“… ‘Alternate Universe’ adalah satu rangkaian album penuh yang menurutku akan lebih baik didengarkan secara utuh karena dari segi transisi lagu per lagu pun berkesinambungan satu sama lain. You will be awakened!”
Himbauan di atas terlontar dari Slinky Bones, vokalis dan gitaris grup musikal hasil eksperimen imajinasi asal Yogyakarta, The Melting Minds. Unit psychedelic rock yang terbentuk pada pertengahan 2020 lalu ini baru saja melepas album debut impresif bertajuk “Alternate Universe” via label sendiri, Boneless Records.
“Alternate Universe” sendiri merupakan perpanjangan tangan, kaki dan pikiran untuk mencoba membaca tanda-tanda semesta, yang seolah merintih melihat manusia di dalamnya yang sudah semakin busuk, sakit, dan penuh ketidakpedulian. Konsep album ini mengambil pendekatan perjalanan leluhur personel The Melting Minds dari desa Branjang, Ngawis, Karangmojo, Gunungkidul, dalam membuat tempat kecil yang baru, melawan kejahatan yang ada di dunia ini. Merupakan pendekatan kepada manusia-manusia yang tersesat, yang tidak mau berpikir secara mendalam, menyelami bagian-bagian yang belum pernah terpikirkan sebelumnya dan berharap manusia bisa hidup selayaknya manusia dengan segala entitasnya.
Album ini adalah satu cerita besar yang utuh yang terbagi dalam 10 lagu yang dituntun oleh Lois N. Fathiarini sebagai narator dengan sudut pandang orang ketiga, seperti seorang ibu yang mendongengkan sebuah kisah sebelum tidur kepada anaknya dengan menggunakan pendekatan musik psychedelic rock, dengan nuansa yang dinamis, progresif, absurd yang diantarkan lewat penataan suara bernuansa purba namun eargasmic.
Awalnya, Slinky Bones yang juga bertanggungjawab pada penulisan keseluruhan lagu menyebut referensi olahan musik The Melting Minds datang dari band-band psychedelic rock mancanegara seperti King Gizzard & The Lizard Wizard (Australia) serta Pink Floyd (Inggris), lalu sedikit dipadu dengan esensi dari Jimi Hendrix (AS). Namun pada akhirnya, yang membuat musik mereka berbeda adalah ketujuh personelnya yang berasal dari circle musik yang sangat berbeda.
“Eksekusi akhir dan aransemen dibuat atas sinergi influence dari kami bertujuh, karena kami juga ingin menemukan karakter musik kami sendiri. Bagaimana jika nantinya kami tidak lagi mengambil influence dari western music? Ya siapa yang tahu, namun itu juga salah satu impian kami,” urai Slinky Bones kepada MUSIKERAS, mengungkap latar belakang konsep yang membuat bandnya berbeda dibanding band-band independen lainnya yang tumbuh di Yogyakarta.
Ya, selain Slinky Bones, The Melting Minds juga digerakkan oleh kontribusi enam personel lainnya, yakni Dhandy Satria (multi-instrumentalist/vokal), Ahmad Tubagus Prabowo (gitar), Yafet Yerubyan (synth/vokal), Marcellinus Yoga Maheswara (bass), Christian Gratia Piero Simanjuntak (dram/perkusi) dan Aswar Syarifuddin aka Wawa Kzk (dram).
.
.
Layaknya sebuah album konsep, “Alternate Universe” memang dirancang sebagai sebuah kesatuan, yang terangkai berkesinambungan dari awal hingga akhir. Namun bagi penikmat musik yang sama sekali belum pernah mendengarkan musik mereka, dan ingin menyicipi untuk sekadar berkenalan, band ini menganjurkan mereka memulainya dari lagu “Alternate Universe” sendiri, atau dari lagu “The Snake” yang telah diperdengarkan sejak 2 januari 2021 lalu.
Slinky Bones menyebut lagu “Alternate Universe” sebagai sebuah resume atau rangkuman dan klimaks, merupakan core-to-the-core dari keseluruhan album “Alternate Universe”. Baik dari segi lirik, cerita, maupun musikalnya. “Dengarkan saja, you will get the point, there’s so much going on there,” cetusnya meyakinkan.
Sementara untuk lagu “The Snake”, usulannya datang dari Wawa Kzk. Jadi sebelum masuk ke inti lagu dan semakin dekat dengan lagu The Melting Minds, maka cobalah memulainya dengan mendengarkan “The Snake”. “Sama seperti ular, lagu tersebut bagaikan bisa ular yang lama-kelamaan mulai meracuni telinga.”
Secara singkat, penggarapan album “Alternate Universe” sendiri tidak membutuhkan waktu lama. Hanya sekitar satu bulan untuk menghasilkan sebanyak 10 komposisi. Dieksekusi di markas Boneless Records, di Wonosari pada kurun waktu Desember 2019 hingga Januari 2020. Namun karena terhadang pandemi, prosesnya sempat tertunda.
“Proses rekamannya cukup unik,” kata Slinky Bones mengenang. Ia memulai menyusun kerangkanya sendiri di Boneless Records, dengan perangkat rekaman serta kemampuan teknis seadanya. Selain didampingi oleh gitaris Bagus dan Restu (mantan personel The Melting Minds), Slinky juga melakukan koordinasi jarak jauh dengan Dhandy yang saat itu ada di Jakarta.
“Kadang aku harus buka YouTube untuk cari beberapa tutorial merekam yang benar. Dhandy merekam beberapa part gitarnya di rusun daerah Benhil, Jakarta dengan skill yang proper dan dengan alat yang cukup memadai. Ya karena emang kerjaannya sebagai audio engineer.”
Lalu karena di Wonosari tidak ada mikrofon yang memadai, Slinky sempat pula dibantu oleh Momo Biru, vokalis dan gitaris band modern rock Yogyakarta, Zima. Proses rekaman vokal pun dieksekusi seluruhnya di rumah Momo, serta beberapa isian overdub untuk gitar. Setelah semua bagian diaransemen, mixing dan mastering oleh Dhandy di Jakarta, pada akhir 2020, Dhandy pun memutuskan untuk kembali ke Yogyakarta. Sejak itu, mengalirlah karya-karya mereka ke berbagai platform digital, setelah sebelumnya membangun label kecil bernama Boneless Records yang menaungi semua rilisan The Melting Minds.
Sebelum melampiaskan “Alternate Universe” secara keseluruhan, The Melting Minds sempat meluncurkan lima lagu rilisan tunggal, yakni “The Snake”, lalu “Possessing The Witch” pada 21 Maret 2021, “II / VII” pada 11 Juni 2021, “Digitized” pada 9 Juni 2021 dan terakhir “Twist of Fate” pada 11 Februari 2022. Di antaranya, mereka sempat pula ‘bermain-main’ dengan memperdengarkan parodi dari The Melting Minds, yang diberi nama The Melting Memes, lewat lagu berjudul “Snekpang” serta “Possessing The Witch”.
Karena Wawa Kzk juga seorang desainer dan ilustrator, maka seluruh rancangan ilustrasi (artwork) album serta materi promo dari The Melting Minds disepakati untuk digarap secara mandiri. “Hampir sama dalam penggarapan dan penggodokan semua lagu yang ada di album ini, di bidang visual grafisnya juga kami mencoba mendalami dalam membuat konsep untuk kebutuhan visual grafisnya, yang kami ambil dari cerita yang ada di album ini dan juga penggalan-penggalan lirik yang kemudian dikembangkan menjadi ilustrasi visual,” beber Wawa menegaskan.
Selain beredar di berbagai platform digital, “Alternate Universe” kini juga bisa didapatkan dalam format kaset pita. (mdy/MK01)
.