SAVAGE Eksplorasi Hardcore di ‘Titik Terendah’

Sebuah album berkontur crossover hardcore dimuntahkan untuk menandai tonggak baru dalam perjalanan musik unit cadas asal Salatiga, Jawa Tengah ini. Savage baru saja merilis karya rekaman kolektifnya yang bertajuk “Ground Zero”, dimana mereka telah berevolusi dalam peracikan musiknya.

Ada enam komposisi berhulu ledak tinggi yang menyesaki album tersebut, yakni “6 Letters/Self Penance”, “Ground Zero”, “Guilty as Charged”, “Nailbiter”, “Requiem” serta “Strictly Cursed” yang menghadirkan High Priest, unit Jamaican Sound dari Salatiga. Bagi penikmat musik hardcore yang menyukai musik dari band-band hardcore dunia macam Trapped Under Ice, Expire, Power Trip, Mindforce, Foreseen dan Six ft Ditch, diyakini pasti akan menikmati materi “Ground Zero”. 

“Dari segi musikal, di album ini kami kembali melakukan eksplorasi di area-area yang belum pernah kami jamah, dan semakin ke sini kami semakin nyaman untuk bermain musik crossover hardcore dengan riff yang lebih trashy dari karya-karya kami sebelumnya,” seru pihak Savage kepada MUSIKERAS, mempertegas konsepnya.

Proses kreatif penggodokan lagu-lagu di “Ground Zero” kebanyakan terakit saat para personelnya; Alfonsus Mario (vokal), Aprian Prayoga (bass), Aflach Hakiki (dram) dan Andri Kurniawan (gitar) melakukan latihan atau jamming di dalam studio. Saat mereka menumpahkan semua referensinya, dari situlah muncu ide-ide riff yang lantas dituangkan di album “Ground Zero” tersebut.

Proses pembuatan album kurang lebih menghabiskan waktu selama setahun, sementara eksekusi rekaman hingga post-rekaman sekitar dua bulan. Semau direkam, mixing dan mastering oleh Immanuel Widyanto di Chamber Pop Records, di Salatiga.. Tapi khusus untuk “Strictly Cursed”, mixing dan mastering dipercayakan kepada Adya Nadira.

.

.

Dari enam lagu yang disajikan, Savage mengakui “Guilty As Charged” adalah yang lagu yang cukup menantang eksekusi rekamannya secara teknis. Karena sampai saat proses perekaman vokal, mereka masih membenahi cara pemotongan lirik untuk menyesuaikannya dengan nada lagu tersebut. “Hingga akhirnya musik dan lirik ‘klop’ seperti yang bisa didengarkan sekarang!”

Savage sendiri yang dibentuk pada 10 Desember 2010 lalu dikenal akan ciri khas 2-step/beatdown hardcore andalannya, seperti yang telah mereka lampiaskan di album mini (EP) “Be Right Back” rilisan 4 Juli 2020 lalu. Atau dari album dua lagu bertitel “Silhouette” yang dilepasliarkan via Outta Sight Records (Solo) pada 26 April 2023. Karya ini mendapat respon positif dari skena ‘bawah tanah’ lantaran eksplorasi musik serta rancangan seni ilustrasi albumnya yang unik.

“Ground Zero” sendiri juga menampilkan artwork yang menakjubkan sekaligus kelam. Digarap oleh Mohzwart, seorang seniman berbakat dari Semarang, yang sebelumnya juga mengerjakan ilustrasi untuk karya rekaman band Kruelty dari Jepang serta Infect dari Medan. Sampul “Ground Zero” menampilkan gambaran menyeramkan tentang Shinigami, simbol kekelaman dan keniscayaan hidup, yang dengan sempurna merangkum tema sentral album tentang mencapai titik terendah atau ‘ground zero’. 

Antusiasme Savage tidak akan berhenti pada perilisan album ini saja. Dimulai pada 17 Agustus 2023 mendatang, mereka juga akan menjalani “Ground Zero Tour 2K23” yang melintasi wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jakarta. Tur tersebut digarap Savage bekerja sama dengan Outta Sight Records. Sementara untuk album “Ground Zero” sendiri telah resmi dirilis sejak 5 Agustus 2023 lalu, dan tersedia dalam format fisik serta digital melalui saluran distribusi Outta Sight, yakni https://outtasightrecords.bandcamp.com/. (aug/MK02)

.

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
no8
Read More

NO8: Nadin Amizah Versi Modern Metal?

Fenomena band atau solois rock berkedok dan merahasiakan identitas aslinya mulai menjalar ke Indonesia. Salah satunya diadopsi NO8 yang berasal dari Bandung.