Cara DARKSIDE Mengabadikan Kematian di “Unspoken Grief”

Kehilangan orang-orang terdekat atau terkasih yang mendahului ke kehidupan yang abadi, tentunya menyakitkan. Tapi setiap perjumpaan, memang akan berakhir dengan perpisahan, dan kematian adalah keniscayaan yang mengiringi setiap kehidupan. Tema inilah yang menjadi nyawa dari tuturan lirik “Unspoken Grief”, lagu tunggal terbaru Darkside, unit metal yang diperkuat personel kloningan Magelang dan Jakarta.

Lagu tersebut mereka anggap sebagai sebuah obituari, dimana Darkside yang dihuni Agung Kusuma Wardhana a.k.a. Dhana (gitar), Robby Prawira Ekalaya (bass), Tri Anggoro (dram), Anugrah Widi Putranto a.k.a. Puput (gitar) dan Satrio Rizki Dharma a.k.a. Iyok (vokal) berusaha merekam setiap cerita dan semangat orang-orang yang telah pergi. Mengabadikannya dalam lirik dan lagu, dengan diiringi janji untuk tetap menyalakan api dan melanjutkan mimpi-mimpi mereka yang terpaksa terhenti. 

“Awalnya lirik ‘Unspoken Grief’ terasa personal banget meski sama-sama soal kehilangan orang yang berarti. Setelah beberapa kali revisi kami akhirnya sadar kalau kehilangan itu bisa komunal juga. Apalagi saat masa-masa pandemi di mana orang-orang yang nggak berhasil bertahan harus pergi satu per satu. Dari sana akhirnya jadi lirik yang ada di lagunya, bahwa kami masih mengingat mereka yang telah tiada, perjuangan mereka, cerita-cerita saat bersama mereka, dan hal-hal apapun dari mereka yang menjadikan kami sampai hari ini. Kami akan ingat sampai kapanpun, sampai kami juga tiada. Jadi meski orang-orang ini terlalu cepat pergi, nama dan kisahnya akan abadi,” urai Darkside kepada MUSIKERAS, merinci.

Namun dalam penyampaiannya, Darkside berusaha mengeksekusi sebuah eksperimentasi ekspresi, dimana mereka lebih banyak mencoba bermetafor ketimbang menuturkan sesuatu yang lugas. “Tapi kami tetap nggak mau terlalu rumit. Di situ tantangannya.”

“Unspoken Grief” sendiri merupakan karya rekaman pertama Darkside pasca merilis album debut “VII” (dibaca: Seven) pada 2020 silam. Lagu tersebut dikerjakan menggunakan pendekatan yang sama sekali baru bagi mereka, sebagai reaksi atas pandemi Covid-19 yang merebak tak lama setelah Darkside pertama kali menyebarkan “VII” lewat platform digital. 

“Terpisah jarak dan waktu, kami bersiasat untuk menyatukan ide melalui kanal virtual. Proses rekaman pun kami lakukan secara mandiri dari dua kota, yaitu Jakarta dan Magelang. Metode ini tanpa disangka minim kendala, dan pengerjaan single hanya butuh waktu sekitar tiga bulan.”

Aransemen “Unspoken Grief” lahir sebagai tindak lanjut dari diskusi yang mereka lakukan di grup WhatsApp. Singkat cerita, Puput, Robby dan TriAng yang bermukim di Magelang langsung mengolah dummy musiknya hingga rampung sekitar sekitar 80% dari keseluruhan. Dua personel yang tinggal di Jakarta, yakni Dhana dan Iyok masing-masing lantas menyempurnakan riff serta hook dan lirik lagunya.

.

.

“Setelah jadi 90%, kami yang tinggal di Jakarta ‘mengalah’ untuk mampir ke Magelang dan melakukan rekaman gitar sama vokal, 10% sisanya kami taruh sebagai ruang diskusi untuk finalisasi, mumpung lagi kumpul berlima.” 

Dengan tetap menjaga arah bermusik Darkside di album “VII”, ruang eksplorasi tetap mereka biarkan menganga di penggarapan lagu baru. Saat mengerjakannya, selain ‘dimabuk’ karya-karya progresif milik band metal fenomenal asal Perancis, Gojira – khususnya di album “Magma” (2016) – juga ada serapan dari unit hardcore eksperimental seperti Counterparts atau Converge. Jika membandingkannya dengan “VII”, menurut Darkside lagi, tentunya ada pengembangan di sana-sini. Masing-masing dari personel memberi sentuhan personal dari sisi musikal. Puput yang cenderung bluesy, lalu TriAng dengan pengaruh-pengaruh elemen progresif, Robby yang menganut Gojira-esque hingga Dhana yang terbiasa dengan pola kocokan riff yang groovy model Pantera atau Lamb of God.

“VII” sendiri merupakan karya album yang sangat membekas buat Darkside, karena di album itulah pakem musik mereka terbentuk. “Mood lagu-lagu di ‘VII’ sangat jelas, kalau thrashy ya thrashy, kenceng ngebut, kalau groovy ya groovy lebih ngayun dan banger juga. Nah, di ‘Unspoken Grief’ ini, pola-pola seperti itu kami paksa untuk lebih subtil, ngumpet tapi terasa. Dan jujur saja, kami sepakat single ini kedengeran lebih agresif ketimbang lagu paling kenceng di album ‘VII’. Mungkin faktor tone vokal sama drum beat-nya.”

Disamping itu, Darkside juga bereksperimen di terapan clean vocal. Sesuatu yang baru juga buat mereka. Mereka berterus-terang, manuver itu terjadi lantaran mereka kerap menyimak lagi katalog milik band progressive metal asal Amerika, Mastodon. ”Single ini akan kami jadikan pijakan untuk album sekuel yang akan penuh dengan eksperimen dan hal-hal yang belum pernah Darkside lakukan sebelumnya.”

Tahun ini, Darkside yang sudah menggeliat di skena sejak 2008 silam berencana akan melahirkan album lagi, menyusul “Last Faith” (EP 2012) dan “VII”. Sejauh ini mereka mengaku sudah mengantongi judul serta konsepnya secara umum. Juga sudah ada tiga lagu baru berformat dummy yang telah ditelaah sejak awal tahun, dimana musiknya bakal melibatkan elemen-elemen progressive rock yang ekstrim, yang antara lain terpicu kegairahan musik Gojira, Opeth, Dream Theater, Mastodon hingga Tool.

“Kami pengen membawa vibe ‘ajaib’ itu ke panggung. Kalau albumnya jadi tahun ini, kami ingin sekali mewujudkan mimpi untuk tur, mudah-mudahan saja bisa.” (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
hazar
Read More

HAZAR: Bukan Sekadar ‘Menghajar Keras’

Menandai pergantian tahun, Hazar letupkan rilisan album debut bertajuk “Minor Dramatic”, yang sarat gaya hardcore dengan irisan metal dan punk.