Pengusung genre death grind asal Bandung, Murka siap memuntahkan album mini (EP) debutnya dalam beberapa pekan ke depan. Konsep album mini tersebut bakal berdiri di atas pondasi musik death metal yang ditetesi barisan lirik ala punk.
Selama proses penggarapannya, Negroz (gitar), Ikiss (vokal), Oyork (dram), dan Deana (bass) mengaku tidak mengikat diri pada satu genre musik. Meski begitu, musik berkontur death metal dan grindcore kerap menjadi santapan utama mereka. “Bisa dibilang, musik yang ditawarkan Murka ini berada di antara death metal dan grindcore, atau biasa disebut death grind,” ulas Negroz kepada MUSIKERAS.
Dua tahun, menjadi bukti nyata jika penggarapan album ini memakan waktu yang tidak sebentar. Semua terjadi lantaran mereka sempat terjebak dalam kubangan kendala seputar pemilihan label rekaman, sebelum akhirnya memutuskan untuk menggaet Hadeath Records – label rekaman asal Bandung yang menaungi band-band hardcore, death metal dan grindcore.
Dan seperti kebanyakan band metal lain, ide awal konsep musik yang bersemayam di album ini muncul tatkala mereka berkumpul bersama, melakukan sharing, yang lantas dituangkan ke dalam sebuah komposisi musik.
“Kami berusaha menonjolkan berbagai elemen. Baik dari sisi musik maupun lirik. Referensi musik kami dari metal sampai death metal. Kalau referensi lirik kami lebih ke punk,” cetus Ikiss menegaskan.
Proses penggarapan album mini ini sudah 60 persen. Di dalamnya, berjejer sebanyak lima trek yang judulnya terdiri dari gabungan bahasa Indonesia dan Sunda; “Jalma Jadi-jadian” (Manusia Jadi-jadian), “Ngimpi Diudag Kunti” (Mimpi Dikejar Kuntilanak), “Paduli Bagong” (sebuah ungkapan ketidakperdulian yang dalam bahasa Indonesia berarti; ‘peduli setan’), “Bejad”, dan “Pecinta Nafsu Dunia”. Tapi hingga kini, Murka belum mau membocorkan titel albumnya.
Pastinya, melalui album ini, Murka ingin menyampaikan sebuah pesan tentang perlawanan, pemberontakan, mencintai dan menghargai sesama. Menurut Negroz, liriknya tentang keseharian yang mereka alami dan jalani. “Seperti lagu ‘Pecinta Nafsu Dunia’, kami buat karena melihat keseharian manusia yang mendewakan harta, tahta dan wanita. Persaudaraan dan persahabatan hancur karena tiga faktor itu. Dan saya pernah mengalaminya!” (Riki)
.