Dari Malang, unit grunge/alternative rock GUNS menyebut dirinya sebagai band yang sulit diatur dan pelawan arus. Identitas itu tergambar dari dua single yang sudah pernah mereka rilis, yakni “Melawan Arus” (Maret 2015), dimana mereka meneriakkan perlawanan terhadap tren musik EDM serta gaya hidup yang mulai semrawut, serta “Roda Dua” yang mereka ledakkan pada pertengahan 2016 sebagai ujud perlawanan agar perhatian tidak selalu terpusat pada ibu kota dan kota-kota besar lainya. Sebuah teriakan pertanda tak mau kalah. Kedua single tersebut berhasil menjadi gertakan serta kritikan pada masa itu, sekaligus membuka ruang untuk GUNS di skena musik Malang.

Baru-baru ini, tepatnya pada 21 Juni 2017 lalu, GUNS yang dihuni Alif (vokal), Eben (dram), Refo (gitar), Farhan (gitar), dan Eldy (bass) kembali lagi lewat single baru. Kali ini berjudul “Jennytalia” yang juga dilatari ide nyeleneh, yang lahir dari kombinasi akal sehat dan buaian beberapa botol anggur merah. Bermula dari ide untuk mengangkat tema sosok misterius yang diplesetkan.
“Setelah melakukan perdebatan tipis kami sepakat untuk mengangkat sosok wanita yang ada di khayalan kami berlima,” ulas pihak band kepada MUSIKERAS. “Kami sempat bingung untuk memberi nama apa yang cocok untuk wanita ini, lalu Alif, vokalis kami yang selalu sibuk dengan gadget-nya nyeletuk dengan suara yang sedikit mabuk ‘geni tal aja!’, yang berarti alat kelamin wanita. Sosok yang kami gambarkan ini memang identik dengan wanita malam yang kami anggap kurang menghargai dirinya sendiri, dan terlalu mementingkan hawa nafsu semata.”
Berangkat dari kelebatan ide khayalan itu, akhirnya judul pun diperhalus menjadi ‘Jennytalia’, atas masukan dari Refo. Proses penggarapan musik “Jennytalia” sendiri dimulai pada pertengahan Februari 2017, dan berlangsung lumayan singkat. Eksekusi rekamannya sendiri dilakukan di AA Studio yang terletak di Sawojajar, Malang. Di studio ini pula GUNS menggarap rekaman materi lagu lainnya, yang rencananya bakal mengisi album pertama untuk dirilis tahun ini juga.
Di lagu ‘Jennytalia’, GUNS lebih mengedepankan unsur-unsur grunge ‘90an yang terkesan gelap dan kotor. Sedangkan dari segi sound, mereka tetap bertahan dengan distorsi kotor dan suara vokal yg serak, dan sengaja tidak terlalu memoles aransemennya. “Kami lebih mengedepankan skill asli kami ketimbang terlalu banyak editing. Karena bagi kami, di situlah inti dari musik rock, bermain dengan bebas dan cenderung alami.”
Paham grunge/alternative sendiri sebenarnya tidak dikonsep secara sengaja oleh para personel GUNS. Yang mereka lakukan pada awal terbentuk di Malang pada awal 2015, adalah bermain musik dan jamming sekencang-kencangnya dan sebebas-bebasnya, tanpa merasa ada tekanan atau arahan dari siapapun.
“Sampai akhirnya setelah kami lakukan terus-menerus dan mulai berkarya, munculah anggapan dari beberapa teman kami bahwa musik yang kami mainkan cenderung masuk dalam genre grunge/alternative. Dari situlah kami mulai dicap sebagai band grunge/alternative. Padahal sebelumnya, kami berlima memang muncul dari basic (musik) yang berbeda-beda.”
Alip misalnya. Sebelum tergabung di GUNS, ia dulunya adalah seorang vokalis band hardcore. Begitu juga dengan Refo yang menjadi gitaris di sebuah band harcore. Lalu Farhan dan Edy, berangkat dari sebuah band punk rock. Dan yang terakhir, Eben, tadinya adalah seorang dramer jazz. Kelimanya lantas bergabung dan membiarkan aliran musik mereka terbentuk dengan sendirinya.
“Sebenarnya kami tidak pernah membatasi refrensi musik yang masing-masing kami dengarkan. Ya kalau bisa sebanyak-banyaknya justru lebih bagus. Tapi tetap ada yang kami jadikan benang merah untuk musik kami, beberapa band grunge era ‘90an seperti Nirvana pastinya, lalu Sonic Youth dan Soundgarden. Lalu untuk band lokal kami suka Besok Bubar, Cupumanik dan Navicula yang kami anggap sebagai orang-orang berjasa di dunia grunge Indonesia. Di luar itu kami juga suka menggabungkan antara musik-musik heavy metal, punk rock dan alternative, seperti Motorhead, Ramones, Sex Pistols dan Foo Fighters. Bagi kami, makin banyak referensi semakin memperkaya ide dan kreatifitas kami.” (MK01)
.