Tertunda 15 Tahun, BUNG SEBASTIAN Rilis EP yang ‘Jantan’

Rejeki setiap manusia berbeda-beda. Begitu juga dalam skena permusikan. Ada musisi yang dengan mudahnya bisa rekaman lalu merilisnya. Namun ada juga yang harus melewati berbagai kendala untuk bisa mewujudkannya. Salah satunya band keras asal Jakarta ini. Album mini (EP) mereka yang bertajuk sama dengan nama bandnya, “Bung Sebastian” baru bisa diperdengarkan ke publik secara resmi setelah 15 tahun penantian!

Lantaran terpinggirkan oleh kesibukan Bayu Agung Hartanto (dram), Erwin Nova Rinaldi (gitar), Hery Desha (gitar), Harry ‘Zabur’ Susanto (bass) dan Lukman ‘Ibenk’ Hakim (vokal), EP yang produksi rekamannya digarap di studio K, Pondok Gede pada periode 2005-2006 silam tersebut nyaris tak terjamah. “Karena kesibukan masing-masing personel saat EP telah dirampungkan, rencana rilis dan promo terpaksa ditunda dan baru bisa diwujudkan setelah 15 tahun,” ujar pihak Bung Sebastian kepada MUSIKERAS, menegaskan alasannya.

Namun ada satu hal yang istimewa di EP yang beramunisikan lagu “Tengok!”, “Proses Pembusukan Otak”, “Sensitif” dan “Provokator” tersebut. Ketika EP dalam proses penggarapan, teknologi rekaman di Tanah Air sedang di persimpangan, berada di era peralihan industri rekaman dari teknologi analog ke digital, dan Bung Sebastian beruntung masih merasakan proses rekaman analog untuk EP mereka ini.

Matri lagu yang termuat di EP “Bung Sebastian” terlebih dahulu digodok di studio Baskara, di bilangan Pasar Minggu, di sela-sela jadwal manggung Bung Sebastian yang cukup padat saat itu. Pendanaan produksinya didapat dari hasil memenangkan beberapa kali festival musik serta juga sebagian dari honor manggung. Latar belakang musik masing-masing personel yang sangat beragam ternyata menghasilkan ramuan materi album yang cukup menarik dan tidak biasa. Setelah beberapa kali jam session merampungkan empat lagu, akhirnya Bung Sebastian mulai masuk studio rekaman.

.

.

“Konsep awal musik Bung Sebastian adalah metal/hardcore yang easy listening. Dalam setiap lagu terdapat nuansa musik lain yang cukup kontras, seperti funk, grunge dan blues, yang merupakan manifestasi dari keragaman referensi musik masing-masing personel,” urai pihak band mendeskripsikan jalur musiknya.

Dan lebih jauh, dari empat lagu yang mereka suguhkan, Bung SEbastian menyebut “Provokator” sebagai salah satu lagu yang bisa mendeskripsikan identitas musik Bung Sebastian sesungguhnya. “Proses penggarapan lagu tersebut cukup menantang karena tiap personel mencoba memasukkan identitas musik mereka masing-masing menjadi satu ramuan lagu yang solid dan berkarakter.”

Bung Sebastian sendiri terbentuk pada 2004, lahir dari gagasan Bayu dan Erwin. Semuanya berawal dari kevakuman band mereka yang ber-genre grunge. Keduanya lantas mencoba jam session memainkan musik metal yang dirasa memberikan feel yang berbeda dan lebih energik. Setelah melengkapi formasi, kegiatan manggung pun dirambah, dimana mereka kerap menjajal lagu-lagu milik Soulfly dan Sepultura. Selain sering diundang tampil di  skena musik underground di seputaran Jakarta, Bung Sebastian juga beberapa kali memenangkan festival band yang akhirnya menjadi modal mereka untuk menggarap EP.

Tentang asal nama bandnya sendiri, rupanya didasari keinginan kuat untuk memancarkan citra musik yang ‘laki-laki’. Dari obrolan para personelnya saat selesai latihan di studio, akhirnya muncul dua kata, yakni ‘bung’ dan ‘sebastian’. Kata ‘bung’ merupakan panggilan akrab laki-laki dan ‘sebastian’ mereka yakini memiliki karakter yang sangat ‘laki-laki’. Jadi kedua kata tersebut sudah mewakili konsep musik yang mereka inginkan.

Untuk mendengarkan ‘kejantanan’ EP “Bung Sebastian”, silakan langsung akses di berbagai platform digital seperti Spotify, Apple Music, Deezer dan YouTube Music. (aug/MK02)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *