SUFISM: “Kami Memanjakan Metalheads, Orgasme Sampai Klimaks!”

“Untuk referensi, sebenarnya kami mencoba untuk puasa mendengarkan death metal….”

Ya, kalimat di atas adalah penegasan dari Sufism berkaitan dengan proses kreatif mereka saat menggarap konsep musikal album debut, “Republik Rakyat Jelata” yang telah diletupkan secara sah via label cadas, Brutal Mind pada 13 Desember 2020 lalu.

Pokoknya, sambung unit brutal death metal bentukan April 2014 dari Cangkuang, Bandung ini lagi, karya rekaman kolektif mereka tersebut disuguhkan dengan konsep yang sederhana, tanpa basa-basi, padat dan jelas.

“Kami memanjakan metalhead, orgasme sampai klimaks dari awal sampai akhir lagu. Apa yang disuguhkan di album ini murni apa yang ada di kepala setiap personel, walaupun tidak menutup kemungkinan ada riff atau lick yang mungkin ada kemiripan dengan band-band death metal pada umumnya,” seru Sufism kepada MUSIKERAS.

Hampir dua tahun waktu yang dibutuhkan Nanang Rochayat (vokal), Sandi Rizal (gitar), Iman Firmansyah (bass) dan Ari Kurnia (dram) untuk bisa mengeksekusi proses rekaman “Republik Rakyat Jelata”. Dimulai pada awal 2018, yang lantas dicicil saat sela waktu senggang atau saat para personel libur. “Alhamdulillah, semua personel sudah mempunyai keluarga dan pekerjaan masing-masing.” 

Sepuluh nomor cadas yang menjadi amunisi di album debut tersebut, di antaranya seperti “Sayatan Nadi Takdir Kebencian”, “Munajat Bejad”, “Palastra”, “Syaithan” dan “Mufakat Jahat” direkam Sufism di Yeah Music Studio dengan bantuan Bimo untuk urusan teknis, serta Simon dari Sanwa Home Recording untuk pemolesan mixing dan mastering.

“Palastra”, disebut Sufism sebagai lagu yang mengejutkan sekaligus memuaskan buat mereka, karena berhasil digarap dadakan, hanya dalam waktu 30 menit di studio rekaman. Akan tetapi, masalah puas atau tidak puas bukanlah hal penting buat mereka. “Karena kami sebagai seniman tidak boleh puas dengan apa yang kita kerjakan atau hasilkan, karena kepuasan akan mematikan kita dalam berkarya.”

Di luar urusan produksi dan musikalitas, pemilihan desain sampul depan album fisik “Republik Rakyat Jelata” juga mengejutkan. Mengambil konsep yang berbeda jauh dengan pencitraan band death metal yang biasanya sarat darah dan kematian, kegelapan dan hal-hal horor. Tapi mereka, lewat sapuan tangan Aghy R. Purakusuma, justru menyodorkan pemandangan pedesaan yang hijau, asri dan damai.

Apa alasannya?

Refresh ada suasana berbeda di tengah pandemi yang tidak berkesudahan ini. Mengapa tidak, artwork sampul death metal mengangkat alam dan kearifan lokalnya. Lamunan atau imajinasi saya, bahwa kelak saya harus tinggal di sini, hidup damai tentram sentosa, bercocok tanam, menikmati hari tua jauh dari kebisingan duniawi,” ujar Nanang beralasan, sambil tertawa.   

Album “Republik Rakyat Jelata” kini sudah bisa dinikmati lewat rilisan fisik cakram padat (CD) atau via platform digital seperti Spotify, Apple Music dan Bandcamp. Sebelumnya, Sufism tercatat sudah pernah merilis album mini (EP) berjudul “Reptilia Buas” (2015) serta single “Kekasih Jiwa” (2016). (mdy/MK01)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
gabrielle
Read More

GABRIELLE: “Metal Menarik dan Seru!”

Usai terapkan elemen alternative/gothic rock di lagu debutnya, kini Gabrielle ‘pindah alam’ ke ranah metal ekstrem lewat album mini (EP) “Animals”.
lurruh
Read More

LURRUH: Wajah Lama, Kebrutalan Baru

Manifestasi kegagalan manusia dimuntahkan Lurruh di karya debutnya, “Heresi” yang mengeksplorasi formula metalik hardcore yang modern dan brutal.
repton
Read More

REPTON: Ingatkan Tragedi Kelam Mei ’98

Menyambut perilisan sebuah album split, Repton menyuarakan trauma kolektif dari Tragedi Mei 1998 silam dalam kobaran slam metal berbalut rap/DJ.
carousels
Read More

CAROUSELS: Metalcore, Synth, Saksofon!

Gagasan lama yang muncul di 2019 silam, akhirnya diwujudkan Carousels di lagu terbarunya. Mengombinasikan synthwave, metalcore dan saksofon!