Unit cadas asal Kediri, Jawa Timur ini sebenarnya sudah menggeliat sejak 2016 silam. Namun sejak 2021 lalu, Deserter seolah terlahir kembali. Selain diperkuat formasi baru yang merupakan gabungan dari beberapa personel band lain, juga lantaran adanya manuver tajam di konsep musiknya. Seperti yang telah mereka terapkan di karya rekaman bertajuk “Demo 2022”, yang beramunsikan dua lagu, yaitu “Mutilated by Truth” dan “Path of Torture”.
Tadinya, Deserter yang digerakkan oleh A Ardiansyah (vokal), Bima Anggara (gitar), Yosi Santoso (bass) dan Humam Aliy (dram) merupakan penganut paham death metal. Tapi kali ini, digeber lebih ekstrim, dengan memaksimalkan jurus-jurusnya di ranah brutal death. Keputusan itu sendiri diambil atas saran Bima Anggara. Gitaris yang berasal dari band Sereignos tersebut, lantas sekalian dipercayakan untuk meracik aransemennya.
Garis merahnya, lebih mengarah ke musik a la band brutal death asal Italia, Putridity yang mengandalkan beat kencang dan breakdown, tanpa adanya ketukan thrash, plus riff rapat yang minim pengulangan, dengan hitungan yang terkesan ganjil. Pengaruh lainnya juga datang dari band-band seperti Liturgy dan Condemned (AS), Cerebral Effusion (Spanyol) hingga Pyaemia (Belanda).
Proses rekaman “Demo 2022” menguras waktu selama kurang lebih enam bulan, dimulai sejak Oktober 2021 hingga Maret 2022. Rekaman isian gitar dan bass dieksekusi di Nith Soundlab studio milik Bima, lalu vokal direkam di Ultra Organic Studio, sementara untuk dram plus mixing dan mastering dirampungkan di Volcanic Studio.
.
.
“Setiap instrumen memiliki kesulitan tersendiri, dikarenakan ini (rekaman) perdana kami yang, sebelumnya memainkan death metal, lalu banting setir memainkan arasemen brutal death. Sangat berbeda dari segi pattern, hitungan ganjil dan minim pengulangan riff. Karena hal itu kami pun sempat membuang beberapa materi lama,” urai pihak Deserter kepada MUSIKERAS, mengungkap proses kreatifnya.
Saat rekaman gitar, vokal maupun dram, lanjut Deserter lagi, mereka sempat beberapa kali mengulang rekamannya, hingga menguras banyak waktu, biaya dan tenaga.
“Namun pada akhirnya, kami berusaha semaksimal mungkin dan hasilnya cukup memuaskan. Terima kasih kepada Aulio Dwika (Ultra Organic) dan Avaness (Volcanic Studio) karena telah membantu kami dalam menghasilkan sound brutal. Dan terima kasih kepada Jossi Bima untuk duet vokal di track 1. Mereka adalah orang-orang yang berpengaruh dalam proses rekaman Deserter.”
Tidak sia-sia usaha keras Deserter dalam menggarap “Demo 2022”. Karena akhirnya, karya tersebut mendapat tanggapan positif dari sebuah label dari AS bernama New Standard Elite (NSE). Label tersebut tidak hanya setuju untuk mengedarkan “Demo 2022”, namun juga sekaligus mengikat janji dengan Deserter untuk perilisan album penuh.
Sebenarnya, Deserter sempat mengirim demo ke banyak label, dan ada beberapa di antaranya yang bahkan tidak merespon sama-sekali. Tapi pada akhirnya, saat mereka mencoba mengirim ke NSE, di luar ekspektasi ternyata mendapat sambutan yang baik. “(Jadi) Buat kalian para brutalhead, jangan minder karena musik dari Indonesia sekarang sudah diperhitungkan di kancah international,” seru Deserter berusaha meyakinkan.
Sambil mempromosikan “Demo 2022”, Deserter memang juga sudah memulai penggodokan album penuh. Sejauh ini mereka sudah mengumpulkan tujuh lagu. “Kami akan menyelesaikannya tahun ini untuk keseluruhan materi, dan akan merekamnya setelah materi sudah full. Untuk perilisannya belum ada target, mungkin secepatnya tahun depan.” (mdy/MK01)
.
.
1 comment