THE KUDA: Lebih ‘Pemarah’ di Usia 17 Tahun

Kini, The Kuda memasuki usia ke-17 menggeliat di kubangan punk Indonesia. Terpicu keinginan untuk terus produktif, mereka pun meluncurkan maxi-single.
the kuda
THE KUDA

The Kuda meringkik lagi, hanya berselang lima bulan sejak meluncurkan lagu rilisan tunggal “Algojo”, yang tepatnya diperdengarkan pada 3 April 2026 lalu. Kali ini lewat rilisan empat lagu baru berformat maxi-single.

Masing-masing berjudul “Kesurupan”, “GANYANG”, “Perak” dan ”SARAP”.

Rilisan ini merupakan bagian dari rangkaian menuju peluncuran album penuh terbaru dari kuartet punk asal Kota Hujan Bogor, Jawa Barat ini, yang dijadwalkan rilis di awal 2027 mendatang.

Menurut vokalis Adipati (Pati), gitaris Andi Fauzi (Idam), bassis Gilang Gunawan (Ebel) dan dramer Iskandar Iklas (Otot), keputusan The Kuda untuk merilis maxi-single terlebih dahulu, adalah sebagai perkenalan.

Sebuah gambaran singkat sebelum pendengar disuguhkan album penuhnya secara keseluruhan.

“Kami ingin teman-teman yang akan mendengarkan album mendatang nggak ‘kaget’, jadi kami ingin ada perkenalan dulu,” cetus Ebel mewakili rekan-rekannya di band.

Di samping itu, ada pula alasan lain yang melatari dirilisnya maxi-single tersebut. Para personel The Kuda sadar, mereka harus lebih produktif sebagai sebuah unit musik.

“Nafas untuk menyuguhkan berbagai jenis karya akan semakin rutin, kami kayak dibikin produktif dengan pilihan kami tentang membagi album menjadi dua bagian,” urai Ebel lagi.

Penggarapan keempat lagu baru The Kuda dituturkan pihak band kepada MUSIKERAS, sebagai proses kreatif yang terbilang normal. Kurang lebih sama seperti band-band lainnya.

Dimulai dengan sesi saling bertukar pikiran, lalu saling memberi usulan referensi dari band-band yang mereka konsumsi akhir-akhir ini. Dari situ prosesnya pun berkembang secara organik.

Proses keseluruhan bahkan terbilang cukup cepat. Tahapan brainstorming hanya sekitar dua mingguan, semantara materi lagu dibuat sehari sebelum masuk rekaman.

“Malah ada yang dadakan banget dibuat di studio,” seru Ebel sambil tertawa.

the kuda

Bumbu Marah

Dari segi musikal, karakter dasar dari The Kuda masih menjadi andalan di karya rekaman terbaru ini. Seperti lagu “Jabber” yang termuat di album mini (EP) “Mistery Torpedo”, rilisan 24 Mei 2011 silam.

“Punk rock yang cepat, kasar, tanpa basa-basi. Bukan sekadar bagaimana caranya terdengar cepat dan berisik,” seru Pati meyakinkan.

Tapi yang membuatnya berbeda dibanding album sebelumnya, lanjut Pati lagi, adalah kehadiran permainan dram Otot. “Ini adalah album yang lebih ‘marah’ dibandingkan album-album sebelumnya.”

Sementara dari tahapan peracikan komposisi serta aransemen lagu-lagunya, mereka mengakui referensinya masih terjebak di punk dari era 70 hingga 80-an.

“Tapi lebih bebas di segi eksplorasi sound aja. Banyak hal baru yang jadi pembeda dari materi-materi The Kuda sebelumnya,” ujar Idam.

Juga ada pengalaman unik, dimana saat penggarapan lagu “Perak”, hasil akhirnya sangat berbeda jika dibandingkan dengan konsep awal. Bisa dibilang, beber Ebel, awalnya lebih santai terapan tempo serta dinamika musiknya.

“Tapi akhirnya kami ubah track itu di sela-sela proses mixing. Lumayan bikin repot operator rekaman. Akhirnya, gue dan Idam (juga) isi backing vocal yang akhirnya ada di final mix itu. Awalnya malah nggak ada backing vocal. Bisa bayangin ya sepinya… hahaha!”

Sejauh ini, progres penggarapan materi untuk album terbaru The Kuda sebenarnya sudah selesai semua dan berjalan lancar.

“Tinggal ‘bumbu-bumbu’ pra-rilis saja yang sedang diolah dan disusun penjadwalannya,” beber Otot memberi bocoran.

Maxi-single terbaru The Kuda sendiri dirilis bersama Disaster Records, label rekaman independen asal Bandung. Selain dalam format digital, rilisan itu juga akan diabadikan dalam format fisik berupa kaset pita dan beberapa merchandise spesial.

Bicara diskografi, deretan judul dan rilisan menumpuk rapi di katalog mereka selama 17 tahun perjalanan kariernya. Selain EP “Mistery Torpedo” dan lagu “Algojo” yang sudah disebutkan sebelumnya, The Kuda juga di antaranya telah merilis EP “Spectabillies” (1 Januari 2013) dan “Duka Kuda” (31 Mei 2014).

Juga album penuh bertajuk “Satu Aku Sejuta Kalian” (27 Februari 2018) dan “Butakala” (8 Juli 2023) serta beberapa rilisan lagu lepasan yang hadir di sela-sela perjalanan mereka. Sebagian besar bisa didengarkan di laman Bandcamp.

Lagu “Kesurupan”, “GANYANG”, “Perak” dan ”SARAP” sudah bisa didengarkan secara penuh sejak 4 September 2026 lalu di berbagai gerai pemutar musik digital. Termasuk di YouTube Music. (@mudya_mustamin/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
the 1945
Read More

THE 1945: ​Lebih Berat di Lagu “Roboh”

Berkolaborasi dengan sutradara Tiara Azaria, The 1945 luncurkan visualisasi video musik untuk lagu terbarunya, “Roboh” yang sarat aroma nu metal.
ioewyrm
Read More

IOEWYRM: Bangkitkan Metalcore Era 2009-2014

Di album mini (EP) “Act 1: From The Past”, IOEWYRM tak hanya bernostalgia, tapi menegaskan misi menghidupkan kembali spirit autentik metalcore.
510
Read More

510: Ide Liar dalam Konflik Spiritual

Layaknya tabir yang tak bisa diterka, 510 selalu memberikan kejutan. Kali ini lagu baru yang semakin eksploratif, sebagai bagian dari amunisi album baru.