EMDISI Siap Luncurkan “Subversif” dan ‘Selewengkan’ Grunge

Setelah merilis singel “Me, You and Satan” pada April 2017 lalu, unit heavy rock/grunge asal Bandung, Emdisi siap menggelontorkan singel baru, “Subversif” pada September mendatang. Lagu tersebut merupakan pemanasan sebelum Unay (gitar, vokal), Dochol (gitar) dan Abeng (dram) melontarkan album mini (EP) kedua yang hingga kini masih dirahasiakan judulnya.

Selain merilis singel baru, Emdisi juga akan merilis video klip dari “Me, You and Satan” yang hingga saat ini masih dalam proses penggarapan. Setelah semua rampung, Unay dkk akan melempar singel ketiga, “Stigma Tak Bermata” pada November 2017 sebelum kemudian merilis album mini berisi lima trek – plus sebuah trek bonus bertajuk “Sad” – satu bulan berselang.

Kepada MUSIKERAS, Unay mengungkapkan bahwa di dalam lagu “Subversif” terkandung barisan lirik yang menyuarakan ketidakpercayaan terhadap aparatur negara.  “Lagu ini banyak terinspirasi dari pergerakan para petani yang memertahankan lahan pertaniannya dari gempuran para pemodal yang dibekingi aparatur negara. Kebijakan mereka, sering tidak pro rakyat kecil.”

Sebagai sebuah band pengibar grunge, Emdisi justru menawarkan jenis musik yang sangat luas di dalam karya-karyanya. Peleburan berbagai sub-genre musik rock kerap menjadi suguhan menarik, seperti halnya saat “Sad” dirilis pada November 2016 lalu. Saat itu, khalayak rock Tanah Air dengan serta merta mencap mereka sebagai band beraliran stoner rock.

“Yang pasti, konsep musik yang akan ada di EP kedua bakalan berbeda baik dari segi lirik maupun musik. Dari segi musik kami bakalan lebih bereksplorasi dengan tidak menanggalkan identitas Emdisi. Bahkan ada yang bilang Emdisi itu band stoner rock. Karena memang di awal kami terbentuk kami mendengarkan berbagai jenis musik rock. Dan kami banyak terinspirasi oleh Alice in Chains dan Deftones,” lanjut Unay.

Ya, Emdisi tampaknya ingin keluar dari stigma musik grunge Indonesia yang selalu lekat dengan Nirvana, Soundgarden dan Pearl Jam. Dan dengan memiliki sikap ‘nyeleweng’ seperti ini, Unay dkk memiliki pasar yang lebih luas dalam urusan penampilan panggung. Mereka tidak jarang tampil di event metal dan bahkan saat menggelar tur Singapura-Malaysia tahun lalu mereka bermain di komunitas hardcore/punk. (Riki)

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
darksovls
Read More

DARKSOVLS: Energi Baru Usai Coki Hengkang

Sebagai lanjutan dari rilisan “Frustrasi Kolosal”, Darksovls kini melontarkan “Spektrum Kedap Cahaya”, menandai era baru yang lebih depresif.
dottland
Read More

DOTTLAND: Bukan D-Beat / Crust Punk yang Pakem

Unit d-beat crust punk Dottland (atau ditulis Döttland) akhirnya merilis album debutnya, “Negara Mati” sebagai ungkapan jujur dalam melihat realita saat ini.