Setelah hampir satu tahun tidak menelurkan karya baru, akhirnya kuartet alternative/modern rock asal kota Malang, Jawa Timur ini berhasil merampungkan dan merilis karya lagu rekaman tunggal terbarunya. Bertajuk “Wajah”, dan merupakan bagian dari kampanye “Tanah Terik Untuk Berdiri Dan Mati” menuju album kedua Shellin yang rencananya bakal dilontarkan pada awasl atau pertengahan tahun depan.
Sebelumnya, formasi yang menggerakkan Shellin, yakni M. Fitryan ‘Abo’ Al-Fajri (vokal/gitar), Dwiky Rifandiant (gitar), Rifqy Izzatul (kibord/synth) dan Gesang ‘Icang’ Priya Pamungkas (dram) sudah merilis lagu “Opia”, “Tantrum” dan “Sulung”, juga sebagai pembuka jalan menuju “Tanah Terik Untuk Berdiri Dan Mati”.
“’Wajah’ merupakan komposisi yang tepat untuk comeback kami kali ini,” seru Shellin menegaskan.
Kisah di lirik “Wajah” sendiri diangkat dari keresahan para personel Shellin dan teman-teman dekat mereka. Merupakan ungkapan rasa muak akan lingkungan yang tidak mampu memahami mereka. Lingkungan yang hanya mampu memberi kritik, nasehat-nasehat omong-kosong, dan merasa paling benar tanpa tahu kondisi satu sama lain hingga memicu perasaan direndahkan, muak dan kemarahan.
“Pada dasarnya, cerita di ‘Wajah’ ini, kami hanya ingin mencari tempat aman dari lingkungan ‘sok suci’ dan merasa paling benar sendiri. Orang-orang atau lingkungan seperti ini pasti sering kita temui entah di tempat kerja, pertemanan, atau bahkan keluarga kita sendiri,” urai Abo selaku penulis lirik pada lagu tersebut.
Dari sisi produksi, Shellin menggodok materi “Wajah” dalam waktu kurang lebih tiga bulan, dimana selama itu mereka fokus pada tahapan finalisasi serta pemolesan mixing dan mastering. Karena materi ‘mentah’ “Wajah” sendiri sebenarnya sudah mereka racik sejak lama. Keseluruhan proses rekaman dieksekusi Shellin secara mandiri, di markas mereka sendiri. Termasuk untuk mixing dan mastering yang dipercayakan kepada sang vokalis, Abo.
.
.
Satu hal yang menarik pada “Wajah”, Shellin tidak membawakannya sendirian, melainkan mengajak musisi lain untuk berkolaborasi. Tepatnya menggaet Dheka ‘Dugong’ Satria, vokalis Closure, band post-punk kawakan asal kota Malang. Dengan ciri khas suara Dugong yang berat, semakin menambah nuansa industrial ala Rammstein, Architects, Nine Inch Nails dan Ghostmane di komposisi “Wajah” yang kental akan nuansa electronic rock serta balutan sound scape.
“Dari segi karakter vokal, suara dari Dugong bisa dibilang cukup unik. Dengan pembawaan yang rendah dan berat, kami ingin menghadirkan warna suara yang berbanding terbalik dengan gaya vokal Abo,” ujar pihak Shellin kepada MUSIKERAS, meyakinkan alasannya.
Tentang konsep musiknya sendiri, lebih jauh, para personel Shellin mengaku banyak mengeksplorasi rancangan suara serta sentuhan nuansa elektronik pada musiknya. Konsep itu didasari oleh kemampuan para personelnya di bidang itu.
“(Lagu) ‘Wajah’ sendiri ingin mengeluarkan efek ‘eksplosif’ dari sisi elektroniknya. Hal inilah yang mendasari deskripsi dari alternative/modern rock dari Shellin, dan menjadi pembeda dari band-band sejenisnya. Sampai sekarang Shellin tetap konsisten dan semakin mengembangkan gaya yang menjadi ciri khas tersebut.”
Rencananya, akan ada satu lagu lagi yang diluncurkan Shellin setelah “Wajah”, sebelum benar-benar meletupkan “Tanah Terik Untuk Berdiri Dan Mati”. Bisa dibilang, kampanye itu sekarang sudah melewati setengah jalan. Shellin memastikan, akan ada sekitar 10 atau 12 lagu yang menjadi amunisi album terbaru mereka nantinya.
Shellin yang terbentuk pada 2016 silam sebelumnya sudah menancapkan eksistensinya di kancah musik independen lewat album debut bernuansa progresif bertajuk “Bhaskara” pada 2020 lalu. Sejak 7 April 2023 lalu, “Wajah” sudah bisa dilantangkan melalui berbagai saluran platform digital. (mdy/MK01)
.
.