Tiga perantau tulen dari Jawa Timur yang bertemu di Bandung dan bersekongkol membentuk unit grunge bernama Not Yet., kini akhirnya bisa berkoar lantang. Sebuah karya awal berupa album mini (EP) debut self-titled telah mereka luncurkan dalam format digital dan fisik sejak akhir Januari 2020 lalu.
Ada lima komposisi yang dituangkan Egie Eryanata Yusadhi (gitar/vokal), Krisno Suwono (bas/vokal utama), dan Variant Setya Gunawan (drum) di EP tersebut, yakni “Muslihat”, “Lagi²”, “320”, “Matahari” dan “Tergantung Tanah”, yang sebagian besar terdengar begitu mentah dan liar. Kurang lebih melebur grunge, metal dan punk rock, atau seolah mengombinasikan musik rock era ’90an seperti Nirvana, Soundgarden dan Rage Against the Machine (RATM), yang memang mereka akui memberi pengaruh terhadap konsep musikalitas di Not Yet.. Atau lebih jelasnya – seperti yang dituturkan di siaran pers resminya – musik Not Yet. secara keseluruhan juga digambarkan kadang terdengar seperti Seringai, jika saja band tersebut tumbuh besar di Potlot.
“Yang jelas kami banyak terinspirasi dari band-band macam RATM, Nirvana, Soundgarden, Descendent dan lain-lain. Dan dari segi penulisan lirik kami pun lebih lugas dan tegas dan tentunya enak buat diteriakkan,” seloroh pihak band kepada MUSIKERAS, mencoba menegaskan.
Not Yet. menjalani proses kreatif penggarapan “self titled” di Red Studio Bandung, yang mereka awali dengan pembuatan panduan (guide), lalu mencari-cari sound yang diinginkan di setiap instrumen, dan berakhir di proses mixing-mastering.
“Proses yang paling lama adalah saat take vokal, karena vokalis kami mengalami bengkak di leher gara-gara keseringan teriak. Proses rekaman tersebut memakan waktu sekitar 3-4 bulan dan total waktu kami menyelesaikan E.P ini sekitar tujuh bulan.”
Niat awalnya, “self-titled” ingin dilepas pada Oktober 2019 lalu, namun banyaknya kendala dan kebimbangan dalam hal perilisan akhirnya baru terealisasikan pada akhir Januari lalu, bertepatan dengan ulang tahun Not Yet. yang pertama.
“Pemilihan judul EP sendiri dibuat sama dengan nama band kami, karena menurut kami nama tersebutlah yang cocok untuk menjadi payung dari kelima lagu di album. Semua lagu tersebut ibarat anak bagi kami, dan isu-isu yang kami angkat di kelima lagu tersebut juga seputar kehidupan kami bertiga. Kami akan selalu bangga pada lagu-lagu kami meskipun itu kurang enak bagi orang lain, karena itu menjadi bagian dari proses perjalanan band ini.”
Di balik penggunaan nama Not Yet. sendiri cukup unik. Terkesan belum siap. Itu juga tergambar dari desain sampul EP debut mereka yang terlihat sangat polos. Padahal 2/3 personelnya adalah penempuh didikan seni rupa. Menurut para personelnya, sebenarnya mereka memang belum siap dengan kegiatan band ini. Entah itu serius atau bercanda. Namun yang jelas, Not Yet. menambahkan bahwa apa pun yang terjadi, mereka tidak akan pernah ‘selesai’. (aug/MK02)
.