DRAG ME TO HELL: Bangkit Tanpa Kompromi

Usai masa vakum panjang, Drag Me To Hell gaungkan era baru sekaligus fondasi arah musikal terkininya, lewat album mini (EP) bertajuk “Reign of Tyranny”.
drag me
DRAG ME TO HELL

Drag Me To Hell akhirnya muncul ke permukaan dengan semangat kolektif untuk menciptakan musik keras yang jujur dan tanpa kompromi. Mereka kembali dengan energi baru dan visi yang semakin matang.

Vokalis Nicko Landa Kemala, gitaris Rizky Moro dan Fandi Moro, bassis Azhar Rinaldi serta drumer Adnan Zahry telah melampiaskannya lewat rilisan EP perdana bertajuk “Reign of Tyranny”.

Proses penulisan karya rekaman ini sebenarnya telah dimulai sejak lebih dari 10 tahun lalu. Bahkan sebelum band ini memutuskan vakum panjang pada 2014 silam.

Namun dalam perjalanannya, berbagai tantangan sempat menghambat perjalanan kreatif dari unit ekstrem asal Bogor, Jawa Barat bentukan 2009 silam ini.

“Beberapa materi lagu sempat mengendap karena berbagai kendala, mulai dari kesibukan personel di luar band hingga masa vakum panjang itu sendiri,” urai pihak band kepada MUSIKERAS.

Tapi jeda waktu itu, bagi Drag Me To Hell, justru menjadi berkah tersendiri. Membuat karya tersebut berevolusi menjadi komposisi yang lebih matang, berat dan emosional.

“Setiap kali materi dibuka kembali, komposisinya terus diasah ulang sampai jadi lebih matang, berat dan emosional dibanding versi awalnya.”

Eksekusi rekamannya sendiri digarap di beberapa studio berbeda. Isian drum di Rocky Music Studio (Bogor), lalu gitar di Venom Music Studio (Jakarta) dan Fathin Fawwaz Studio, serta vokal di Firdi Kraken Studio.

Alasannya? “Supaya tiap elemen dapat karakter suara paling maksimal,” cetus mereka menegaskan.

Non Distopia

EP “Reign of Tyranny” dipanaskan lima lagu yang saling terhubung dalam satu benang merah cerita tentang kekuasaan, pengkhianatan dan perlawanan.

Berbeda dibanding lirik metal bertema fiksi atau distopia, EP ini lebih menyoroti perjuangan melawan ketidakadilan yang mengekang manusia dalam kehidupan nyata.

Liriknya menggambarkan bagaimana kebebasan selalu memiliki harga, dan dalam banyak situasi hanya dapat diperoleh melalui keberanian serta perlawanan yang tidak bisa lagi dibungkam.

Setiap baitnya mengangkat tensi emosional yang terus meningkat, menggambarkan bagaimana tekanan yang begitu lama akhirnya meledak menjadi perlawanan tak terbendung.

Pesan tersebut menjadikan EP ini bukan hanya sekadar karya musik, tetapi juga deklarasi sikap.

Menegaskan inti dari karakter Drag Me To Hell yang selama ini dikenal sebagai unit cadas yang selalu membawa narasi kuat dalam setiap karyanya.

“Kami bicara soal perlawanan terhadap ketidakadilan yang nyata dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Jadi bukan cuma soal ‘seberapa berat’, tapi juga ‘seberapa jujur’ pesannya.”

drag me

Neo-Classical

Di sepanjang EP ini, Drag Me To Hell membangun aransemen dengan riff cepat dan nuansa melodik yang tetap mempertahankan karakter death metal yang agresif dan brutal.

Dentuman drum yang intens, komposisi dua gitar yang saling mengisi, serta dinamika bass yang harmonis menghadirkan suasana yang energik di setiap lagunya.

“Secara musikal, ‘Reign of Tyranny’ mengusung death metal yang tetap brutal di intensitas, tapi tidak melupakan sisi melodik riff cepat, dipadukan dengan komposisi dua gitar yang saling mengisi yang menjadi salah satu ciri khas musik kami.”

Ada beragam referensi yang sedikit banyak mereka serap dalam penggarapan komposisi serta aransemen lagu-lagu di “Reign of Tyranny”. Di antaranya dari rilisan awal Fleshgod Apocalypse, yakni “Oracles” (2009) serta EP “Mafia” (2010) sebagai acuan utama.

Lalu juga ada pengaruh dari Dream Theater yang menginspirasi isian melodi. Khususnya di lagu “Agony ov Void”. Kemudian juga dari At the Gates untuk sisi death metal klasik, sampai Van Halen dan Beethoven untuk pendekatan ritmik yang lebih ‘klasik’.

“Agony ov Void” juga sekaligus mereka sebut sebagai lagu yang paling menantang secara teknis saat mengeksekusi rekamannya.

“Karena kami mencoba memfusi tiga gaya musik berbeda jadi satu komposisi. Ada bagian pola riff yang terinspirasi dari Faceless, dipadukan dengan teknik vokal call and response ala musik blues, tapi dibawakan dengan cara metal.”

Lalu di bagian chorus yang menerapkan clean vocal, mereka menggebernya dengan suntikan nuansa ala Fleshgod Apocalypse, tapi tetap dengan karakter Drag Me To Hell sendiri.

“Sementara di bagian lead gitar, tanpa disadari ternyata kami terinspirasi dari neo-classical metal ala (gitaris) Yngwie Malmsteen, khususnya dari lagunya yang berjudul ‘Amber Dawn’.”

EP “Reign of Tyranny” resmi diluncurkan sebagai penanda kembalinya Drag Me To Hell ke garis depan skena death metal Indonesia. Dan kini sudah bisa dinikmati di seluruh gerai pemutar musik digital. Termasuk di kanal YouTube Music.  (@mudya_mustamin/MK01)

Susunan lagu:

  1. Imperial Abomination
  2. Paradigma Budak Khianat
  3. Ultima Penebus Dosa
  4. Delegation Against Tyranny (feat. Togar)
  5. Agony Ov Void
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
thornslug
Read More

THORNSLUG: Muntahan Kelam di EP Debut

Perkenalan Thornslug, baurkan tema-tema kelam seperti keputusasaan, nuansa thriller dan horor di album mini (EP) debut yang berdistorsi berat dan tebal.
the 1945
Read More

THE 1945: ​Lebih Berat di Lagu “Roboh”

Berkolaborasi dengan sutradara Tiara Azaria, The 1945 luncurkan visualisasi video musik untuk lagu terbarunya, “Roboh” yang sarat aroma nu metal.