TRAUMA Panaskan Album Baru, Sambil Mengenang “Human Suffering”

Kubu unit death metal senior asal Jakarta, Trauma bergolak lagi. Pada awal Juli 2023 mendatang, mereka akan menggelar aksi panggung khusus berlabel “28 Years Human Suffering” di Rooftop, Pasar Gembrong Baru, Cipinang Batu Selatan, Jakarta Timur. Hajatan tersebut, diinisiasi oleh Lorong Hitam untuk mengenang “Human Suffering”, salah satu lagu anthem di setiap penampilan panggung Trauma. 

Sedikit menengok ke belakang, “Human Suffering” merupakan salah satu trek yang menjadi amunisi dari “Extinction Of Mankind”, album penuh pertama Trauma yang dirilis resmi pada 1998 silam via label Morbid Noise Records, dalam format kaset. Tahun berikutnya, – masih dalam format kaset – dirilis lagi oleh Psychic Scream Entertainment, Malaysia untuk wilayah Malaysia, Singapura dan Thailand. Kemudian pada tahun 2000, “Extinction Of Mankind” kembali dihadirkan oleh label Owl Records asal AS, untuk kebutuhan pasar internasional dalam format kaset dan CD.

Namun banyak yang mengira, acara “28 Years Human Suffering” digelar sebagai peringatan ulang tahun serta reuni Trauma. Vokalis Trauma, Nino Aspiranta pun akhirnya merasa perlu membuat klarifikasi. Kepada MUSIKERAS, ia menegaskan bahwa “28 Years Human Suffering” bukanlah acara anniversary Trauma. “Bukan juga acara reuni…,” serunya menegaskan.  

Selain menggelar konser skala kecil, “28 Years Human Suffering” sendiri nantinya juga menjadi wadah bagi Trauma untuk berbagi kisah, mengungkap berbagai kenangan di balik lagu “Human Suffering”, mulai proses penulisan lirik hingga popularitas lagu tersebut. Dan sejak era ’90-an, Trauma tidak pernah menyatakan vakum atau bubar. Hanya, sempat berhenti untuk beraksi di panggung lantaran terjegal pandemi. 

.

.

“Saat itu kami lebih memilih fokus merampungkan rekaman album terbaru atau yang keenam, yang Inshaa Allah dapat segera dirilis tahun ini. Sekarang kami sudah menyelesaikan enam dari delapan lagu yang direncanakan. Minggu depan lanjut rekaman lagi,” urai Nino memberi bocoran.

Hingga hari ini, dan sejak terbentuk pada 18 Agustus 1992 silam, Trauma masih setia menggeber distorsi lagu-lagu mereka di jalur death metal gaya lama. Termasuk konsep yang diterapkan di “Balakosa”, album penuh terakhir mereka yang diluncurkan pada 2019 silam.

“Tetap di jalur old school death metal, kurang lebih seperti materi album ‘Balakosa’, tapi (kini) kami bikin lebih galak lagi!”

O ya, tahun ini, perjalanan karir Trauma tepat menginjak usia 31 tahun. Sempat belasan kali mengalami bongkar pasang personel di era awal, namun sejak 2015, secara konsisten Trauma diperkuat formasi Nino Aspiranta, Rusdi Hamid (bass), Ramadhani Utomo (dram) serta Henri Kemal (gitar).

Sejauh ini, Trauma telah merilis dua karya rekaman demo, lima album penuh, lima album berbagi (split) – baik dengan band dari dalam maupun luar

Indonesia – serta turut berpartisipasi di sekitar 50 album kompilasi. Di antaranya seperti “Metalik Klinik I”, “Metalik Klinik V”, “Panggilan Pulau Puaka 2” dan “Panggilan Pulau Puaka 4” (Malaysia) serta “Tribute To Dehumanizer” (AS). Selain bergerilya di berbagai kota di Indonesia, juga tercatat telah berkesempatan tampil di depan metalhead Singapura, Thailand dan Malaysia. (mdy/MK01)

.

.

1 comment
  1. eksistensi Nino dan TRAUMA sangat perlu dicontoh dan menginspirasi…. semoga dengan itiqomahnya kalian (Nino cs), TRAUMA bisa mendunia….aamiin…aa\m/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
no8
Read More

NO8: Nadin Amizah Versi Modern Metal?

Fenomena band atau solois rock berkedok dan merahasiakan identitas aslinya mulai menjalar ke Indonesia. Salah satunya diadopsi NO8 yang berasal dari Bandung.