“ROCK IN SOLO” Dipastikan Digelar pada 18 Desember 2021

“Acara ini mungkin bisa dikatakan sebagai event musik keras pertama di era pandemi yang bisa dibilang resmi, di luar acara-acara yang berskala gigs!”

Pernyataan tebal yang sarat optimistis di atas dilontarkan oleh pencetus “Rock in Solo” Stephanus Adjie, mengenai penyelenggaran festival musik cadas tersebut yang kembali siap digelar setelah kekosongan akibat hantaman pandemi. Dipastikan – tentunya jika tidak ada kendala yang menghadang – salah satu festival rock dan metal besar di Tanah Air yang sebelumnya rutin digelar sejak 2004 silam tersebut bakal dieksekusi pada Sabtu, 18 Des 2021 mendatang.

Kali ini akan digelar di Terminal Tirtonadi Convention Hall, Solo, sebuah venue baru dalam ruang yang berkapasitas 3000 penonton. Namun karena masih dalam situasi pandemi, tentunya jumlah penonton tidak akan dimaksimalkan sesuai kapasitas. Pihak penyelenggara harus mematuhi regulasi, menerapkan beberapa aturan pembatasan untuk menyesuaikan dengan protokol kesehatan.

Dalam konferensi pers virtual yang diadakan hari ini, Adjie dan Firman Prasetyo sebagai perwakilan penyelenggara, menegaskan bahwa “Rock In Solo” kali ini hanya boleh berlangsung selama tidak lebih dari tiga jam dan dihadiri maksimal 500 penonton saja. Itu pun wajib disertai beberapa syarat, seperti bukti hasil antigen dan sudah pernah melakukan vaksin karena para penonton harus terdata di aplikasi Peduli Lindungi.

Tapi, menurut Adjie, 500 penonton yang nantinya hadir menyaksikan ini ia sebut bakal menjadi orang-orang pilihan yang beruntung. “Mereka adalah orang yang akan merasakan pengalaman menyambut peradaban baru di ‘Rock in Solo’.” 

Namun satu hal yang ditegaskan pihak penyelenggara, bahwa “Rock in Solo” kali ini bisa disebut hanya sebagai pemanasan. Semacam partai tambahan dan sebagai pembuka jalan menuju event berskala lebih besar yang rencananya akan diwujudkan pada semester kedua tahun depan. 

“Semacam prolog Rock in Solo, sebagai pemantik untuk membangkitkan ekonomi kreatif di kota Solo,” seru Adjie lagi meyakinkan.

Makanya, dalam penyajiannya, “Rock in Solo” yang kali ini mengibarkan tema “Apokaliptika: A Journey of Rock in Solo” tersebut hanya akan menampilkan satu band, yakni Down For Life. Kendati demikian, unit cadas kebanggaan metalhead Solo yang juga dimotori oleh Stephanus Adjie tersebut tidak akan tampil biasa, melainkan akan mengemas aksi panggung berkonsep kolaborasi yang unik. 

Saat ini, Down For Life sudah merancang aransemen baru dari lagu-lagunya, yang bakal dikolaborasikan dengan beberapa musisi tradisi seperti Gondrong Gunarto dengan gamelan sekaten yang berkarakter keras serta sekitar 12 musisi pemain gamelan lainnya. Selain itu, di antaranya juga bakal melibatkan seorang penari muda bernama Luluk Ari Prasetyo serta penyanyi keroncong Endah Laras dan gitaris Roxx, DD Crow yang memang berdarah Solo.

Kenapa yang tampil hanya DFL? “Karena harus beradaptasi dengan regulasi, tapi tetap harus menarik,” ujar Firman beralasan. Adjie menambahkan, ini justru menjadi sebuah tantangan terbesar. Tapi mereka bertekad ingin menjadikan event ini sekaligus sebagai simbol, bahwa Solo adalah kota yang berkembang namun tidak kehilangan budayanya.

Harga tiket untuk menyaksikan langsung gelaran “Rock in Solo” itu sendiri terbilang murah. Hanya Rp50.000 plus pajak Rp7.500. Tapi, bagi mereka yang sudah membeli tiket akan mendapatkan fasilitas tes antigen gratis di 10 Puskesmas yang ditunjuk oleh Dinas Kesehatan kota Solo pada hari pertunjukan.

Selama penyelenggarannya, “Rock in Solo” pernah sampai menghadirkan 37 band – dari dalam dan luar negeri – yang ditampilkan di tiga panggung, dengan rekor jumlah penonton yang mencapai lebih dari 10.000 orang. (*/MK03)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *