Lesatkan Tiga Peluru Panas, PAIN Buktikan Hardcore yang Eksploratif

Band ini, adalah contoh nyata bahwa hardcore tidak mutlak selalu two-step. Pejuang cadas asal Singkawang, Kalimantan Barat yang diperkuat formasi Joyc Izmi Vatra aka Jois (vokal), Aji Krisandi (gitar), Muhammad Fariz (bass) dan Victor Juniocaesar (dram) ini menggeber konsep hardcore yang dibaluri sedikit pengaruh dari beberapa band metal dunia seperti Gojira dan Power Trip.

Setelah puas menggebrak berbagai pentas musik keras lokalan, PAIN yang terbentuk pada akhir 2021 lalu ini akhirnya memutuskan berkoar di panggung rekaman. Pada Juni 2022 lalu, mereka telah meluncurkan tiga komposisi lagu kolektif dalam kemasan bertajuk “Subliminal Message” sebagai sarana promosi menuju album penuh yang bakal segera digarap. Tiga karya rekaman tersebut masing-masing berjudul “Swallowed by Reality” yang bisa dinikmati via berbagai platform digital, serta “Aftermath” dan “Embrace Me with Grace” yang hanya bisa dijumpai dalam rilisan fisik (CD). 

“Proses kreatif dalam pengerjaan ‘Subliminal Message’ bisa dibilang sangat sederhana dan terbilang cepat,” seru pihak band kepada MUSIKERAS, mengungkapkan.

Ketiga lagu tersebut diproduseri dan direkam sendiri oleh PAIN di Onlydeath dan Watchtower Records. Tapi khusus tahapan penataan (mixing) dan pelarasan suara (mastering) dipercayakan eksekusinya di TwentyDB Studio Bandung. Keseluruhan proses – termasuk pengonsepan materi, rekaman, produksi rilisan fisik dan merchandise hingga ke acara showcase “Here Comes The Pain” – berlangsung selama kurang lebih empat bulan, dan dilakukan secara virtual, lantaran domisili para personelnya yang terpisah.

.

.

“Terbentuk di tahun pandemi dan basic-nya sebagian personel berbeda kota, kami mengandalkan aplikasi virtual dan sosial media untuk berkomunikasi. Untuk tracking gitar, bass dan vokal kami kerjakan sendiri secara otodidak dengan mengandalkan beberapa equipment dari kawan-kawan tongkrongan. Tentu saja untuk memangkas budget seminim mungkin. Kecuali dram yang direkam di Yogyakarta, karena Victor sedang menempuh pendidikan di luar pulau,” urai PAIN lagi.

Lebih jauh tentang musiknya, EP “Subliminal Message” menyuguhkan eksplorasi hardcore yang eksperimental. Secara garis besar, ungkap PAIN, musik mereka mengedepankan hardcore yang diberi sentuhan riff gitar metal dan terapan teknik blastbeat pada dram. Di mata mereka, hardcore menjadi sarana paling tepat untuk meluapkan emosi, baik saat rekaman maupun saat beraksi di atas panggung. Kesan vokal yang tegas, riff gitar dan ketukan dram dari tempo lambat ke cepat menjadi formula berbahaya untuk memicu headbang dan menciptakan circle pit untuk audiens.

“(Tapi) Untuk referensi, PAIN tidak 100% hardcore. Kami lebih banyak mendengarkan musik-musik thrash, old school death metal, grindcore dan bereksperimen dengan apa yang kami dengar pada genre-genre tertentu. Urusan genre sepenuhnya kami serahkan kepada pendengar yang menentukan.” (aug/MK012)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
hazar
Read More

HAZAR: Bukan Sekadar ‘Menghajar Keras’

Menandai pergantian tahun, Hazar letupkan rilisan album debut bertajuk “Minor Dramatic”, yang sarat gaya hardcore dengan irisan metal dan punk.