HYPER: Bara Keserakahan di “Symphony of Greed”

Gambaran gelap tentang keserakahan manusia divisualkan Hyper lewat video musik “Symphony of Greed”, sebagai pemanasan menuju album mini (EP) “Karma”.
hyper
HYPER

HYPER menyongsong peluncuran EP terbarunya, dengan mengobarkan lagu baru, bertajuk “Symphony of Greed” dalam format video musik.

Kali ini, unit cadas asal Majalaya, Bandung, Jawa Barat ini tetap mempertahankan karakter musiknya yang berpijak pada paham persilangan metalcore dan groove metal, dengan energi agresif dan atmosfer yang kelam.

Namun di balik dentuman musiknya, “Symphony of Greed” memuat sebuah kritikan keras terhadap salah satu sisi gelap manusia: keserakahan!

Sebuah lagu yang berbicara tentang keinginan manusia untuk terus memiliki lebih banyak. Bahkan ketika apa yang dimiliki sebenarnya sudah lebih dari cukup.

Bagi band yang dihuni vokalis Adam Surya Abdilah, gitaris Luthfi Saadil Malik (Kuwil Malik) dan Fajar Fauzi Firdaus serta dramer Bobby Rezaldi Malik ini, keserakahan bukanlah sekadar keinginan untuk mendapatkan kekayaan.

Tetapi sebuah dorongan yang perlahan dapat menghancurkan manusia itu sendiri. “Keserakahan akan membuatmu menderita walaupun kau kenyang dan bahagia,” cetus mereka.

Pesan tersebut kemudian divisualisasikan lewat video musik, yang menggambarkan kisah seseorang yang terikat oleh uang sebagai konsekuensi dari korupsi dan mengambil hak orang lain.

Dalam video yang disutradarai sendiri oleh gitaris Kuwil Malik ini, uang tidak digambarkan semata-mata sebagai simbol kekayaan atau keberhasilan, melainkan sebagai sesuatu yang pada akhirnya berubah menjadi belenggu.

Melalui metafora tersebut, Hyper mencoba menggambarkan bagaimana seseorang dapat menjadi tawanan dari keserakahannya sendiri.

“Symphony of Greed” menjadi sebuah ajakan untuk mempertanyakan kembali batas antara kebutuhan dan keserakahan. Seberapa banyak yang sebenarnya kita butuhkan, dan kapan keinginan untuk memiliki berubah menjadi sesuatu yang mengendalikan hidup kita.

hyper

To the Point

Penggarapan “Symphony of Greed”, diungkapkan Hyper kepada MUSIKERAS, sebenarnya tidak terlalu berbeda dibanding proses kreatif yang diterapkan di pengerjaan album pertama.

Namun kali ini, mereka lebih mengeksplorasi segi produksi. Proses rekaman gitar dan dram dilakukan sebanyak empat sesi, yang dieksekusi di studio Fun House.

Mereka dibantu untuk hal teknis oleh Tatang Sumantri aka Zoteng (eks Forgotten) serta Hin Hin Agung Daryana aka Akew ( eks Beside/Nectura) untuk urusan eksplorasi sound.

Sementara di sesi rekaman vokal dan bass, mereka mengeksekusinya di Level Music Studio. Lalu dibungkus dengan polesan mixing dan mastering yang dipercayakan kepada Bonny Malik.

“Kami mencoba hal yang fresh dan lebih mengutamakan arah dan gaya musik ini. Kami serahkan kepada seseorang yang baru dan mempunyai visi yang senada dengan kami,” urai pihak Hyper tentang penunjukan Bonny.

Lebih jauh dalam penggarapan musiknya, bisa dibilang Hyper ingin menghindari formula yang seragam dengan sebagian besar band penganut metalcore saat ini. Salah satunya dengan mengombinasikannya dengan groove metal serta thrash metal.

“Di saat metalcore zaman sekarang terasa ‘template’ dengan super down-tuned dan rasa lagu dari satu band dengan band lain terasa sama. Metalcore yang kami mainkan lebih bergaya ‘ngebut, liar dan to the point’, yang sudah hampir jarang dimainkan oleh band-band metalcore masa kini.”

Untuk mendapatkan racikan yang berbeda, beberapa referensi dibaur ke dalam komposisi “Symphony of Greed”. Sebagian diserap dari monster metal senior macam Sepultura, Slayer hingga Exodus.

“Symphony Of Greed” merupakan nomor pembuka, pengantar menuju perilisan EP yang bertajuk “Karma”. Rencananya diluncurkan akhir bulan ini, atau awal Oktober mendatang.

Sebelumnya, band yang dibentuk pada 2017 ini sudah pernah merilis sebuah album penuh berjudul “Don’t Trust Anyone” pada 22 Juni 2024 lalu.

Saksikan video musik “Symphony of Greed” via tautan kanal YouTube Hyper Official 666 ini. (@mudya_mustamin/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
ioewyrm
Read More

IOEWYRM: Bangkitkan Metalcore Era 2009-2014

Di album mini (EP) “Act 1: From The Past”, IOEWYRM tak hanya bernostalgia, tapi menegaskan misi menghidupkan kembali spirit autentik metalcore.
510
Read More

510: Ide Liar dalam Konflik Spiritual

Layaknya tabir yang tak bisa diterka, 510 selalu memberikan kejutan. Kali ini lagu baru yang semakin eksploratif, sebagai bagian dari amunisi album baru.
superficialist
Read More

SUPERFICIALIST: Konsep Rock yang Tidak Biasa

Menggeliat di era pandemi, superficialist lalu mengalami pergantian formasi hingga akhirnya terbentuk konsep rock unik yang segera terabadikan dalam album.