Dengan Suara Indie Rock/Shoegaze, RETLEHS Muntahkan Dosa Mematikan

Usai menutup 2021 dengan lagu rilisan tunggal bertajuk “Matahari”, yang lantas disusul karya berikutnya berjudul “Kaki” pada awal Juli tahun ini, kini unit indie-rock asal Jakarta ini menyimpulkan lima karya terbarunya – termasuk dua lagu yang disebutkan tadi – dalam kemasan album mini (EP) berjudul “Satyr’s Satire”.

Di perilisan EP yang bekerja sama dengan Sinjitos Collective tersebut, Retlehs yang mulai menggeliatkan karirnya pada 2021 lalu ini mengeksplorasi segala elemen yang berkaitan erat dengan sub-genre alternative, shoegaze hingga youthful angst untuk para pendengarnya.

“Kami bertiga beda secara referensi musik. Dan jujur, kenapa kami pilih indie rock, karena menurut kami itu satu-satunya genre yang sepertinya memang paling masuk ke arah itu,” ujar Retlehs kepada MUSIKERAS, mengungkap racikan musikalnya.

Retlehs yang diperkuat formasi Hariara ‘Hara’ Hosea (bass), Faizu Salihi (dram) dan Erlinda Anatasha (vokal) mengklaim diri mereka sangat terpengaruh shoegaze. Tapi perbedaan ketiganya membuat racikan akhirnya unik. Hara cenderung menyukai punk rock gaya lama dari era 70-90-an, lalu Faiz condong ke modern punk dan alternative rock, sementara Anatasha lebih tegas ke arah rock yang terkadang diselipi jazz.

“Kalau ditanya bagaimana kami mendeskripsikan konsep indie rock di EP, ya… imagine an angsty super edgy kid tryna make indie rock song, that’s how our indie rock is,” seru Retlehs menandaskan.

Keempat lagu plus satu trek alternatif dalam EP debut Retlehs itu sendiri merupakan bagian pertama dari interpretasi mereka terhadap konsep klasifikasi dosa dalam ajaran agama Kristen, yang populer ditemukan di berbagai produk budaya pop, yakni ‘Tujuh Dosa Mematikan’ (The 7 Deadly Sins). Lagu “Blue” mewakili dosa hawa nafsu (lust), “Kaki” mewakili dosa kesombongan (pride), “St. Adella” untuk dosa iri hati (envy), sementara “Matahari” merupakan rangkuman implikasi dari ketiganya. Melalui EP ini, Retlehs juga memberikan para pendengar kesempatan untuk menikmati versi alternatif dari lagu “Matahari”.

.

.

Lagu unggulan utama dari “Satyr’s Satire”, yakni “Blue” menceritakan sebuah analogi karangan vokalis Erlinda Anatasha yang menyuarakan amarahnya terhadap kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak di institusi keagamaan. Mewakili dosa hawa nafsu, trek tersebut ia tulis seusai menyaksikan film karangan Tom McCarthy, “Spotlight (2015)”, yang ditulis berdasarkan pada kisah pelecehan seksual terhadap anak oleh sejumlah besar pastur gereja Katolik Roma di Boston, Amerika Serikat.

Secara kebetulan, EP ini dirilis tak lama setelah tersiarnya berita kasus kekerasan seksual terhadap anak di sebuah pesantren di Indonesia. Sebuah bukti atas relevansi isu yang diangkat oleh Retlehs dalam keseharian. Menganalogikan anak-anak korban kekerasan seksual sebagai malaikat yang tersiksa, “Blue” adalah lirik pertama yang ditulis oleh Anatasha untuk Retlehs, sekaligus satu-satunya lagu berbahasa Inggris di rilisan band ini.

Saat menggarap “Satyr’s Satire”, para personel mengawalinya tidak dengan berkumpul bersama di studio. Anastasha menyampaikan ide-idenya dari Cikarang, lalu Hara di kawasan Jakarta Selatan dan Faiz di Tangerang. Makanya terbilang agak lama karena digerakkan dari jarak terpisah. Mereka juga sempat kesulitan mengatur waktu yang sesuai jadwal masing-masing.  

Dalam penggarapan produksinya, ada beberapa tantangan yang sempat dihadapi Retlehs. Saat menggodok “St. Adella” misalnya, Faiz sempat merasa kurang puas dengan sound gitar yang diterapkan di lagu itu, hingga melibatkan Raka Rayhanza – yang juga mengisi vokal di lagu “St. Adella” – lalu Savio Ligina dan disempurnakan oleh Urfan Zakka. Kemudian di komposisi “Blue”, mereka juga menginginkan adanya harmoni suara (choir) yang akhirnya dibantu oleh Beno Louloulia, gitaris Lalahuta yang kebetulan bisa membantu mengaransemen pembagian suaranya. Masih di lagu ini, Retlehs juga mengajak Olivia Ruth dan Sophia Utami untuk ikut berkontribusi di vokal.

“Kalau nggak salah, total lagu ‘Blue’ (melibatkan) 130-an track,” cetus Retlehs mengungkapkan.

Dalam menciptakan karya-karyanya, para personel Retlehs juga sedikit banyak terinspirasi beragam musisi dunia, di antaranya macam Deftones, Muse, Dave Grohl hingga Travis Barker.

O ya, tentang judul “Satyr’s Satire”, Retlehs mengambil inspirasinya dari Satir, makhluk manusia setengah kambing dari mitologi Yunani yang menurut Retlehs punya tabiat buruk hingga tidak berhasil mengendalikan berbagai hasrat dan aksinya yang merugikan makhluk lain. EP ini merupakan interpretasi Retlehs tentang manusia yang tak bisa membatasi dan mengendalikan dirinya, hingga seakan-akan menjadi manusia setengah binatang. Bagi Retlehs, sifat-sifat binatang tidak seharusnya dilakukan oleh manusia. Mereka pun tak punya superioritas moral untuk menggurui orang lain.

Setelah “Satyr’s Satire”, Retlehs berencana untuk merilis satu EP lagi yang akan menyempurnakan lantunan kisah “Satyr’s Satire”, awal tahun depan. (mdy/MK01)

Kredit foto: Joseph Saryuf

.

.

Jika Anda - para pembaca Musikeras - menyukai tulisan-tulisan kami dan ingin membantu / peduli akan kelangsungan karir media kami, dengan senang hati kami menerima donasi dari Anda secara sukarela. Bantuan dana bisa dikirimkan (transfer) via aplikasi OVO Musikeras 083822872349. Berapa pun bantuan Anda sangat berharga buat kami. Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *