Amunisi Baru TRENDKILL COWBOYS REBELLION

“Menggabungkan (lirik) satir dengan musik keras adalah senjata terkeren yang pernah diciptakan manusia dengan cara yang legal.”

Ungkapan sarat kebanggaan itu terlontar dari Trendkill Cowboys Rebellion (TCR), unit cadas asal Jakarta Timur yang telah malang-melintang di skena musik ekstrim independen Tanah Air sejak November 2005 silam. Walau sebagian orang menganggap membuat lagu perlawanan sudah tidak seksi lagi, namun formula tadi sampai saat ini masih dikibarkan dengan gagah oleh TCR, seperti yang tergurat jelas di single terbaru mereka, “Gnostic Manifesto”.

TCR yang kini diperkuat formasi Gustav (dram), Yudha Permana (bass), Valen (gitar), Ugie (gitar) dan Will (vokal) menyebut konsep musikal “Gnostic Manifesto” sangat enerjik, singkat, padat dan jelas. “Band ini sangat menyukai unsur metal, hardcore dan punk. Tiga perpaduan komposisi yang menurut kami memiliki sejarah yang panjang tentang makna ‘rebel’. Di lagu ini kami seperti membayangkan bagaimana (band-band seperti) The Exploited, Vision of Disorder dan Superjoint Ritual bermain bersama untuk berbagi peran,” papar pihak band kepada MUSIKERAS, menerangkan.

Sedikit berbeda dibanding karya-karya rekaman TCR sebelumnya, kali ini mereka cenderung menerapkan komposisi berdurasi singkat. Hanya 2 menit 9 detik. “Perbedaan paling signifikan adalah semakin hari kami semakin tidak suka memainkan lagu yang berdurasi panjang,” cetus mereka singkat.

Proses kreatif penggarapan “Gnostic Manifesto” sendiri, menurut pihak band terbilang panjang, karena mereka harus benar-benar mencari data yang menjadi pembenaran dalam ber-statement di lirik lagunya. Dan uniknya, dari situ justru membuat mereka kembali melihat hidup dari sisi spiritual.

“Lagu ini dibuat ketika ada fenomena dimana banyak sekali orang berdebat perihal ‘haram’ bermain musik, dan tidak jarang teman-teman kami sendiri juga ada yang ikut dan akhirnya memilih tidak berteman dengan mereka yang masih bermain musik. Bermain musik bagi kami justru adalah salah satu media yang menyelamatkan kami dan membuat kami tetap waras dalam menjalani realita kehidupan. Bermain musik membuat kami memiliki banyak teman, bermain hingga jauh dari rumah, memiliki banyak relasi dan berbisnis di dalam lingkaran industri tersebut. Kami tidak menyinggung individu atau lembaga yang berseberangan dengan hal ini, tapi jelas kami punya filosofi sendiri menyingkapinya.” 

TCR menggarap “Gnostic Manifesto” sejak 2018 lalu melalui proses jam session, seperti yang biasa mereka lakukan sebelumnya. Proses rekamannya dieksekusi di Bull’s Records Studio, home recording milik salah satu personel TCR. Lalu di tengah perjalanan, untuk kesekian kalinya, TCR kembali harus mengalami masalah klasik, yaitu pergantian personel.

“Gnostic Manifesto” yang sudah diedarkan via berbagai platform digital seperti Apple Music, Spotify, Deezer dan Joox sejak 27 Juli 2019 ini merupakan langkah awal untuk memperkenalkan materi-materi terbaru di album keempat  mereka nanti, yang diberi judul “Musica Peccatum (IV : VIII)”.

“Semua materi lagu sudah kami rekam. Ada delapan lagu, termasuk single ini. Beberapa lagu sudah memasuki tahap mixing dan mastering, namun kendala dilemanya adalah apakah masih akan merilis (format album) fisik. Realita fisik yang semakin ditinggalkan peminat adalah sebuah pertimbangan kami untuk mengambil keputusan di akhir tahun ini. Semoga rilisan fisik masih bisa kita nikmati untuk album keempat nanti.”

Sebelum single “Gnostic Manifesto”, TCR sudah merilis sebuah album mini (EP) “Tiff & Liberation Of Ego” (2007), serta tiga buah album penuh, yakni “We Are Cowboys” (2011), “Siapa Suruh Datang Jakarta” (2013) dan “Anti Image” (2015). Pada 2017, TCR sempat merilis single lepas bertajuk “Ritual dan Kriminal” yang diedarkan secara eksklusif melalui Majalah Rolling Stone Indonesia. (mdy/MK01)

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
dottland
Read More

DOTTLAND: Bukan D-Beat / Crust Punk yang Pakem

Unit d-beat crust punk Dottland (atau ditulis Döttland) akhirnya merilis album debutnya, “Negara Mati” sebagai ungkapan jujur dalam melihat realita saat ini.