“Lust” Semburkan Sisi Agresif DIVIDE di Ranah Post-Hardcore

Makin ke sini, perkembangan musik post-hardcore semakin seru. Ada yang menggali lebih dalam ke akar yang lebih underground, ada juga yang membawa genre tersebut ke arah yang lebih pop. Begitu pengamatan pejuang post-hardcore asal Jakarta ini tentang genre yang mereka geluti sejak 2010 silam.  

“Ditambah lagi, semakin ke sini, kualitas produksi rekaman dari band-band itu juga semakin baik. Serunya adalah, sekarang band-band sudah punya warna dan pakem musiknya masing-masing, jadi setiap band punya bentuk yang berbeda. Berbanding jauh dibanding di jaman kami pertama keluar dulu,” urai Divide kepada MUSIKERAS, beralasan.

Terpicu keseruan di skena post-hardcore, Divide pun ikut mengganas. Seakan rindu akan sisi agresifnya, kini band yang bernaung di bawah manajemen The Golden Legacy tersebut memutuskan bereksplorasi ke arah yang lebih liar, mengembalikan sisi heavy dalam konteks post-hardcore yang selama ini telah menjadi identitas mereka. 

Hasilnya, pada 22 Juli 2022 lalu, band yang dihuni formasi Danindra Ilham Kamil a.k.a. Uda (vokal), Dhenaldi Saviro a.k.a. Dendenk (vokal), Willfried Arief (bass), Pradipta Beawiharta (gitar) serta Nicko R. Prabowo (dram) tersebut melepasliarkan lagu rilisan tunggal terbaru bertajuk “Lust”, dimana komposisinya digeber dengan warna nu-metal era 2000-an yang penuh agresi.

“Namun, tetap mengedepankan catchiness yang selalu jadi formula terbaik kami,” cetus mereka.

.

.

Kembalinya sisi keras dalam diri Divide sendiri merupakan upaya mereka untuk bersenang-senang, merilis materi yang punya warna seperti apa yang mereka lakukan dulu; sebuah lagu keras, tetap berisi, namun fun dan catchy. Lagu ini juga menjadi sebuah persembahan untuk para pendengar yang rindu akan sisi Divide yang lebih keras. 

Sewarna dengan musiknya yang penuh kemarahan, di lagu ini mereka juga membicarakan tentang topik yang cukup gelap tentang krisis ketidakpercayaan, kekecewaan, dan perilaku umum seorang manusia yang bisa berbuat jahat karena terlalu tenggelam dalam hawa nafsunya. Topik yang penuh energi negatif tersebut dikemas ke dalam musik yang beringas. 

Paralel dengan perilisan “Lust”, Divide juga meluncurkan sebuah video klip yang disutradarai oleh Adrybros (The Marauders). Visualisasinya menggambarkan intisari lagu, dimana cerita utamanya adalah sebuah tim pembunuh bayaran yang ditugaskan di sebuah lokasi yang gelap. Tanpa penglihatan, mereka malah terjebak dalam sebuah konflik yang membuat mereka menyerang sesama. Sebuah gambaran jika manusia bisa dikendalikan untuk melakukan hal buruk jika mata dan jiwanya ditutup. 

“Lust” dikerjakan secara kolektif oleh Divide bersama Ichal Tofandy yang berperan sebagai peramu musik. Sementara di departemen lirik, semua kata dirangkai oleh Dhenaldi Savirio. Ichal juga dipercayakan untuk menata suara (mixing) dan Azimuth untuk pelarasan suara (mastering). 

Sejauh ini, walau sempat didera gonta-ganti formasi, namun Divide berhasil menjaga eksistensi mereka dengan tetap agresif berkarya. Kurang dari setahun setelah terbentuk, Divide langsung meletupkan karya album mini (EP) bertajuk “Commas In Period”, lalu disusul album penuh pertamanya, “The Sun, The Moon, And The Truth” (2012). Sekitar empat tahun kemudian, album kedua “Sakunta/Sarpa” lahir, lalu disusul dua EP berjudul “Reanimate” (2019) serta “Nirwana” (2020). Setelah itu, masih ada dua rilisan single lagi, masing-masing berjudul “Menyakitkan” (2020) serta “Selamatkan Aku” (2021).

“Lust” sudah bisa didengarkan via berbagai platform digital seperti Spotify dan YouTube. (mdy/MK01)

.

.

Jika Anda - para pembaca Musikeras - menyukai tulisan-tulisan kami dan ingin membantu / peduli akan kelangsungan karir media kami, dengan senang hati kami menerima donasi dari Anda secara sukarela. Bantuan dana bisa dikirimkan (transfer) via aplikasi OVO Musikeras 083822872349. Berapa pun bantuan Anda sangat berharga buat kami. Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *