Eksklusif: DUL JAELANI Siapkan Album Debut QODIR, Unit Grunge yang Eksperimental

Dul Jaelani merambah grunge?

Ya, kenapa tidak? Jangan salah. Kendati memang namanya belakangan lebih ‘harum’ di ranah pop (baca: mainstream), tapi grunge bisa dikatakan merupakan cinta sejati Dul. Bahkan pada Maret 2013 silam, musisi bernama lengkap Ahmad Abdul Qodir Jaelani ini pernah membentuk Backdoor, band grunge yang sangat terpengaruh keliaran musik dewa grunge dunia, Nirvana. Saat itu, Dul baru berusia 13 tahun. Lalu setahun setelah terbentuk, Backdoor berhasil merilis album debut berjudul “Sip Sip Sip”, dimana hampir keseluruhan lagunya lahir dari tangan Dul sendiri.

Ya, Qodir merupakan kelanjutan nyawa dari Backdoor yang vakum sejak 2016. Kali ini dengan formasi berbeda, dimana Dul yang berperan sebagai vokalis dan bassis diperkuat juga oleh Muhammad Xaviar di gitar serta Akselza Trigaskara a.k.a. Axel CB di balik perangkat dram. Mereka bertiga sekaligus melakukan penyegaran di konsep musik Qodir. Tidak lagi terfokus pada corak grunge yang standar, melainkan dieksekusi dengan pendekatan yang jauh lebih eksploratif dan eksperimental.

“Ini adalah genre baru dalam grunge,” cetus Dul kepada MUSIKERAS, meyakinkan.

Dul berani melontarkan pernyataan itu karena menurutnya, memang garapan musik yang ia lampiaskan di Qodir benar-benar dibiarkan lepas sebebas mungkin. Tanpa pagar, dan sama sekali tidak memikirkan harus terdengar komersil. “Garis besar tetap Seattle sound, tapi lebih psychedelic, ada stoner, blues, ada brass section, string bahkan gambus. Pokoknya beyond genre,” seru Dul lagi, semangat.

Saat ini, Dul, Xaviar dan Axel sudah merampungkan tahapan workshop dan bakal segera menyiapkan eksekusi rekaman untuk album debut Qodir, yang rencananya bakal disesaki sembilan atau 10 komposisi lagu. Sebagai bocoran, di antaranya akan ada versi daur ulang “Cakrawala”, dari single solo Dul Jaelani yang bakal diaransemen kembali ke format komposisi yang lebih idealis. Kemudian ada lagu berjudul “Aku Butuh Dia” yang berdurasi tujuh menit dengan bauran elemen blues, stoner, serta liukan tiupan saksofon. Satu lagu lagi yang menurut Dul juga sangat kental akan nafas eksplorasi adalah “Sakral” yang bahkan berdurasi hampir sembilan menit. Lagu inilah yang melibatkan instrumentasi gitar gambus atau Oud yang dipadukan dengan kedinamisan rock. Di sini, Dul khusus menghadirkan permainan apik dari Syech Razie Ali Maula Dawilah, musisi asal Indonesia yang sementara ini bermukim di Dubai.

“Setiap latihan aku merasakan kebahagian yang nggak dirasakan di tempat lain. Musiknya benar-benar bebas. Kalau di pop kan (biasanya) ada arahan label, kadang kurang enjoy. Di Qodir bebas merdeka.”  

Musik rock memang bukan sesuatu yang asing di kuping Dul. Sejak kecil, genre ini sudah menari-nari di pendengarannya. Selain dari ayahnya, Ahmad Dhani yang dikenal sebagai motor utama band Dewa 19, Dul juga kerap mendapat asupan rock dari sang paman, Think Morison lewat koleksi piringan hitamnya. Sebagian besar yang didengarkan Dul adalah rock dari era pertengahan ‘60 hingga ‘70an. 

“Aku nggak masuk sama rock ‘80an. Kebanyakan yang aku dengerin musik era ‘70an seperti David Bowie, Elton John, Emerson Lake & Palmer (ELP), Queen sampai Pink Floyd. Aku ingat pamanku ngomong, ‘Nggak ada musik yang ngalahin era ‘70an.’ Aku percaya itu, karena memang sangat kaya harmoni,” urai Dul.

Makanya, salah satu pemicu bagi Dul untuk kembali membentuk band karena ingin kembali membangkitkan semangat memainkan rock. Putra bungsu yang lahir dari pasangan Ahmad Dhani dan penyanyi Maia Estianty ini merasa selama ini, berkiprah di ranah pop tidak terlalu mewakili hati nuraninya. “Di pop saya ingin menjadi penulis lagu, atau memainkan instrumen aja, bukan sebagai penyanyi,” cetusnya. 

Di Qodir, Dul mendapatkan rekan band yang sangat memenuhi kualitas yang diinginkannya. Xaviar dan Axel juga penyantap rock. Referensi keduanya terentang luas, mulai dari Stone Temple Pilots, Silverchair, Fugazi, Radiohead, Temple of the Dog, Deep Purple, Led Zeppelin, Rush, Queen, The Beatles, Dream Theater hingga pahlawan lokal macam The SIGIT dan Kelompok Penerbang Roket. 

Tapi yang membuat musik Qodir istimewa, karena di mata Xaviar dan Axel sosok Dul memang terbilang unik. Bahkan cenderung ‘absurd’. “Misalnya lagi rekaman, menurutku ada permainanku yang nggak enak, malah bagus menurut dia,” kata Xaviar memberi contoh. Namun terlepas dari itu, Axel yang merupakan keponakan dari penyanyi senior Atiek CB ini menyebut pengalaman menggarap lagu di Qodir telah memberinya pengalaman baru yang unik. “Aku banyak dicekokin musik-musik yang belum pernah aku denger. Exciting!”

Sementara bagi Dul, ia menyebut Xaviar sebagai ‘soulmate’, yang sangat mengerti kemauannya dalam mengeksekusi ide-ide musikal. “Kalo aku nemu riff dia udah tahu apa yang aku mau. Kayak orang nyanyi ada ‘soul’nya. Terus (permainan) Axel juga ‘nyawa’nya nyampe. Banyak dramer jago tapi nggak ada nyawanya.”

Bagi Dul, membentuk Qodir adalah impian yang selalu ingin ia wujudkan selama ini. Band yang bisa membangkitkan kegairahan rock. Karena baginya, membentuk band itu seperti melakukan ibadah sholat, lebih baik jika dilakukan secara berjamaah.  

Untuk album debut Qodir sendiri, sementara ini akan terus ‘dimasak’ hingga menemukan momentum yang tepat untuk merilisnya. Dan pastinya, Dul ingin album Qodir tersebut nantinya juga diedarkan dalam format fisik. “Karena aku pengen ada legacy (warisan).”

Ya, sebuah karya album yang layak kita tunggu! Tapi sebelumnya, simak video lagu “Cakrawala” versi solo Dul Jaelani di bawah ini sebagai teaser. (mdy/MK01)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *