Dua tahun sejak merilis album studio ketiga “Anti Image”, unit metal Ibu Kota, Trendkill Cowboys Rebellion (TCR) akhirnya menelurkan karya rekaman baru hari ini, berupa single bertajuk “Ritual & Kriminal”. Lagu ini menjadi peluru pemanasan sebelum merilis album baru yang kini prosesnya sudah mencapai sekitar 65%.
“Ritual & Kriminal” sendiri menghadirkan kolaborasi apik dari formasi baru TCR, setelah proses pergantian selama dua tahun terakhir. Mereka adalah Will (vokal), Morris (gitar), Valentino (gitar), Gustav (dram) serta Yudha Permana (bass). Mereka mulai menggarap single serta materi lain untuk album keempat nanti sejak pertengahan 2016 lalu, namun sedikit terhambat dikarenakan adanya perubahan formasi tadi.

Diawali oleh dramer TCR sebelumnya, Dedi (Dechonk) yang lebih dulu mengundurkan diri karena kesulitan membagi waktu dengan tugasnya sebagai pemain perkusi di sanggar seni TMII. Posisinya lantas digantikan oleh Gustaf, mantan dramer band death metal asal Bekasi, Terjal. Tiga bulan setelah bergabungnya Gustaf, giliran pemain bass TCR sebelumnya, Daffi yang hengkang. Alasannya juga karena masalah pembagian waktu yang sulit, karena Daffi tercatat sebagai reporter di salah satu media di Jakarta.
Proses pembuatan materi lagu untuk album akhirnya dijalani dengan hanya menyisakan tiga personel, yaitu Will, Morris dan Gustaf. Ketika 60% materi sudah tergarap, TCR lantas mengajak Valentino (Terjal) dan Yudha Permana dari band thrash metal, Black Redemption untuk bergabung.
Proses rekaman “Ritual & Kriminal” sendiri dieksekusi TCR di studio milik pribadi. Sementara untuk mixing dan mastering dipercayakan pada Lukman Firdaus. Lagu “Ritual & Kriminal” dikemas dengan sangat simpel, tegas dan lugas mengikuti benang merah dari album-album sebelumnya. Mengangkat tema perihal paham radikalisme yang belakangan merebak di kalangan masyarakat dan kadang menimbulkan permasalahan komunikasi, baik dalam kehidupan nyata juga di kanal media sosial. Debat kusir yang tiada habisnya tersebut dirangkum dalam materi yang agresif berdurasi 2 menit 44 detik, yang digeber lewat kocokan riff gitar yang groovy.
“Kami tidak membutuhkan ambiance bertele-tele untuk menghasilkan materi yang lugas. Dari segi konsep musik, kami selalu suka dengan pencampuran Metal-Hardcore-Punk. Bagi kami, tiga poin tadi semacam wakil resmi dari image sebuah rebellion. Empat tahun terakhir kami selalu suka membuat materi yang tegas, straight to the point, simpel tapi tidak mengurangi bobot konten yang ingin disampaikan,” cetus pihak band kepada MUSIKERAS, tentang konsep musik “Ritual & Kriminal”.
Dalam urusan pengolahan musik, para personel TCR mengaku masih menempatkan unit metal asal AS, Pantera sebagai salah satu panutan yang tidak pernah berubah hingga hari ini. “Album Pantera, ‘The Great Southern Trendkill’ selalu kami jadikan kekaguman tersendiri.”
Tapi di luar itu, imajinasi musikal TCR sedikit banyak juga mendapat pengaruh dari jenis musik keras lainnya seperti The Exploited, Avskum, Totalitar, Anti Cimex, Machine Head, Vision Of Disorder, Stuck Mojo, Superjoint Ritual, Napalm Death, Down hingga Lynyrd Skynyrd.
“Di luar musik keras kami juga sering mendengarkan Jahnavi Horrison, Karnamrita Dasi, Ravi Shankar, Roman Chatolic Chants, Renaissance Music, sampai lagu-lagu ortodoks Kristen coptic/arabic seperti Khen Ephran dan St. Mark’s Choir Holiopolis.”
Segala macam referensi itulah yang mungkin tanpa mereka sadari meresap di proses penggarapan album baru mereka saat ini. Sehingga tak heran, proses kreativitasnya pun menjadi alot dengan bermunculannya ide segar yang lantas berujung pada proses revisi. “Hal yang paling membuat lama adalah revisi dan munculnya ide-ide segar baru yang akhirnya kadang membuat perombakan aransemen. Kadang membuat stres dan timbul ‘perkelahian’ secara internal. Tapi itulah hal yang paling menyenangkan untuk diulang setiap pembuatan album. Setiap album punya ceritanya sendiri.”
Trendkill Cowboys Rebellion terbentuk sejak 2005 silam, yang merupakan gabungan musisi dari band yang berbeda-beda. Dua tahun setelah terbentuk, TCR merilis album mini (EP) berisi enam lagu yang hanya diproduksi sebanyak 150 keping dan didistribusikan secara DIY (do it yourself). Pada 2011, album penuh pertama bertajuk “We Are Cowboys” dirilis di bawah label independen Strive Records. Setelah merilis album “Siapa Suruh Datang Jakarta” (2013 – Demajors), TCR berhasil masuk jajaran nominasi AMI Awards kategori Produksi Metal Terbaik lewat single “Sistem Proletariat”. Pada 2015, TCR merilis album ketiga, “Anti Image”, juga via label Demajors. (MK01)