WALLS TO CAVE Ramaikan ‘Reuni’ Electronic Post-Hardcore Era 2010-an

Laskar musik keras asal Bandung, Jawa Barat yang sudah eksis sejak 2019 lalu ini membangun konsep musiknya dari berbagai referensi atau inspirasi. Kebanyakan dari luar negeri, sebutlah seperti band Bring Me the Horizon, Wage War, Polaris, The Ghost Inside dan beberapa lainnya yang segaris nuansa akstrim serta dinamikanya. Tapi kali ini, lewat lagu tunggal terbarunya yang diberi titel “Happier”, mereka menargetkan ingin menggeliatkan lagi keseruan post-hardcore dari era 2010-an.

“Kami sengaja bawa nuansa musik electronic post-hardcore itu, karena kami lihat banyak banget band 2010-an yang sudah mulai aktif lagi. Semacam reunian lagi…. Kami mikirnya kenapa nggak sekalian bikin musik kaya era 2010an aja? Toh peminatnya juga sekarang mulai banyak. Semacam bernostalgia dengan kenangan masa SMA,” ujar pihak Walls to Cave kepada MUSIKERAS, menuangkan alasannya.

“Happier” sendiri adalah karya rekaman terbaru Walls to Cave yang dibuat usai menetaskan album mini (EP) debut bertajuk “Deathless” pada Agustus 2020 lalu. Dari segi lirik, “Happier” adalah kristalisasi dari upaya para personel Walls to Cave untuk melawan, berontak dari sisi kelam kehidupan yang mereka lalui. Menceritakan upaya mengakhiri segala nista, keluar menuju masa yang cerah, menebus kesalahan dan penyesalan yang telah lalu. Dengan aransemen yang kental dengan paduan musik elektronik yang gahar, Walls To Cave menawarkan agresi yang membangkitkan semangat. 

Erik Risando (vokal), Gilang Rahmanto (gitar/clean vocal), Rizky Dwi (gitar) dan Abda Aris (kibord/synth) menggarap “Happier” dalam durasi waktu yang terbilang lumayan cepat. Lirik datang dari Abda yang menulisnya selama sekitar semingguan, yang lantas dilanjutkan ke proses penggodokan aransemen yang dieksekusi oleh Rizky dan Erik.

.

.

“Lirik dan aransemen yang udah dibuat kami satukan, terus kami matengin lagi di studio dan dibawain pas latihan. Setelah semua materinya oke, baru kami bawa ke studio rekaman. Tepatnya di Rostels Records. Kenapa kami milih di sana? Karena memang track record-nya bagus, dan banyak band yang se-genre dengan kami rekaman di sana. Setelah proses rekaman, lalu masuk ke tahap proses mixing dan mastering. Nah, justru di proses ini yang agak lama, karena kami memang pengen ngeluarin hasil yang bagus banget, dan kebetulan banyak revisi yang kami lakukan setelah tahap proses mixing dan mastering. Kalo ditotalin, hampir sekitar empat bulanan proses kreatifnya.”

Adanya proses revisi beberapa kali menjadi salah satu tantangan yang dihadapi Walls to Cave dalam penggarapan “Happier”, sehingga berpengaruh terhadap durasi penggarapannya. Selain itu, mereka juga kebetulan baru mengikat kesepakatan kerja sama dengan label 40124 Records.

Oh ya, balik lagi ke konsep post-hardcore tadi. Lewat “Happier” ini, salah satu alasan Walls to Cave sepakat mengolah post hardcore era 2010-an karena kekentalan unsur elektroniknya. Referensi yang menjadi acuan antara lain dari band-band seperti Attack Attack, I See Stars, Monster I’ve Met serta band lokal bernama Sebuah Tawa Dan Cerita (kini bernama Ghostline) era album “Thousand Skies”. Makanya, kini mereka merekrut Abda sebagai penanggung jawab di balik perangkat synthesizer.

Kini di bawah naungan 40124 Records, Walls to Cave berencana merilis album debut sebagai rencana besar berikutnya. Sejauh ini mereka sudah mengantongi sekitar delapan materi lagu, yang tinggal menunggu jadwal produksi. Sebagai info bocoran, di album tersebut bakal ada dua lagu dari EP “Deathless” yang bakal didaur ulang.

“Tentunya dengan nuansa yang lebih dewasa dan lebih modern. Rencana terdekat kami dan label juga mau ngadain tur, banyak ikut event di luar Jawa Barat juga, supaya jangkauan pendengar Walls to Cave lebih luas lagi.” (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
no8
Read More

NO8: Nadin Amizah Versi Modern Metal?

Fenomena band atau solois rock berkedok dan merahasiakan identitas aslinya mulai menjalar ke Indonesia. Salah satunya diadopsi NO8 yang berasal dari Bandung.