Usai perjalanan panjang yang meninggalkan jejak beberapa lagu rilisan tunggal, akhirnya kuartet modern rock/alternative rock asal Jakarta ini berhasil merampungkan album studio keduanya, sekaligus mengedarkannya ke khalayak luas. Terhitung sejak 8 April 2022 lalu – atau bertepatan dengan peringatan satu dekade usia OMNI – karya rekaman kolektif bertajuk “Miraculum” tersebut telah terhidang di berbagai platform digital.
“Miraculum” sendiri adalah keajaiban. Pemilihan judul itu berkaitan dengan pandemi yang berkepanjangan, sehingga menyebabkan kondisi perekonomian global merosot secara drastis. Untuk bisa keluar dari keterpurukan tersebut maka dibutuhkan keajaiban. Situasi yang tidak menguntungkan itu pula yang menjadi penyebab utama berlarut-larutnya jadwal perilisan album “Miraculum”.
“Tapi kami bersyukur bisa tetap bertahan sampai di titik ini. Proses yang panjang dari perekaman hingga perilisan album ini memang sesuatu yang tidak bisa kami hindari. Kami dipaksa mengalir dengan keadaan. Tetapi kami tetap berusaha tidak tergerus terbawa arus yang meyebabkan kami harus melepaskan kerja keras kami dan menyerah dengan keadaan. Kondisi ini justru mengingatkan kami untuk terus berkarya tanpa harus terbebani dengan hal-hal non teknis dan lainnya. Dan terkadang memang dibutuhkan keyakinan lebih dan keajaiban dalam melewati masa-masa sulit,” urai pihak band kepada MUSIKERAS, meyakinkan tekad dan semangat mereka.
Amank Syamsu (vokal), Rully Worotikan (gitar), Romy Sophiaan (bass) dan Robby Wahyuda (dram) menggarap seluruh proses rekaman “Miraculum” di Studio Rodinda, kecuali untuk perekaman isian dram dan vokal lagu “Negeri Api” yang dieksekusi di Studio 168. Sementara untuk pemolesan mixing dan mastering dipercayakan kepada Rizki Wahyudi yang mengolahnya di studio Jagasvara dan Chandracom Mastering Suite.
.
.
Hasil kerja keras yang kurang lebih dimulai sejak 2017 lalu tersebut menghasilkan sembilan komposisi bernafas rock yang khas dan modern. Selain “Negeri Api”, “Surrender”, “Kita Pasti Bisa” dan “Jiwa yang Merdeka” yang sudah lebih dulu diperdengarkan sebagai rilisan tunggal, “Miraculum” juga beramunisikan lagu “Genesys”, “Overdosis”, “Bahaya Laten”, “Berontak” serta “Start the Engine” yang menghadirkan kolaborasi OMNI dengan solis Elfonda ‘Once’ Mekel (Dewa).
Sejak awal, OMNI memang sudah mencanangkan keinginan untuk berkolaborasi dengan beberapa penyanyi Tanah Air. Selain dengan Andi Fadly Arifuddin (Padi Reborn/Musikimia) serta Candra Hendrawan Johan aka Che (Cupumanik/Konspirasi) di lagu “Jiwa yang Merdeka”, Once adalah pilihan berikutnya. Walau sebenarnya tidak ada target khusus siapa yang mereka inginkan untuk berkolaborasi di lagu-lagu mereka, sampai lagu-lagu itu sendiri rampung proses aransemen dan penulisan liriknya.
“Keputusan berkolaborasi dengan Once di lagu ‘Start The Engine’ diambil setelah Amank selesai mengisi part vokal dengan lirik yang sudah final,” cetus OMNI menegaskan.
Pemilihan sosok penyanyi yang diinginkan untuk berkolaborasi, menurut tuturan pihak band lagi, tidak dilakukan secara sembarangan dalam menentukan nama. Kombinasi kualitas lagu karya mereka dengan kapasitas orang yang akan diajak berkolaborasi harus diperhatikan secara cermat.
“Itulah sebabnya kami harus memastikan lagu kami sudah cukup baik untuk kemudian diajukan kepada orang-orang yang kami anggap tepat untuk berkolaborasi. Once Mekel memiliki karakter yang kami rasa sangat pas dan ngeblend dengan lagu ini. Dan terbukti setelah Once selasai melakukan perekaman suara, seperti terjadi sebuah kolaborasi energi dalam lagu ini. Kami nggak bisa bilang ini lagu yang sempurna. Tapi kami yakin kolaborasi dengan Once adalah keputusan yang tepat dari kedua belah pihak.”
Sebelum “Miraculum”, OMNI yang sudah menggeliat sejak April 2012 lalu telah melahirkan album debut yang bertitel “Medulla Oblongata” (2013). (mdy/MK01)