Berbagai macam cobaan harus dilalui unit cadas asal Madiun, Jawa Timur ini saat menggodok album pertamanya, “Awaken Sanity”. Satu-satu personelnya hengkang, dan hanya menyisakan gitaris Yogi Awan Samudra, saat Imperforata sudah siap dengan materi album dan sudah berdiri di depan gerbang rekaman.
Materi “Awaken Sanity” mulai digarap pada 2017 oleh empat personel awal Imperforata, yakni Yogi, vokalis Fajar S. Wicaksono, dramer Danar Risky dan bassis Sofyan Ashari. Tapi pada 25 Maret 2018, kemelut di penggarapannya pun dimulai. Diawali Danar yang mengundurkan diri pada hari itu, lalu disusul Sofyan beberapa waktu kemudian. Dua personel yang tersisa akhirnya tetap berusaha optimis melanjutkan proses peracikan album, sambil mencari-cari personel pengganti.
“Namun (karena) kami tidak menemukannya, akhirnya saya dan Fajar sepakat ‘Awaken Sanity’ kami tangani berdua, mulai dari membuat pattern dram, bass, drum programming dan lain-lainnya. Dengan bermodalkan alat rekaman ala kadarnya, kami membuat guide bersama untuk meminimalisir waktu saat rekaman,” tutur Yogi kepada MUSIKERAS, mengenang prosesnya.
Pada Januari 2019, proses rekaman pun dimulai di Orvius Soundlab, Tulungagung. Yogi dan Fajar butuh waktu sekitar tiga bulan untuk merampungkan rekaman instrumentasi album. Namun di tengah jalan, tepatnya pada 16 Juli 2019, Fajar juga menyatakan pengunduran dirinya dari formasi Imperforata.
“Setengah putus asa, saya berusaha sekuat tenaga untuk tetap melanjutkan apa yang sudah Imperforata bangun sejak nol. Dan itu sudah menjadi komitmen kami sejak awal terbentuk, harus selalu tetap berkarya. Singkat cerita, saya gerak cepat mencari pengganti Fajar, namun ternyata nggak segampang itu. Padahal semua materi album sudah siap, saya sempat putus asa dan berfikiran untuk mengisi sendiri bagian vokal. Bodoh amat, walaupun saya sama sekali nggak bisa growl, apalagi scream, hahaha.”
.
.
Untungnya, angin segar datang di 2020, ketika Yogi mengajak Priwaluyo dari band death metal asal Surabaya, Unscarred untuk mengeksekusi lini vokal “Awaken Sanity”. Gayung bersambut, pada Februari 2020, Waluyo resmi bergabung.
Tapi drama belum usai sampai di situ. Masalah berikutnya datang, dimana data lirik dan judul lagu “Awaken Sanity” hilang. Akhirnya, dengan bantuan Arga Kurnia Permadi, 70% lirik di album tersebut berhasil dibuat ulang, plus bantuan lirik sisanya dari Yunior Efraim serta dari vokalis Waluyo sendiri. Khususnya di lagu bertajuk“Evil Breath”.
Pada pertengahan 2020, rekaman vokal dilakukan di Brutal Sick Alliance milik Aditya Prakoso (Gerogot). Sementara untuk isian bass dan dram diprogram sendiri oleh Yogi, plus bantuan dari Febri (Orvius Soundlab) untuk revisi pola isian dram. Febri juga sekaligus membantu eksekusi isian solo gitar di trek “Awaken Sanity”. Terakhir, pemolesan mixing dan mastering yang dipercayakan kepada Komeng di Texas Sick Soundlab.
Ketika Imperforata terbentuk pada 2015 silam, garapan musik mereka sempat terfokus pada nuansa brutal slam, yang mereka terapkan di promo demo “Rotten Corpse Slaughter Waste” yang berisikan dua track. Namun setahun kemudian, konsep itu mengalami pergeseran. Saat merilis album mini (EP) “Immortal Untreated” (Dismembered Records) yang beramunisikan lima lagu, nuansa brutal death metal mulai mendominasi. Kini, lewat “Awaken Sanity” yang disesaki delapan komposisi beringas, Imperforata menegaskan diri melabeli konsep musiknya di jalur death metal saja. Konsep ini sudah mereka rintis sejak merilis single “Possessed” pada 2017 lalu.
“Dari promo demo ‘Rotten Corpse Slaughter Waste’ sampai single ‘Possessed’, Imperforata mengalami banyak hal, mulai dari pencarian sampai pendewasaan bermusik, mulai dari brutal slam, brutal death metal hingga death metal, dan saya lebih condong dan tertarik pada death metal. Sebenarnya tidak ada alasan spesifik kenapa Imperforata memilih death metal atau pun memainkan death metal. Bukankah kenyamanan adalah kunci dari segala hal? (Jadi) Ngalir aja,” urai Yogi lagi, meyakinkan.
Untuk referensi musik, seperti halnya band-band death metal lainnya, Yogi menyebut Imperforata banyak menyerap vitamin dari para pelaku legendaris dunia seperti Malevolent Creation, Monstrosity, Obituary, Pestilence, Suffocation, Deeds of Flesh, Dark Funeral dan terutama, Death.
“Tapi Imperforata sama sekali bukan band old-school death metal. Hanya kebetulan saja pada waktu itu saya lagi seneng-senengnya dengerin death metal ‘90an!”
“Awaken Sanity” kini sudah diedarkan oleh Dismembered Records dalam format cakram padat (CD) serta format digital streaming via Bandcamp. (mdy/MK01)