Gelegar Death Metal di Karya Debut DAKSA AND THE CLAN

Mengawali karirnya di ranah hardcore, unit cadas yang para personelnya dipertemukan oleh berbagai hajatan ‘bawah tanah’ di seputaran Yogyakarta ini akhirnya berhasil mengeksekusi karya rekaman pertamanya. Sebuah lagu rilisan tunggal bertajuk “Legacy of Sprat”, yang telah digaungkan Daksa and The Clan (DATC) ke publik metalhead sejak 9 Desember 2022 lalu.

Tapi di gebrakan pertamanya ini, hardcore tidak lagi menjadi intisari musiknya, melainkan ditingkatkan ke pola death metal yang lebih beringas. “Kami berganti haluan menjadi death metal karena kami ingin meningkatkan tempo permainan menjadi lebih tinggi dibanding sebelumnya. Maka dari itu kami berubah menjadi band yang memainkan death metal hingga sekarang dan ke depannya,” cetus DATC kepada MUSIKERAS.

Alexander Rafel (vokal), Nada Dewana (gitar), Fajar ‘Blek’ Rama (gitar), Edwin Pradipta (bass) dan Reinhart Marchell (dram) melampiaskan “Legacy of Sprat” setelah berjalan hampir setahun, sejak resmi terbentuk. Proses kreatifnya dilakukan secara kolektif. Berawal dari Edwin yang mengirim secarik lirik ke grup chat, kemudian masing-masing personel langsung meresponnya dengan membayangkan dan mendiskusikan aransemen yang pas untuk memasaknya. Tahapan selanjutnya membawanya ke fase workshop, lalu dilanjutkan dengan latihan di studio untuk menyatukan isi kepala, sekaligus menyempurnakan aransemennya.

“Legacy of Sprat” direkam di South Star Records selama dua hari, bekerja sama dengan produser Anselmus Bagas Putra Kumara. Sementara untuk pemolesan mixing dan mastering dipercayakan kepada Angger Putra Yudiarta. Untuk melengkapi kepadatan aransemennya, DATC juga melibatkan tambahan permainan string oleh rekan mereka, Rosario Gilang.

.

.

“Setelah aransemen sudah jadi pun, kami masih ada perombakan dalam aransemen karena ada rasa belum puas terhadap aransemen sebelumnya. Ketika proses rekaman, kami acap kali memasukkan elemen atau part tambahan yang sebelumnya tidak ada dalam set aransemen kami, hanya untuk memenuhi ke-BM-an (banyak mau) kami, hehehe.”

Luapan komposisi musik DATC di “Legacy of Sprat” dibuat padat, dengan agresivitas dram yang meledak-ledak serta gelegar distorsi dengan gaung suara monster yang banyak dipengaruhi oleh band-band death metal beringas dunia seperti Suffocation, Meshuggah, Cryptopsy, Defeated Sanity hingga Dying Fetus. Mereka menyiptakan nuansa seperti terombang-ambing di atas ombak kelabu dan deru angkara yang cadas. 

“Konsep death metal yang kami terapkan di single ini, yaitu kami ingin memadupadankan oldschool death metal dengan tone yang lebih modern. Jika ditanya apa yang membedakan dengan band death metal lainnya, mungkin terletak pada nuansa yang berbeda di setiap part-nya dengan menambahkan unsur atau elemen dari genre lain. Semisal pada debut single ini, kami menambahkan sedikit unsur shoegaze, black metal dan string orchestra.”

Mesin distorsi yang sudah panas bakal diteruskan oleh DATC untuk sejumlah rencana di 2023. Salah satunya adalah menggenjot penggarapan materi untuk album mini (EP) debut mereka, serta rencana untuk melakukan tur seputaran Jawa. Sejauh ini, penggodokan EP sudah mencapai 50% dari keseluruhan tahapan produksi. Mereka masih menjalani proses penambahan materi, sambil mematangkan aransemen lagu-lagunya.

“Legacy of Sprat” sudah dapat dinikmati di seluruh gerai musik digital macam Spotify, Deezer, Apple Music, Joox, Shazam, Resso, Tiktok dan lain-lain. (mdy/MK01)

.

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
no8
Read More

NO8: Nadin Amizah Versi Modern Metal?

Fenomena band atau solois rock berkedok dan merahasiakan identitas aslinya mulai menjalar ke Indonesia. Salah satunya diadopsi NO8 yang berasal dari Bandung.