Skena musik Bandung telah mendapat pengakuan luas sebagai salah satu lumbung talenta musik keras berbahaya di ranah ‘bawah tanah’. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga berhasil menggaungkan beberapa nama yang lumayan dikenal di pentas internasional. Semakin berkembang pesat, dan bisa dibilang hampir setiap saat melahirkan band-band metal berkualitas.
Salah satunya Birhatiihin, unit brutal death metal bentukan 2021 lalu yang siap menggempur skena lokal dan internasional lewat karya-karya orisinalnya. Band yang dihuni formasi Aditya Prakoso (gitar), Eggi Pradia (vokal), Yogi Praja (dram) dan Kusuma Said (bass) ini baru saja melepas sebuah album mini (EP) “Mythology Of Ignorance” ke platform digital serta dalam format fisik (CD). Tepatnya sejak 7 Juli 2023 lalu via label independen Kusuma Said Records.
Birhatiihin sendiri punya potensi yang terbilang sangat menarik perhatian. Band ini dibentuk didasari pada ambisi untuk meng-akulturasi spiritual dengan musik metal. Menurut Kusuma Said, sang pendiri sekaligus penggerak utama Birhatiihin, dunia metal yang sangat lekat dengan hal berbau negatif. Terutama minuman keras atau biasa disingkat ‘miras’. Diakui atau tidak, tiap acara musik metal hampir selalu melibatkan miras, walau tidak seluruh orang terlibat mengonsumsinya, namun minimal sebotol miras selalu ada.
“Didasari kenyataan tersebut, saya mencoba masuk ke musik metal tanpa harus mengikuti kultur di sana. Justru sebaliknya, saya mencoba menyebarkan dogma bahwa musik metal tidaklah harus selalu berkaitan dengan hal yang berbau kenakalan remaja. Ya, walau banyak orang tua bangka di sana yang masih nakal,” ujar Kusuma, blak-blakan.
Birhatiihin berkaitan erat dengan sebuah bait doa yang dijelaskan banyak kitab. Kusuma tidak bisa menyebutkan secara pasti berapa jumlah kitab yang membahas doa tersebut. Namun yang pasti, jumlahnya sangat banyak dan ia tidak mampu menghitungnya. Pada dasarnya, Birhatiihin adalah sebuah doa dalam bahasa Suryani yang memiliki makna “Yaa Quddus” yang artinya Allah yang Maha Suci.
“Saya memiliki banyak cerita dan kesan mistis, perjalanan spiritualitas, hingga menemukan banyak keterbukaan pemikiran, keterbukaan informasi alam gaib dan keterbukaan batin yang sangat nikmat. Oleh karena itu, sebagai dedikasi saya kepada Tuhan lewat Birhatiihin dan Kusuma Said Records, saya mendedikasikan semua yang saya miliki baik materi, waktu dan tenaga untuk membesarkan dan berdakwah lewat jalur yang memang saya sanggupi, yaitu musik,” beber Kusuma lagi.
Sebenarnya tidak ada perbedaan jika membandingkan Birhatiihin dengan band-band lain. Namun yang pasti, menurut Kusuma, Birhatiihin memiliki konsep idealisme tersendiri dalam bermusik. Dari sisi pribadi, ia tidak ingin sebuah musik hanya berisi omong-kosong soal penyiksaan, darah dan lain sebagainya. “Bagi saya, musik seperti itu kurang bermanfaat, bagi saya lho ya…. (Itu) Prinsip pribadi saya. Terserah orang lain mau berbeda dengan saya atau tidak,“ cetusnya meyakinkan.
Oleh karena itu, di dalam Birhatiihin, para personelnya ingin menyajikan musik yang tak hanya berkualitas, tapi juga menyampaikan siratan pesan-pesan di dalamnya, yang mungkin bisa dipahami oleh seluruh pendengar puluhan tahun mendatang. Harapan Birhatiihin, saat pelaku musik metal mulai lelah dengan kehidupan, bertambah usia atau bahkan berhenti karena suatu penyakit, orang-orang yang berhenti dari musik metal kembali membuka karya album Birhatiihin dan berhasil menemukan pesan yang disampaikan di dalamnya.
Birhatiihin yakin seluruh pelaku musik metal akan berhenti pada saatnya, baik karena lelah, usia atau faktor lainnya. Apa pun posisi mereka di skena musik metal saat ini akan ada masanya harus berhenti, akan ada masanya mereka mengalihkan fokus diri mereka untuk keluarga, agama dan jiwa mereka sendiri. Saat mereka berhenti, di situlah target Birhatiihin agar mereka bisa membaca pesan di dalam lirik-lirik Birhatiihin, yang jika diprosentasekan mengandung konsep satu persen musik dan 99% dakwah.
“Karena memang tujuan utama Birhatiihin adalah untuk menyebarkan pesan moral, kemanusiaan, norma dan spiritualitas. Oleh karena itu, Kusuma Said perlu mendirikan Kusuma said Records agar Birhatiihin menjadi band independen yang tidak bergantung pada label atau perusahaan apa pun. Biarlah Birhatiihin hanya bergantung pada Tuhan, bukan pada manusia.”
Lirik-lirik yang ditiupkan Birhatiihin di EP “Mythology Of Ignorance” sendiri terinspirasi dari keadaan dunia saat ini. Ribuan informasi yang disangka benar selama ini ternyata salah, atau jutaan dogma dan cerita ternyata hanya omong kosong belaka. Itulah yang menjadi dasar terciptanya EP “Mythology Of Ignorance”, yang diartikan sebagai ‘mitologi kebodohan’.
“Maksud dari EP tersebut adalah untuk menyadarkan bahwa Anda dan saya selama ini dibodohi oleh sesuatu hal yang kita kira kebenaran. Dan sudah tentu lagu-lagu lainnya di album-album mendatang akan berisi lebih banyak pesan untuk manusia.”
Tapi sebagai band metal, tentunya bukan hanya lirik yang menjadi fokus Birhatiihin dalam mengeksekusi “Mythology Of Ignorance”. Mereka juga mencoba menyerap banyak inspirasi atau referensi band-band cadas luar sebagai acuan secara musikal. Di antaranya seperti pejuang brutal death metal asal Yunani, Inveracity serta dua monster asal AS, yakni Suffocation dan Deeds of Flesh serta beberapa band sejenis mereka.
“Lebih ke konsep metal yang kompleks namun gampang dipahami aja sih. Ciri khas kami bakal kalian simpulkan sendiri ketika kalian mendengarkan lagu kami serta membaca liriknya di suasana tertentu. Rasakan sendiri sensasinya,” cetus Kusuma kepada MUSIKERAS, menegaskan.
Walau telah meluncurkan EP yang memuat lagu “Mythology of Ignorance”, “Manuscript of Horrific Magic”, “Samiri”, “Heka of Hor” dan “Mathuthul Sihri War”, namun Birhatiihin tak menetapkan target apa pun untuk perjalanan karir mereka selanjutnya. Mereka menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan. Jika Tuhan merestui, maka band ini akan besar.
“Semoga Allah merestui band ini! Semoga band ini menjadi bentuk amal yang jariyah bagi seluruh personelnya. Saat di akhirat kami tergelincir ke dalam api neraka, kami berharap ada album-album dari band ini yang menyelamatkan kami.“ (mdy/MK01)
.
.