“Metalheads wajib punya album kami, karena saat mendengar lirik dan musik kami, selain amarah dan kritik kepada keadaan terluap, kami (juga) mengajak metalheads yang muda, yang paruh baya untuk tetap menjaga hidup, fisik sehat, mental dan tetap dengan mindset positif. Let’s have positive mental attitude inner and outer for life!”
Derau mempromosikan album studio terbarunya yang bertajuk “Damn It” lewat kalimat optimistis di atas. Kurang lebih selaras dengan niat menggeliatkan band ini sendiri, dimana para personelnya memang sengaja berkumpul untuk melepas kegelisahan dalam pekerjaan dan kehidupan sehari hari dengan bermusik. Namun demikian, mereka menjalaninya bukan sekadar penyaluran hobi, melainkan dieksekusi dengan serius, dan dengan pola pikir serta kinerja yang positif serta profesional.
“Intinya totalitas,” seru penggebuk dram Derau, Justin Jackie Wicaksono aka Jack Bowe meyakinkan.
“Damn It” sendiri merupakan karya album kedua Derau, yang kini masih dihuni Rino ‘Jonges’ Fardino (vokal), Ikhlas ‘Tommy’ Narotama (gitar), Kiki Fahrezy (bass) dan Jack Bowe. Ada 10 amunisi berhulu ledak tinggi di kemasan album tersebut, yang diciptakan para personel Derau secara bersama-sama. Kecuali tiga di antaranya yang merupakan karya Jack Bowe bersama gitaris Arik Lenski di band sebelumnya, Underground Tower dari era ’90-an.
Sebelumnya, Derau yang mulai digelindingkan ke skena pada akhir 2018 lalu juga sudah merilis album mini (EP) berisi lima lagu berjudul “KoiNonia” yang dirilis 25 Jan 2021 serta sebuah lagu lepas bertitel “Terror on My Sunday” yang diperdengarkan tahun lalu.
Di “Damn It”, Derau kembali menerapkan manuver-manuver yang terbilang tidak biasa dalam pakem hardcore. Makanya mereka lebih senang menyebut musiknya crossover hardcore. Seperti di album penuh debutnya ini, ada lagu bertajuk “Cangkem Asu” yang melibatkan permainan kendang dan gamelan dari Chaka Priambudi, seorang produser, musisi dan penggerak utama kelompok Lantun Orchestra. Di lagu itu pula, dilibatkan pula rekan-rekan mereka yang berasal dari Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur untuk lebih menginisiasi pengejaan lirik dan esensi penulisan bahasa pergaulan Jowo Walikan.
Menurut penuturan Kiki dan Jack, Derau memang sengaja memasukkan unsur campuran etnik lokal Indonesia ke dalam musik distorsi yang mereka mainkan sebagai ‘keharusan’ bagi mereka setiap kami merilis album. Juga ada terapan vokal opera atau choir dan hal-hal lain yang tidak terlalu pakem dalam musik hardcore.
Tapi terapan konsep semacam itu tentu saja menghadirkan konsekuensi secara teknis. “Cangkem Asu” misalnya, yang diakui oleh Jack malah menggiring mereka ke kendala teknis lantaran terjebak pemikiran mereka sendiri.
“Definisi sulit saat mengawali dan mendapatkan ide yang benar-benar ‘shocking’ menurut kami. Terjebak pemikiran kami sendiri saat meniatkan untuk pakai lirik Jawa asli dan Jowo Walikan di ‘Cangkem Asu’, karena lirik pun harus ada phrasing dan aksen supaya enak saat didengar namun tetap sarat makna,” urai Jack kepada MUSIKERAS, terus-terang.
Masih di “Cangkem Asu”, juga ada bagian tengah yang tadinya diniatkan untuk diisi permainan gitar lead. Sempat membuat mereka bingung, hingga tercetus ide untuk mengisinya dengan suara kendang dan gamelan yang bernotasi, yang dieksekusi dengan apik oleh Chaka Priambudi.
Sementara di lagu lainnya, kesulitan-kesulitan teknis lebih cepat disolusikan lantaran ide-idenya cukup lancar tersalurkan. Misalnya di lagu “Keep On Running” yang melibatkan vokal latar berformat paduan suara (choir) serta di lagu “Picnic 666” yang menghadirkan suara istri Rino pada bagian akhir lagu.
Proses rekaman “Damn It” yang dilakukan di Jakarta juga melibatkan bantuan teknis dari sound engineer Ikul Sarden, yang juga bertindak sebagai produser album sekaligus ikut berkontribusi di penyusunan komposisi-komposisi lagu. Lalu ada pula beberapa masukan dari Comin Konggo, koki tata suara untuk band Seringai. Sementara di lagu yang bertajuk “Gila”, Derau mendapat sumbangan permainan gitar dari Ade Himernio, gitaris band grindcore senior Jakarta, Noxa.
Album “Damn It” yang juga disesaki lagu “Get Rid (We Will Wild)”, “Peluru”, “Liberosis”, “Destroy Maself” dan “Together As One” dirilis secara tidak eksklusif di semua lini toko musik fisik Demajors Records. (mdy/MK01)
.