“Karena kami terbentuk memang dari latar belakang referensi dan selera genre musik yang sama, yaitu metalcore!”
Lewat karya lagu tunggal terbarunya yang bertajuk “Hiraeth”, unit cadas asal Malang, Jawa Timur bentukan 2015 lalu ini terus mengeksplorasi kreativitas mereka dalam meracik komposisi metalcore, sebuah paham musik yang telah mendarah daging di tubuh para personel Pacificmyth.
Akan tetapi, kali ini sedikit ada pergeseran konsep, khususnya jika dibandingkan dengan lagu mereka sebelumnya, “Covenant of Stone” yang dirilis pada Juni 2020 lalu.
“(Lagu) ‘Hiraeth’ memang bisa dikatakan trek yang paling berbeda sendiri dibanding lagu-lagu lain yang akan ada di EP (album mini) kami nanti, dimana hampir semua track lainnya akan lebih terasa beat dan punch,” seru pihak band kepada MUSIKERAS, mencoba meyakinkan.
Jika berbicara tentang konsep, Pacificmyth yang kini diperkuat formasi Unda Rikmana (gitar), Asfa Firosa (dram), Aryawardhana (synth/kibord) dan Ardy Agil (vokal) secara spesifik mengaku banyak mendengarkan referensi dari lagu-lagu milik band-band metalcore luar, di antaranya dari lagu “Martyr (Waves)” yang termuat di album “The Death of Me” milik Polaris, lalu “Lune” dari album karya Periphery yang bertajuk “Periphery III: Select Difficulty” serta “Feels Like Forever” dari album “Restoring Force” milik Of Mice and Men.
“Dari segi aransemen, penulisan lirik, dan tema yang diangkat masih tidak terlalu berubah. Namun akan sangat terasa dari sound yang lebih warm.”
.
.
Sedikit tambahan informasi, kata yang dijadikan judul lagu, “Hiraeth” itu sendiri rupanya diambil dari bahasa Wales (Welsh) yang sulit untuk dijelaskan secara deskriptif atau harfiah. Beberapa orang mengartikannya sebagai perasaan rindu, keinginan mendalam untuk pulang ke rumah, dan atau nostalgia.
Di lirik lagu “Hiraeth”, Pacificmyth menggambarkan sudut pandang akan kerinduan seseorang pada suatu tempat yang disebut ‘rumah’, yang merupakan tempat paling nyaman untuk jiwa pada setiap orang. Bisa jadi tempat itu merupakan lokasi fisik yang dapat dikunjungi kapan saja atau hanya sebuah kenangan yang tidak terikat pada suatu tempat dan waktu dari masa lalu yang hanya dapat dikembalikan ketika bernostalgia.
“Setiap orang dalam perjalanan hidupnya pasti mengalami beberapa fase pada titik terendah; entah permasalahan keluarga, pekerjaan, mental, masalah kesehatan dan lain sebagainya. Di saat itulah kerinduan akan ketenangan jiwa pada sebuah tempat yang telah lama tidak didatangi, atau sebuah tempat imajinasi, bahkan bisa jadi ingin mengakhiri semuanya dan berpulang,” urai Aryawardhana yang menulis lirik lagu tersebut.
Penggarapan EP sendiri sudah mulai dikerjakan oleh Pacificmyth sejak pertengahan 2021, yang diawali pengumpulan materi pedoman (guide) lagu dari Unda Rikmana, lalu dilanjutkan dengan pengisian dram, serta penentuan tema sekaligus lirik oleh Aryawardhana dan Ardy. Setelah kesleuruhan materi matang dan siap, mereka lantas melanjutkan eksekusi final rekaman di Wakajzee Records yang berlokasi di Lumajang, Jawa Timur, studio tempat sound engineer mereka, Willy Jayakusuma. Sejauh ini, EP tersebut sudah merampungkan proses mixing dan mastering dan kemungkinan pada pertengahan April mendatang sudah bisa dilepas ke khalayak luas.
“Di EP ini, kami juga berkolaborasi di bagian vokal clean dengan sound engineer kami sendiri, Willy yang menjadikannya salah satu pembeda dari ‘Covenant of Stone’.”
“Hiraeth” kini sudah bisa didengarkan di berbagai gerai penyedia jasa dengar musik digital seperti Spotify, Apple Music, Tidal, Amazon Music, Deezer, YouTube dan sebagainya. (aug/MK02)