Juli 2018 lalu, kira-kira setahun setelah single kedua “Red Cigarette” dirilis, unit rock asal Yogyakarta ini memutuskan mulai menabung mengumpulkan materi-materi baru. Targetnya adalah sebuah album penuh. Dan akhirnya, segala kerja keras mereka membuahkan hasil. Pada Minggu, 28 November 2021 lalu, album debut bertajuk “Unreasonable Urges” sah dilepas ke berbagai platform digital.
Selain menjadi karya album pertama KLIF, “Unreasonable Urges” juga merupakan sebuah rangkuman hasil pengamatan dari Kaka Fajar Permana (bass), Satya Windriya (vokal/gitar), Gabriel Garda (gitar) dan Dennis Eliezer (dram) terhadap orang-orang di sekitar mereka yang melakukan berbagai hal tidak masuk akal demi memenuhi hasrat mereka.
“Kami memulai KLIF saat kami berempat masih menjadi mahasiswa di kampus yang sama. Selama kami kuliah, kami banyak mendengar cerita teman-teman kami yang mengejar tujuan mereka secara menggebu-gebu, sampai ke tahap yang menurut kami sudah tidak sehat,” ujar Garda, mewakili bandnya mengungkapkan.
“Unreasonable Urges” digarap secara mandiri di Arya Music Production dan Rumah Tua Records, dengan dukungan bantuan teknis dari Pandu Prasasya, JB Endryan, Zispandio Ismail dan Sambung Penumbra. Sementara untuk proses mixing-mastering, mereka percayakan kepada Sasi Kirono di studio miliknya, Satrio Piningit. Hasilnya, KLIF merampungkan sembilan lagu yang sarat vokal serak serta riff gitar berdistorsi.
“Proses pengerjaan seluruh materi yang ada di album ini berawal dari membuat riff gitar, kemudian kami menggodok materi riff kasar tersebut dan kami susun menjadi sebuah lagu. Setelah itu, kami bawa materi tersebut ke studio untuk diaransemen lebih lanjut menjadi satu kesatuan lagu yang utuh. Untuk lirik sendiri proses pengerjaan seluruhnya dikerjakan oleh Satya. Lalu setelah hampir setahun pengerjaan materi tersebut, proses pengerjaan album berlanjut ke proses rekaman,” beber pihak band kepada MUSIKERAS, merinci proses kreatifnya dalam melahirkan “Unreasonable Urges”.
.
.
Lalu secara musikal, kesuluruhan materi yang ada di album tersebut disebut KLIF banyak terpengaruh band-band rock alternatif seperti Arctic Monkeys, Radio Moscow serta The Strokes. “Namun, kami menyajikannya dengan sentuhan rock minor dengan riff-riff repetitif dan juga pilihan nada vokal yang catchy. Kesembilan trek dalam ‘Unreasonable Urges’ didominasi riff dan progresi kord minor ditambah dengan tempo yang relatif lebih kebut.”
“Call of The Void” yang pernah dirilis sebagai single tahun lalu, menjadi salah satu lagu yang cukup menantang penggarapannya. Beberapa kali mereka harus mengganti susunan dan juga aransemen lagu tersebut, saat proses peracikan. Alasannya, ya karena para personel band bentukan awal 2017 lalu ini sempat tidak puas dengan hasil akhir lagu tersebut saat pertama diboyong ke studio. Tapi “Call Of The Void” akhirnya menjadi lagu yang menjembatani antara dua rilisan single awal KLIF, yakni “Fancy Lady” dan “Red Cigarette”.
“Dikarenakan pada dua rilisan awal kami, banyak teman atau pun orang yang saling mengidolakan satu lagu dengan lagu lainnya. Akhirnya kami menantang untuk membuat lagi yang menjadi penengah. Adapun, lagu tersebut menjadi gambaran secara keseluruhan musikal di album ini,” seru KLIF meyakinkan.
Memang, dalam menyalurkan kreativitasnya, KLIF ingin menjadi band rock yang tidak terbatasi dalam referensi. Apalagi para personelnya juga memiliki referensi yang berbeda satu sama lain. Justru itu menjadi pijakan bagi KLIF untuk lebih leluasa dalam bereksperimen dan menggabungkan banyak genre ke dalam musik mereka.
“Maka dari itu, kami bermain di ranah alternative rock. Rock sebagai akar dengan tambahan alternatif genre lain. Kalau dari sisi pendengar, kami pun membebaskan mereka dalam menggambarkan band kami, baik itu mirip band satu atau pun dengan band lainnya.” (mdy/MK01)