Selepas ‘Mati Suri’, STUBBORN Tanggalkan Deathcore di “Doppelgänger”

Band asal Serang, Banten ini sebenarnya sudah terbentuk sejak 2009 silam, dengan mengibarkan nama Killed For Sheilla. Namun kemudian ‘mati suri’ selama 12 tahun. Ketika masa pandemi datang, ternyata membawa momentum untuk menyatukan band ini kembali, dengan nama dan formasi baru, plus konsep musik yang juga telah dimodifikasi.  

Khususnya dalam urusan formula musik, Stubborn tak ingin ‘keras kepala’ menetap di area deathcore, seperti yang mereka anut sebelumnya. Kini racikan hardcore yang lebih metallic dipilih sebagai media untuk melontarkan unek-unek mereka tentang isu-isu sosial. Seperti yang sudah mereka perdengarkan lewat karya rekaman lagu tunggal debut bertajuk “Doppelgänger”, yang diedarkan via Noise Blast Records sejak 21 Januari 2022 lalu.

Stubborn yang kini diperkuat formasi Rifki ‘Mawl’ Mawlana a.k.a. Mawl (vokal), Entol Mohammad Maulana Irvan a.k.a. Ivan (gitar), Ardiansyah Putra a.k.a. Ardi (gitar), Retno Hamdani Putra (bass) dan Bagus Ardian (dram) beralasan, mengubah haluan dari deathcore ke hardcore karena ingin mencoba keluar dari zona nyaman. Lagipula, genre deathcore serta metalcore di kota Serang cukup marak.

.

.

“Serta juga, dengan tambahan personel, yaitu (gitaris) Ardi yang sebelumnya memiliki band dengan genre punk melodic sehingga menambahkan elemen genre yang berbeda. Akhirnya kami putuskanlah untuk membuat band ini ber-genre hardcore/metallic hardcore,” seru Stubborn kepada MUSIKERAS menegaskan.  

Disamping itu, hardcore buat Stubborn lebih mudah dicerna dan dinikmati banyak orang. Riff-riff yang diterapkan di hardcore lebih sederhana dibanding deathcore yang lebih condong ke teknik atau skill. “Menurut kami musik yang enak itu adalah yang easy listening, apalagi audiens mudah menangkap apa pesan di lirik yang dituangkan ke musik hardcore. Maybe sing a long? Secara teknis hardcore musiknya lebih kompleks, singkat padat namun tetap MOSH!”

Di “Doppelgänger”, bisa dibilang Stubborn menggeber perpaduan antara hardcore, metal dan punk yang dipacu dalam tempo yang kencang, sarat riff yang padat, namun juga heavy. Kurang lebih, mereka banyak terpengaruh elemen-elemen cadas dari band-band dunia seperti Knocked Loose, Code Orange, Vein serta sentuhan slamming yang agresif namun dengan dengan ketukan yang groovy.

Stubborn menggodok lagu-lagunya yang dipersiapkan untuk tertampung dalam sebuah album mini (EP), termasuk “Doppelgänger” sepanjang 2021. Awalnya, bisa dikatakan hanya merupakan ‘proyek iseng’ mengisi keterbatasan di masa pandemi. Rencananya, mereka akan menggarap lima lagu dengan tema lirik yang luas, yang ditargetkan rampung pada April mendatang, atau pertengahan 2022. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
lurruh
Read More

LURRUH: Wajah Lama, Kebrutalan Baru

Manifestasi kegagalan manusia dimuntahkan Lurruh di karya debutnya, “Heresi” yang mengeksplorasi formula metalik hardcore yang modern dan brutal.
repton
Read More

REPTON: Ingatkan Tragedi Kelam Mei ’98

Menyambut perilisan sebuah album split, Repton menyuarakan trauma kolektif dari Tragedi Mei 1998 silam dalam kobaran slam metal berbalut rap/DJ.
carousels
Read More

CAROUSELS: Metalcore, Synth, Saksofon!

Gagasan lama yang muncul di 2019 silam, akhirnya diwujudkan Carousels di lagu terbarunya. Mengombinasikan synthwave, metalcore dan saksofon!
rahasia intelijen
Read More

RAHASIA INTELIJEN: Berharap Bisa Merilis EP

Unit metal alternatif Jakarta, Rahasia Intelijen akhirnya menguak kasus baru lagi, lewat lagu berlirik tajam, tentang narasi religius yang berlumuran darah.