Keberingasan WOLFBREATH Akhirnya Terlampiaskan di Album “Disintegrasi”

Setelah sekian lama diperjuangkan, akhirnya “Disintegrasi”, album debut milik pejuang hardcore asal Magelang, Jawa Tengah ini pun berhasil dirampungkan. Butuh waktu tiga tahun bagi Wolfbreath untuk mewujudkan karya rekaman tersebut, sejak terbentuk pada 2017 silam. Lumayan lama karena mereka memang menargetkan sebuah karya yang dieksekusi dengan kualitas baik dan layak untuk dipublikasikan. 

“Proses penggarapan album perdana kami lama karena proses perangkaian setiap instrumen yang sedikit agak susah, terutama vokal. Sehingga memerlukan kehati-hatian agar mampu menciptakan kualitas yang baik,” seru pihak band kepada MUSIKERAS, lebih mempertegas.

“Disintegrasi” sendiri dikemas sedemikian rupa, digeber dengan getaran hardcore yang mengombinasikan cabang aliran lainnya seperti metal, freestyle hardcore, slammming beatdown dan sejenisnya. 

.

.

“Referensi yang kami bawakan berasal dari berbagai band yang mainstream maupun yang tidak terlalu mainstream seperti, Nasty dan First Blood terutama, Slayer, CDC (Cyborg Death Camp), Knocked Loose, Seringai dan Providence.”

Rangkuman keberingasan itu menjadi pemantik lirik yang didominasi isu-isu sosial politik, mulai dari kasus-kasus perampasan lahan, korupsi, kebijakan kesewenang-wenangan, kekuasaan organisasi berkedok agama,  kasus kejahatan atau kriminalitas elit global dan sebagainya. 

“Oleh karena keadaan tersebut, kami pun menyampaikan keluh-kesah kami melalui alunan musik hardcore dengan mengombinasikannya dengan berbagai genre musik yang lain!”

Sebanyak tujuh komposisi – termasuk “Intro” dan “Outro” – menjadi amunisi berdaya ledak tinggi yang memanaskan “Disintegrasi”. Dan bagi Wolfbreath yang diperkuat formasi Vincentius Candra Krisantama (vokal), Petrus Dian Agus Nugroho (gitar), Ignatius Setyo Wiwoho (gitar), Muhammad Fikri Maulana (bass) dan Fidelis Kevin Aprilio (dram), hasil kerja keras serta kreativitas mereka, khususnya di lagu yang bertajuk “Disintegrasi” dan “Lawan”, menghasilkan kepuasaan tersendiri. 

“Kedua lagu tersebut yang menjadikan ciri khas bahwa lagu-lagu yang kami bawakan bernada berat dan agresif. Terlebih dari segi teknis lebih memuaskan, dan sesuai dengan ekspektasi,” cetus Wolfbreath meyakinkan.

Selain dalam format digital, album “Disintegrasi” juga diedarkan dalam bentuk rilisan fisik (CD). (aug/MK02)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *