Berbekal Death Metal yang Jahat, ESOTERIC REVELATION Tancapkan “Bingkai Obituari”

Dengan kekuatan baru, unit metal kontemporer asal Jakarta Timur ini kembali memompa adrenalin para metalhead lewat lagu rilisan tunggal terbarunya, “Bingkai Obituari”. Lagu tersebut, merupakan salah satu peluru tajam yang bakal menyesaki album mini (EP) Esoteric Revelation yang bertajuk “Nekropolis”, yang dicanangkan bisa diluncurkan tahun ini juga.

Lirik “Bingkai Obituari” sendiri dirakit dari kisah fiksi, yang mengungkap tentang tirani yang runtuh pada zaman Kaliyuga, atau zaman kegelapan dalam ajaran agama Hindu. Ketika kehancuran dunia sudah di depan mata akibat perilaku rakus dan keserakahan yang menghancurkan segala yang ada di bumi ini. Para penguasa sudah menghancurkan ekosistem dan sumber daya terbesar bumi yang berdampak mengancam kelangsungan hidup seluruh manusia sampai tak satu pun yang tersisa.

Lagu berdurasi 3.25 menit tersebut diklaim cukup untuk menggetarkan jantung para pendengarnya, yang mengombinasikan riff-riff jahat berdistorsi keras, blast-beat yang bengis plus geraman vokal growl yang gahar. Sebuah lagu yang menjebak kita untuk ikut masuk ke dalam kegelapan dunia Esoteric Revelation.

“Konsep musik ‘Bingkai Obituari’ yang kami ambil adalah death metal dengan campuran elemen slamming dan deathcore. (Tapi) Tidak menghilangkan ‘karakter’ Esoteric Revelation, dengan adanya ‘glitch’ kami meramunya sedemikian rupa hingga menjadi musik yang heavy dan catchy,” seru pihak band kepada MUSIKERAS, mengungkap konsepnya. 

Sementara untuk konsep EP “Nekropolis”, secara keseluruhan tema liriknya menggambarkan rangkuman dari beberapa sifat manusia yang ada di muka bumi ini, seperti serakah, sombong, kemunafikan, backstabber (teman ‘makan’ teman), penggila tahta hingga dehumanisasi. Kata “Nekropolis” mereka artikan sebagai ‘kota yang sudah mati’, yang hanya menyisakan tulang-belulang manusia akibat perbuatan manusia itu sendiri. Makna itu akan tertuang di artwork “Nekropolis” yang mereprentasikan isi, menampilkan ilustrasi manusia purba yang sedang berkumpul sambil menyantap tubuh sesamanya.

“Referensi musik yang kami ambil dalam ‘Nekropolis’ banyak terpengaruh dari (band-band mancanegara seperti) Organectomy, Gutrectomy dan Stillbirth,” cetus Esoteric Revelation terus-terang.

.

.

Proses kreatif penggarapan “Nekropolis”, termasuk materi “Bingkai Obituari” berlangsung dalam waktu yang lumayan panjang. Para personelnya, yakni Hendro Prasetyo Wibisono (vokal), Agil Ayathiri (gitar), Herru Setiawan (dram) serta dua personel baru; Imamulkhaer (gitar) dan Ricky Sebatsian (bass) memulai eksekusinya sejak September 2021 lalu di kediaman Agil, yang juga merupakan markas Pureless Records. Di sana mereka meracik pra-produksi aransemen, pra-produksi vokal hingga ke proses rekaman gitar, bass dan vokal. Sementara khusus untuk dram, mereka merekamnya di Plug Home Studio. Terakhir, tahapan peramuan dan penyelarasan suara (mixing dan mastering) dipercayakan pengolahannya kepada Imamulkhaer di Jiga Studio. 

Pengalaman menarik saat penggarapan “Nekropolis”, menurut Esoteric Revelation, adalah dengan bergabungnya Ricky dan Imamulkhaer yang datang dari latar belakang musik berbeda. Ricky terbiasa di skena hardcore, sementara Imam lebih ke pop.

“Menurut kami, justru itu hal menariknya. Dikarenakan mereka berdua hadir pada saat proses penggarapan EP ini, banyak ide brilian yang bermunculan ketika mereka berdua masuk ke dalam band ini.”

Salah satu lagu yang termuat di “Nekropolis”, yakni “Samsara Pemangsa Kala”, disebut oleh band bentukan April 2020 ini sebagai komposisi yang paling susah dibawakan. Alasannya, di lagu itu terdapat elemen progresif.

“Kenapa kami memasukan elemen progresif di lagu ini? Karena tema lirik menggambarkan situasi saat ini, yaitu ‘dehumanisasi’, yang menjadikan kodrat manusia, tidak sesuai dengan kodratnya sebagai manusia. Yang lagi marak kasusnya. Misalnya seperti korban pelecehan seksual, pembullyan, bahkan pembunuhan. Kami mendeskripsikannya lewat track ini, betapa ‘rumitnya’ dan tak terselesaikannya kasus-kasus tersebut, yang kian hari semakin bermunculan.”

Sejak 25 Juni 2022 lalu, “Bingkai Obituari” sudah bisa dilantangkan via berbagai platform digital seperti Spotify, Apple Music, Joox, Amazon Music, Deezer dan Tidal. (mdy/MK01)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts