YangStrong kembali luncurkan sebuah anthem yang menceritakan tentang perbedaan, persatuan dan harapan di tengah keberagaman. Misi itu dikobarkan lewat sebuah lagu rilisan tunggal bertajuk “Under Same Sun”.
Sebuah lagu yang membawa sebuah pesan yang sederhana namun mendalam: ‘kita mungkin berbeda, tetapi kita hidup di bawah matahari yang sama’.
Melalui liriknya, unit punk rock asal Jakarta Selatan ini menegaskan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk saling menjauh. Melainkan, sebuah kekuatan besar ketika kita memilih untuk berdiri bersama.
Penggarapan komposisi serta aransemen “Under Same Sun” dijalani vokalis dan bassis Fadlun Amir (Aconk), gitaris dan vokalis Amir Hamzah (Amir), gitaris Andi Abdillah (Andoi) dan drumer Iman Krisnayanda (Mendez) cukup cepat.
Mengalir begitu saja. Kira-kira hanya membutuhkan waktu selama satu sampai dua minggu.
“Secara kreatif, prosesnya benar-benar terpancing saat Mendez mendengarkan materi kasarnya. Ketika mendapat feel-nya dan Mendez melakukan take drum hari itu juga,” seru pihak band kepada MUSIKERAS mengungkap proses kreatifnya.
Dari ketukan drum itulah, lanjut mereka, rangkaian musik utuh “Under Same Sun” mulai terbentuk dan dikembangkan bersama-sama. Penggarapan rekamannya sendiri dieksekusi di Studio Off The Records.
Album Mini
Secara musikal, “Under Same Sun” dibalut dengan nuansa punk rock yang enerjik dan anthemic. Lagu ini secara khusus dirancang untuk menjadi pemicu sing-along di arena moshpit.
Bagian chorus yang sederhana namun dipenuhi teriakan lantang (gang vocals) menjadi sebuah ajakan langsung kepada para pendengar untuk menyuarakan persatuan.
“Ini memang menjadi ciri khas dan karakter dasar dari musik YangStrong,” seru band ini menegaskan.
“Kalau ditanya apa yang membedakan kami dengan band sejenis, mungkin letaknya ada pada fokus kami dalam menciptakan rasa kebersamaan tersebut.”
“Lagu ini tidak hanya untuk menciptakan moshpit, tapi kami ingin semua yang mendengar bisa menyatu, mengangkat tangan dan bernyanyi lepas bersama kami dari awal sampai akhir lagu.”

Dalam proses peracikan “Under Same Sun”, para personel YangStrong mengakui banyak mengambil pengaruh dari band-band mancanegara seperti The Briggs dan The Interrupters.
“Kami sangat menyukai bagaimana mereka membawakan musik punk yang sangat berenergi dan punya nada vokal yang gampang nempel di kepala, tapi secara keseluruhan lagunya tetap terasa di telinga dan melodis.”
Menurut band ini, elemen-elemen itulah yang dijadikan acuan utama, yang kemudian dilebur dengan karakter YangStrong sendiri agar tetap terasa orisinal.
Bagi YangStrong, keistimewaan utama dari musik punk yang mereka anut terletak pada kejujurannya. Punk mengajarkan mereka untuk tidak takut menjadi diri sendiri dan berani menunjukkan karakter asli. Terutama saat berada di atas panggung.
“Tantangannya justru ada pada bagaimana menjaga kemurnian itu. Baik saat di studio rekaman maupun saat tampil live. Tantangan terbesarnya adalah mentransfer energi tersebut tanpa terasa dibuat-buat atau terlalu banyak dipoles sampai kehilangan rasa naturalnya.”
“Kami sangat ingin benar-benar lepas menjadi YangStrong agar penonton bisa merasakan kebebasan yang sama.”
Usai merilis “Under Same Sun”, YangStrong selanjutnya mulai mengarahkan fokus ke penggodokan album mini (EP).
Sejauh ini mereka sedang dalam tahap mengoleksi dan menyusun ulang lagu-lagu YangStrong yang sebelumnya sudah tersebar dan dirilis di berbagai gerai pemutar musik digital.
“Materi-materi tersebut nantinya akan kami rangkum ke dalam satu kesatuan EP yang lebih solid dan terkonsep.”
Video musik “Under Same Sun” bisa ditonton via tautan kanal YouTube ini. (@mudya_mustamin/MK01)
