FLEURO Kembali Kobarkan Shoegaze di Single “Float Away”

Shoegaze adalah salah satu sub-genre dalam musik keras yang cukup banyak penganut serta pemujanya di Tanah Air. Salah satunya menggeliat dari Surabaya, Jawa Timur ini, seiring dengan maraknya bermunculan band alternative rock era ’90an yang meraungkan garage rock, grunge hingga shoegaze di tiap sudut kota.

Fleuro yang baru terbentuk pada 2019 lalu menganyam benang merah musiknya dari pengaruh band-band mancanegara seperti My Bloody Valentine hingga yang berkonsep lebih modern seperti Nothing. Seperti yang telah mereka tancapkan di single “Dead End” yang dirilis tahun lalu, serta yang terbaru, “Float Away”. Dua buah single dengan tema lirik yang saling hubungan, yakni seputar romansa masa muda yang mengalami kegagalan, kemarahan dan penolakan. 

Sejak awal, Fleuro dan shoegaze bisa dibilang merupakan kesatuan. Dipicu keinginan gitaris Jonathan Satriyo yang ingin sekali membentuk band beraliran shoegaze. Lalu ia mengajak bassis dari band Radlads, yakni Yonatan ‘Ashor’ Christie dan terbentuklah Fleuro. Saat merilis “Dead End” pada November 2020, formasinya masih diperkuat oleh dramer Zikri dari Seven to Sky dan vokalis Amoretta.

.

.

Terapan shoegaze di single Fleuro, khususnya di lagu “Float Away” banyak menerapkan suara gitar berkarakter fuzz dan reverb a la My Bloody Valentine (Inggris). Juga ada pengaruh-pengaruh dari band asal Amerika Serikat sejenis macam Title Fight, Nothing dan Whirr. Sementara Ashor sangat menyukai band Jepang bernama Tricot.

“Mungkin ciri yang membedakan kami (dibanding band-band sejenis) dalam mengusung genre shoegaze adalah campuran doom, emo, ambience, nu metal layaknya riff-riff Deftones dan Noise. Di album baru yang akan kami garap, kami akan mencoba mengombinasikan semua unsur tersebut tanpa meninggalkan kesan kami sebagai band shoegaze,” seru pihak band kepada MUSIKERAS, memperjelas konsepnya.


Single “Float Away” direkam Fleuro bersama Artefakt Records di Studio Dua Tuju pada tahun lalu, sementara pemolesan mixing dan mastering dipercayakan kepada Ando Loekito. Fleuro – yang kini juga dihuni Gemilang Surya (gitar), Ferry (dram) dari band Timeless serta Indy Sellen (vokalis tambahan) – juga bekerja sama dengan LoverMan Records untuk memproduksi rilisan fisik single tersebut dalam format cakram padat.

Setelah perilisan “Float Away”, langkah Fleuro selanjutnya adalah bergegas merampungkan album mini (EP) yang sudah lama mereka tabung materinya. Rencananya bisa segera dirilis tahun depan. “Progres-nya mungkin masih 20%,  hahaha… tapi insyaallah akan kami selesaikan di tahun depan. Kami mencoba mengeksplorasi beberapa sound yang unik!”

“Float Away” saat ini bisa didengarkan melalui kanal digital streaming seperti Spotify, iTunes, Deezer, dan Bandcamp. (aug/MK02)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
darksovls
Read More

DARKSOVLS: Energi Baru Usai Coki Hengkang

Sebagai lanjutan dari rilisan “Frustrasi Kolosal”, Darksovls kini melontarkan “Spektrum Kedap Cahaya”, menandai era baru yang lebih depresif.
dottland
Read More

DOTTLAND: Bukan D-Beat / Crust Punk yang Pakem

Unit d-beat crust punk Dottland (atau ditulis Döttland) akhirnya merilis album debutnya, “Negara Mati” sebagai ungkapan jujur dalam melihat realita saat ini.