Usai bongkar pasang personel yang berujung hiatus dalam waktu yang cukup lama, akhirnya pasukan deathgrind asal Bandung, Jawa Barat ini berhasil lepas dari belenggu kejenuhan. Saat pandemi datang merampas kebebasan sosial, Ageless dihidupkan kembali dan menyatukan kekuatan baru. Ujung-ujungnya, mereka menghasilkan lagu baru yang bertajuk “Corona Virus”, terinspirasi dari situasi yang melanda saat itu.
“Corona Virus” sendiri merupakan lagu terakhir yang direkam Ageless, dan kemudian disertakan dalam “Metamorphosis”, album pertama mereka yang menggambarkan perjalanan Ageless sejak mulai aktif pada 2007 silam hingga saat ini. Proses tracking dilakukan secara bertahap di beberapa studio rekaman di wilayah Bandung Barat dan Cimahi lantaran terbentur keterbatasan tatap muka. Pengerjaannya menghabiskan waktu selama dua tahun, tepatnya dimulai pada 2019 hingga 2021 lalu.
“Album ‘Metamorphosis’ merupakan sebuah album dengan proses yang panjang, karena merupakan kumpulan dari single kami yang terdahulu sebelum hiatus selama beberapa tahun,” ujar Ageless kepada MUSIKERAS.
Ageless yang kini dihuni Yudha Ramdhana (vokal), Widie ‘Godin’ Hermawan (gitar), Roby Adigunawan (bass) dan Gugun ‘Guns’ Gunawan (dram) menyampaikan lirik bertema sosial di “Metamorphosis” dengan bahasa yang sederhana, namun dilampiaskan lewat geraman vokal berteknik growl plus teriakan yang depresif. Keseluruhan lantas dibalut riff ber-tone rendah serta distorsi yang berat diimbangi dengan entakan dram yang bernuansa grindcore, thrash serta death metal, plus sedikit terapan breakdown yang lahir dari berbagai pengaruh di perjalanan musik Ageless.
.
.
“Kebanyakan dari lagu kami merupakan cerita yang terinspirasi dari kehidupan kami sehari-hari, yang pada awalnya dikemas dengan cenderung ke arah hardcore thrash metal. Dan seiring dengan pergantian personel di band kami, mau tidak mau memberikan pengaruh dalam musikalitas serta aransemen lagu kami, yang akhirnya kami usung menjadi deathgrind. Referensi musik dari setiap personel kami yaitu Sepultura, Suffocation, Dying Fetus, Earth Crisis, Jasad, Burgerkill, Disinfected dan Forgotten. Mereka yang memberikan pengaruh besar dalam musikalitas kami. Tapi secara sound lebih cenderung ke Cannibal Corpse.”
Di album “Metamorphosis”, Ageless memuntahkan delapan amunisi lagu, yaitu “Lubang Berkalang Darah” dan “Dendam Abadi” yang sudah pernah dilepas sebagai lagu rilisan tunggal sebelumnya, lalu “Kotor di Jiwa”, “Bangkawarah”, “Carnivora”, “Ulah Wani”, “Corona Virus” dan karya lagu Ageless yang paling pertama, “Asa Aing”.
Lagu yang disebut terakhir tadi disebut Ageless sebagai karya yang tersulit dan melelahkan penggarapannya. Selain karena single awal, juga karena lagu tersebut melibatkan banyak orang dalam proses pembuatannya. Lagu “Asa Aing” merupakan lagu yang menyampurkan Karinding, instrumen tradisional khas Sunda, dengan instrumen modern.
“Cukup sulit untuk menentukan nada dan tangga (nada) yang akan digunakan lantaran karinding yang dipakai waktu itu belum menggunakan notasi, sehingga untuk satu lagu itu kami sengaja memesan karinding khusus yang bernada dasar C,” ujar Ageless beralasan.
Album “Metamorphosis” sendiri diedarkan dalam format cakram padat (CD) dan kaset pita via Stocker Records, namun juga telah tersedia di berbagai platform digital. (mdy/MK01)
.
.
🔥🔥🔥 🤘🏻 Ulah wani