Blossom Trees” yang diedarkan via Metalgear Music, Amorphous juga mempertegas komitmen mereka dalam mengeksplorasi black metal sebagai medium ekspresi konseptual dan emosional yang lebih luas.

Sejak terbentuk pada November 2022 lalu, Amorphous telah melahirkan beberapa karya rekaman.

Diawali demo “Immortal” (25 Desember 2022), lagu tunggal “Cursed Flames” (13 November 2023), album penuh “The Light Perish” (17 Agustus 2024) serta “Under Black Blossom Trees” (11 Maret 2026). (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
no8
Read More

NO8: Nadin Amizah Versi Modern Metal?

Fenomena band atau solois rock berkedok dan merahasiakan identitas aslinya mulai menjalar ke Indonesia. Salah satunya diadopsi NO8 yang berasal dari Bandung.