KONSPIRASI Terpilih Mewakili Indonesia ke Amerika Serikat

Setelah Gugun Blues Shelter dan Free On Saturday (FOS), kali ini band grunge asal Jakarta, Konspirasi terpilih sebagai penampil terbaik di ajang “Hard Rock Rising Battle of the Bands” yang berlangsung semalam (23/5) di Hard Rock Cafe Jakarta. Band yang dihuni Che (vokal), Edwin Marshal (gitar), Romy Sophiaan (bass) dan Marcell Siahaan (dram) tersebut berhasil mengalahkan tiga pesaingnya, yakni V1mast, Monarki dan D’ark Legal Society.

Atas kemenangan tersebut, Konspirasi berhak mendapatkan sejumlah hadiah, di antaranya uang sebesar USD 1000 dan sekaligus mewakili Indonesia dan Asia di Hard Rock Stadium Miami, Florida, Amerika Serikat. Keempat finalis malam itu telah melewat proses panjang, di antaranya menjaring voters untuk bisa sampai ke panggung final.

Walau mendapat hasil undian tampil pertama, namun Konspirasi bisa langsung mendapatkan akselerasi yang meyakinkan di panggung. Di hadapan juri yang antara lain menghadirkan pengamat industri musik Aldo Sianturi serta produser musik Ali Akbar (mantan personel The Groove), Che dan rekan bandnya langsung tampil beringas lewat single terbaru, “Mantra Provokasi” dan lagu yang belum dirilis, “Dominasi”, serta “Dilema” dan “Melacak Jejak Purba” yang dicomot dari album debut “Teori Konspirasi”.

Salah satu faktor yang memenangkan Konspirasi, ungkap Aldo Sianturi kepada MUSIKERAS, adalah jam terbang panjang dalam dunia panggung. Ia bisa merasakan bahwa Konspirasi sangat siap untuk tampil di ajang final Hard Rock Rising 2017 karena ada proses latihan panjang yang mereka lakukan sebelumnya. Sehingga semua lagu dibawakan sempurna.

“Konspirasi memiliki attitude yang cukup baik dalam bermusik dan komitmen mereka terpancar dari paduan harmoni yang didasari oleh skill bermusik yang optimal. Dari empat kontestan yang saling mempresentasikan musiknya, Konspirasi memiliki jalan baru untuk menggapai medium lebih lebar dengan identitas aslinya.”

“Saya sangat bersyukur, satu langkah sudah berhasil dilewati Konspirasi untuk menuju Miami, USA,” seru Edwin Marshal kepada MUSIKERAS, penuh suka cita. Dari awal, ketika Marcell mendaftarkan Konspirasi untuk ikutan (lomba), Edwin dan personel Konspirasi lainnya tidak begitu memikirkan kemenangan. Mereka hanya ingin meramaikan. Dan bagi Edwin, ia ingin sekali sebuah band grunge bisa ikut meramaikan event Hard Rock Rising.

“Kebetulan juga, Konspirasi baru merilis single ‘Mantra Provokasi’, dan Hard Rock Rising dijadikan penampilan perdana untuk single tersebut. Jujur gue pribadi agak nggak nyaman ketika Konspirasi harus tampil sebagai peserta pertama. Tapi ternyata kami bisa tampil tenang, penuh kontrol dan tetap ‘keras’ seperti biasanya. Dan akhirnya kami menang. Alhamdulillah. Semoga semua proses lancar untuk Konspirasi menuju Miami. Mohon terus berikan doa dan dukungan terbaik dari ‘kaki tangan’ untuk Konspirasi.”

Lahirnya Konspirasi sendiri tergagas pada Oktober 2008 silam, yang berawal dari keinginan Edwin Marshal (gitaris band Cokelat) yang lalu mengajak mantan dramer Puppen yang juga lebih dikenal sebagai penyanyi pop solo, Marcell Siahaan untuk membentuk band berkarakter grunge. Inspirasi musiknya seputar Soundgarden, Alice in Chains, Stone Temple Pilots hingga Pearl Jam. Keduanya lantas melengkapi formasi dengan merekrut Denny Hidayat (bassis Perfect Minors) dan Candra “Che” Hendrawan Johan (vokalis Cupumanik) untuk bergabung. Namun saat menggarap album debut “Teori Konspirasi” pada 2012 silam, Romy Sophiaan (sekarang juga tergabung di band Omni) masuk mengisi posisi bass. (MK01)

.

1 comment
  1. Selamat Buat Konspirasi , Salah Satu Band Grunge Favorite Saya … Selamat Juga Atas Dirilisnya Single Terbarunya Mantra Provokasi , dengan Lirik Yang lantang melontarkan kritik pedas buat para Penjual Ayat-Ayat dengan Ambisi Kepentingan !!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
no8
Read More

NO8: Nadin Amizah Versi Modern Metal?

Fenomena band atau solois rock berkedok dan merahasiakan identitas aslinya mulai menjalar ke Indonesia. Salah satunya diadopsi NO8 yang berasal dari Bandung.