Suri kembali menunjukkan taringnya, dengan melepas karya baru berupa lagu rilisan tunggal bertajuk “Fractal”. Enam tahun sejak perilisan karya terakhirnya.
Kali ini, unit stoner rock kenamaan asal Jakarta ini diperkuat formasi baru, yakni vokalis dan gitaris Rito Alam Sini, beserta bassis Mazaya Ardelle dan dramer Reza Imaduddin.
“Fractal” masih terbilang kental akan nuansa stoner rock, yang menjadi identitas musik yang melekat di band ini, sejak terbentuk pada 2008 silam. Walau bagi Rito, formula itu tidak mutlak menjadi patokan utama.
“Sejujurnya kami tidak pernah terlalu memikirkan batasan genre. Banyak yang menyebut Suri sebagai stoner rock, dan kami tidak masalah dengan itu. Tapi kami tidak pernah sengaja membuat musik untuk memenuhi pakem genre tertentu,” tuturnya kepada MUSIKERAS.
Bahkan dalam proses peracikan komposisi serta aransemennya, Rito menegaskan bahwa referensi terbesar mereka secara musikal justru datang dari karya-karya Suri sendiri.
Khususnya dalam pengolahan “Fractal”, karena lagu itu memang berasal dari periode Suri sebelumnya.
“Kami hanya mencoba menyambungkan kembali benang merah yang sudah ada. Jadi bisa dibilang, referensi utama lagu ini adalah perjalanan musikal Suri itu sendiri.”
“Kalau pun akhirnya terdengar stoner, heavy blues, psychedelic atau bahkan ada nuansa lain, itu memang muncul secara alami dari proses bermusik kami.”
Siklus Hidup
“Fractal” sendiri menjadi medium Rito dalam mengeksplorasi eksistensialisme, siklus hidup yang monoton namun kacau, pergulatan melawan diri sendiri dan penerimaan terhadap penderitaan yang terus berulang.
Lagu tersebut bercerita tentang seseorang yang terjebak dalam siklus hidup yang berulang, kacau dan penuh pergulatan batin. Tetapi pada saat yang sama mulai menerima kekacauan itu sebagai bagian dari hidupnya.
“Dalam matematika, ‘fractal’ adalah pola yang terus berulang dalam bentuk berbeda,” kata Rito.
“Secara metaforis, lagu itu menggambarkan seseorang yang hidup dalam pola yang sama: masalah datang, ia bertarung, terluka, bangkit, lalu mengulanginya lagi tanpa tahu kapan akan berakhir.”
Diproduseri dan ditulis oleh Rito sendiri, “Fractal” didominasi lirik dan komposisi yang cukup lugas, tajam namun sentimental.
Namun alih-alih berfokus pada tujuan, “Fractal” seolah menggambarkan beauty in the struggle secara tersirat. Keindahan di tengah siklus bara api kekacauan yang harus dihadapi banyak orang tiap harinya.
Seperti pada bagian ‘…destinasiku berbisik, semua ini tak berarti’ yang menunjukkan krisis makna, seolah hidup terasa hampa dan tujuan hidup dipertanyakan.
Lalu berlanjut pada ‘…di setiap malam ku selalu bertempur menghadapi bayangan’ yang diartikan sebagai pertarungan melawan trauma, penyesalan, ketakutan atau pikiran-pikiran negatif yang terus menghantui.
Tapi yang menarik, pada bagian ‘…hayati, resapi dan nikmati di tengah api’, tokoh dalam lagu tidak lagi berusaha lari dari penderitaan.
Ia akhirnya memilih untuk menerima dan menjalani kekacauan itu, meski belum menemukan jalan keluar. Keputusasaan seolah merekah sebagai sebuah kekuatan, anugerah yang diterima sebagai hasil dari terjangan beribu cobaan yang dihadapi.
Mungkin, solusinya memang bukan dengan mengubah situasi menjadi semakin mudah, tetapi dengan menempa manusia menjadi semakin kuat.

Dust Cult
“Fractal” sendiri sebenarnya bukan lagu yang benar-benar baru. Menurut Rito, karya tersebut sudah mereka buat sejak lama, lalu sempat tersimpan begitu saja.
Saat membongkar kembali data-data dan bank materi lama, lagu ini pun ditemukan. Setelah didengarkan ulang, para personel Suri merasa justru sekarang adalah waktu yang tepat untuk merilisnya.
“Kami kemudian menyempurnakan beberapa bagian agar sesuai dengan karakter Suri hari ini sebelum akhirnya direkam.”
Sejak 24 Juli 2026 lalu, “Fractal” sudah dapat didengarkan di seluruh gerai musik digital. Lalu rencananya, pada 3 September 2026 mendatang, perilisan lagu tersebut bakal dirayakan dalam sebuah festival bernama “Dust Cult”.
Hajatan yang dijadwalkan bakal berlangsung di MBloc Livehouse, Jakarta Selatan tersebut merupakan sebagai perayaan kultur stoner rock yang menggabungkan musik, visual dan atmosfer menjadi satu pengalaman imersif.
Selain Suri, festival ini turut dimeriahkan oleh para penampil ternama yang tidak kalah menarik, yakni Seringai, Kelelawar Malam dan Matiasu.
Lalu secara paralel, Suri juga berencana untuk merilis album mini (EP) terbaru yang diharapkan bisa diluncurkan tahun ini. Sejauh ini, mereka sudah merampungkan sekitar 65% dari keseluruhan tahapan produksi.
Sebelum “Fractal”, Suri antara lain telah merilis sebuah album penuh bertajuk “Mothology” (1 Februari 2012), lalu EP “Kisah Kasih Lokalisasi” (2010) dan “Spacerider” (2012).
Sempat pula terlibat di proyek album split (29 September 2012) bersama Sigmun dan Jelaga serta merilis EP trilogi “Waham: Delusional”, “Waham: Paraphrenia” dan “Waham: Confabulation” (28 Februari 2019) yang bisa didengarkan di laman Bandcamp. (@mudya_mustamin/MK01)