30 Tahun “Power One”: “Ini Album Pencarian Jati Diri!”

“Power One”, bisa dibilang lahir di era ketika band-band berpaham rock, hard rock hingga heavy metal di Tanah Air masih marak meniru para band dunia panutannya. Tidak sedikit yang mengandalkan cover version dari lagu-lagu band mancanegara, dieksekusi semirip mungkin saat beraksi di atas panggung. Dan formula ini, biasanya memang mendapat sambutan yang meriah. Semakin mirip versi aslinya, semakin digilai penonton.  

Power Metal tak terkecuali. Dua tahun geliat awal karirnya, aksi panggung grup asal Surabaya ini didominasi pentas yang mengandalkan nomor-nomor keras berbahasa Inggris yang bertempo gesit, di antaranya milik Helloween, Loudness hingga Yngwie Malmsteen. Namun talenta besar para personelnya memang sudah menjanjikan. Pada 1987, band yang awalnya masih menggunakan nama Power – tanpa embel-embel ‘metal’ di belakangnya – langsung menyabet juara terbaik di sebuah festival rock remaja se-Jawa Timur, yang digelar di Lumajang. Lalu tahun berikutnya, prestasi itu dipertajam dengan merebut gelar juara pertama di Festival Rock se-Jawa di Kediri.

Adalah Festival Rock se-Indonesia V gelaran promoter Log Zhelebour pada 1989 yang menjadi pembuka jalan bagi Power Metal ke tangga ketenaran. Mereka – yang saat itu diperkuat formasi Pungky Deaz (vokal), Ipunk (gitar), Hendrix Sanada (bass), Raymond Ariasz (kibord) dan Muggix Adam (dram) – berhasil merebut juara pertama, mengalahkan pesaing beratnya; Roxx (Jakarta) dan Andromedha (Surabaya). Di festival itu sendiri pertama kalinya diterapkan para band peserta wajib membawakan lagu karya sendiri.

Sebagai hadiah kemenangannya, karya lagu Power Metal yang bertajuk “Malapetaka” pun menghiasi album kompilasi “10 Finalis Festival Rock se-Indonesia V” (1990). Di tahun yang sama, mereka juga terpilih menjadi salah satu band pembuka tur promo album “Raksasa” milik band rock senior, God Bless. Namun saat persiapan tur 10 kota tersebut, sempat terjadi perombakan formasi. Pungky Deaz mendadak hengkang dan memilih bergabung dengan Andromedha. Disusul Hendrix Sanada yang juga ikut pamit. 

Power Metal mau tidak mau harus gerak cepat mencari pengganti. Arul Efansyah dari Big Boys (Banjarmasin) yang meraih gelar vokalis terbaik di ajang Festival Rock se-Indonesia V langsung dibidik. Keberuntungan rupanya kembali memihak band ini. Arul setuju untuk bergabung. Sementara di posisi bass, untuk kebutuhan tur Power Metal akhirnya dibantu oleh Roy Reynaldi (Oracle) dan Didieth Sakhsana (Big Panzer).

Saat hiruk pikuk tur rampung, datanglah tawaran rekaman dari Log Zhelebour. Power Metal dengan formasi Ipunk, Arul, Raymond dan Muggix lantas ‘diasingkan’ ke sebuah vila di kawasan Malang, Jawa Timur untuk menggodok materi album debut, “Power One”. Mereka juga mengajak Prass Hadi dari band Pelni yang setuju membantu pengisian bass di rekaman.

Persiapan yang cukup matang, membuat proses rekaman yang berlangsung di studio Syailendra, Jakarta berjalan mulus. Pada 1991, “Power One” pun dirilis di bawah bendera Logiss Records. Karya tersebut langsung melesatkan nama Power Metal di skena rock nasional, dan berhasil mengorbitkan beberapa anthem anak metal era itu, di antaranya seperti “Angkara”, “Satu Jiwa”, “Cita yang Tersita”, “Pengakuan” yang merupakan karya Donny Fattah (bassis God Bless) serta “Malapetaka”, yang kembali direkam ulang dengan isian vokal Arul Efansyah.

Bagi Ipunk yang melakukan obrolan tertulis dengan MUSIKERAS, “Power One” adalah pengalaman pertamanya menggarap album rekaman yang sangat berkesan.

“Musikalitas di album ‘Power One’ memang terkesan jadul, karena itu adalah pengalaman pertama saya dalam proses pembuatan album. Akan tetapi, dari pengalaman pertama itu akhirnya saya banyak belajar dan berbenah,” ujar Ipunk mengenang.

Bahkan Ipunk juga tidak menampik beberapa kritikan yang menuding terapan komposisi di album tersebut di sana-sini banyak menyerap lagu-lagu rock mancanegara. “Itu benar, karena album ‘Power One’ adalah pengalaman pertama kami dalam mencari jati diri,” cetusnya.

Lagu “Cita yang Tersita”, “Persia”, “Angkara”, “Malapetaka”, “Satu Jiwa” dan “Mas & Mis Merozoth” disebut Ipunk sebagai karya favoritnya dari album tersebut, dimana ia merasa berhasil menempatkan riff gitar dan beberapa harmoni notasi yang bisa membuat lagunya menjadi terdengar lebih hidup. 

Kini, “Power One” genap berusia tiga dekade. Terlepas dari segala kelebihan dan kekurangannya, album tersebut tetap menjadi salah satu karya rekaman rock terbaik yang pernah lahir di Indonesia. “Ini adalah album masterpiece, yang masih didengarkan pecinta musik metal sampai hari ini,” seru Log Zhelebour lewat tuturan kisahnya di kanal YouTube.

Getar kesuksesan “Power One” konon tidak hanya sebatas lingkup pendengar di Indonesia, tapi juga menembus batas negara hingga ke negeri jiran, Malaysia. Lalu penjualan kasetnya saat itu, menyentuh angka cukup fantastis untuk ukuran sebuah band cadas, yakni lebih dari 300.000 keping. Prestasi yang sebelumnya baru bisa diraih album “Semut Hitam” milik God Bless. Dan yang paling membanggakan, “Power One” juga membawa nama Power Metal meraih penghargaan bergengsi sebagai Pendatang Baru Terbaik di BASF Awards 1991. (mudya mustamin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *