Tak ingin terjebak dalam kevakuman, menjadi latar belakang tercetusnya proyek rock baru asal Jakarta ini. Awalnya, sang vokalis Robert ‘Robbie’ Matulandi tak ingin diam menunggu nasib lantaran bandnya, Razzle sedang dalam proses hibernasi. Ditambah lagi kekangan pandemi yang semakin membatasi ruang gerak.
Robbie lantas menginisiasi terbentuknya Roax pada 2020 lalu bersama seorang musisi bernama Mono Rockway. Namun karena Mono disibukkan menjalani profesinya sebagai manajer sebuah cafe di Bogor, akhirnya ia memilih untuk berada di belakang layar. Robbie sempat pula melibatkan Arya Pradana, gitaris Bangkar. Namun juga terhadang kesibukan Arya bersama band sendiri.
Tapi akhirnya, formasi Roax berhasil terbentuk dengan bergabungnya Irwan ‘Iwan’ Xaverius (bass), Bayu Mahardhika aka Bay Guitaro (gitar) dan Mezzofonti C. F. Boer (dram). Iwan tentunya bukan nama asing, karena ia sebelumnya dikenal sebagai pembetot bass di grup rock Edane dalam periode 1991 hingga 2005. Bersama Iwan, Robbie juga sempat memperkuat Edane di album “Time to Rock’ (2005), sebuah karya rekaman yang antara lain melejitkan lagu “Cry Out” dan “Rock In 82”.
“Akhirnya gue ajak Iwan untuk posisi bass, pas lagi hangout lihat perform band di suatu cafe. Kami ajak Iwan, lalu Bay Guitaro dan Mezzofonti, dapat (rekomendasi) dari Arya Pradana,” ujar Robbie kepada MUSIKERAS, mengungkapkan.
“Ya, ini memang gagasannya Robbie dengan Mono. Serulah,” seru Iwan menimpali.
.
.
Roax sendiri menggeber paham rock yang kental akan nuansa ’90-an, namun dibalut dengan racikan sound yang lebih modern. Hasilnya, kini sudah bisa didengarkan lewat lagu rilisan tunggal pertamanya, yakni “Biarlah”, yang diciptakan oleh Robbie dan Mono Rockway.
Di lagu yang diproduseri oleh Robbie dan Sangumanagement tersebut, Roax menyatukan berbagai referensi yang dibawa oleh masing-masing personel. Robbie saat itu sedang getol mendengarkan lagu-lagu milik band seperti RATT, Whitesnake, Def Leppard, Jane’s Addiction dan semacamnya. Agak mirip dengan Iwan, yang juga mengarah ke band seperti Whitesnake dan Mr. Big. Sementara Bay lebih ke isian gitar yang terinspirasi gaya yang mengacu ke Akira Takasaki (Loudness) serta Steve Vai. Lalu terakhir Mezzofonti, menggenapkan kekentalan “Biarlah” lewat permainan dram yang sedikit banyak terpengaruh gaya John Bonham (Led Zepeplin) dan Fajar Satritama (Edane).
“Prosesnya hanya beberapa bulan, kira-kira rekamnya tiga bulanan, karena pas pandemi jadi stuck,” cetus Robbie lagi, tentang penggodokan rekaman “Biarlah”.
Setelah tekanan pandemi agak renggang, Robbie mengajak Iwan meneruskan rekaman di studio milik rekannya, Agung Marcos, tepatnya di studio bernama StudionyaRay. Lalu isian bass juga dilakukan di studio rumahan milik Iwan. Setelah seluruhnya rampung, dilanjutkan pemolesan mixing dan mastering yang dieksekusi oleh Bayu Randu dari Greenland Indonesia, yang menjadi produser eksekutif untuk produksi lagu tersebut, sekaligus menggarap video musiknya.
Gebrakan Roax tentunya tidak terhenti di lagu “Biarlah”, karena saat ini, mereka telah menyiapkan lagu lainnya yang direkam di studio milik Bayu. Sebuah lagu bertajuk “Roax and Rollin’” yang diciptakan oleh Iwan, dengan imbuhan lirik dari Robbie. Konsepnya, tetap di jalur yang mengombinasikan elemen heavy metal, glam metal, glam rock hingga sedikit kegesitan rock n’ roll.
Tapi sejauh ini, belum ada rencana untuk konsep yang lebih besar seperti album. Karena menurut Iwan, tentunya tidak bisa dilakukan dengan segera, karena semuanya butuh proses. “Ya, kalau berbicara tentang album, pastinya membutuhkan waktu dan money!”
“Biarlah” sudah bisa dilantangkan lewat berbagai kanal digital seperti Spotify, Apple Music, Resso, Joox, Deezer, TikTok dan YouTube. (mdy/MK01)
.
.