“What does not kill me makes me stronger.”
Adagium terkenal dari filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche (dari buku “Twilight of Idols” terbitan 1889) di atas, menjadi salah satu referensi pesan yang disampaikan band hardcore asal Semarang, Jawa Tengah ini, di lagu rilisan tunggal terbarunya. Diberi judul “Pain is Truth”, sebagai respon terhadap maraknya kabar bunuh diri yang terjadi di banyak tempat.
Dalam “Pain is Truth”, Trap Inside percaya bahwa dunia adalah ladang memanen luka dan rasa sakit. Perasaan tersakiti, kecewa dan putus asa adalah perasaan wajar yang dialami setiap manusia, yang juga berarti bahwa seseorang tidak sendirian saat merasakannya.
Lagu itu, juga merupakan pesan untuk mereka yang masih bertahan, yang sebelumnya pernah terpikirkan untuk menyelesaikan hidup. Trap Inside mengajak pendengarnya untuk merengkuh luka-luka dalam hidup, alih-alih menjauhinya. Meskipun berat, dari melewati fase itu, manusia bisa menjadi lebih dewasa dan bertumbuh, selayaknya kutipan dari Friedrich Nietzsche tadi.
“Tetaplah bergelut di dunia yang semuanya terlihat sangat menyakitkan. Percayalah, masih banyak orang yang sangat perduli dengan dirimu. Jika sulit untuk mengungkapkan, bertemulah dengan orang-orang sekitarmu untuk melupakan sejenak yang terjadi denganmu,” tutur Trap Inside merinci pesannya.
Vokalis dan penulis lagu “Pain is Truth”, Hani Gibran mengutarakan kepada MUSIKERAS, bahwa apa yang ia ungkapkan di lagu tersebut, sedikit banyak didasari pengalaman pribadinya sendiri.
“Saya benar-benar hanya ingin menyampaikan semua pesan ini kepada kalian yang mental dan jiwanya sedang tidak baik-baik saja. Karena semua masalah yang kita dan orang lain alami sebenarnya adalah masalah yang sama, atau mungkin tidak jauh berbeda. Bukan untuk membandingkan, cuma gimana caranya kalian bisa survive di keadaan seperti itu dan bagaimana caranya menyikapi masalah tersebut.”
.
.
Proses penggarapan “Pain is Truth” sendiri menghabiskan waktu yang tidak sebentar. Tahapannya dimulai dari sang inisiator, gitaris Senna Fitriyanti, yang lantas dilengkapi oleh personel lainnya; gitaris Dian Eka Saputra, bassis Afryan serta dramer baru, Rico Apriliano yang masuk membawa pengaruh metal. Selama empat bulan, konsep “Pain is Truth” dimatangkan hingga akhirnya merasa mantap untuk direkam pada 28 Oktober lalu, di Hero Music Studio, Semarang. Untuk pemolesan di fase mixing dan mastering, dieksekusi di Winsome Studio, di Surakarta.
Adanya perubahan formasi sedikit banyak menggeser arah musikal serta referensi Trap Inside kali ini. Jika harus dideskripsikan, kini band bentukan April 2022 lali ini menyebut eksplorasinya mengarah ke oplosan heavy hardcore dan metalcore, yang banyak mengacu dari band-band seperti Simulakra dan Sanction (AS) serta Knocked Loose (Inggris).
“Kenapa kami mendeskripsikan musik di single terbaru sebagai heavy hardcore? Karena sangat berbeda dibanding karakter musik sebelumnya. Kami sangat menggunakan distorsi berat di lagu ini dan menambah beberapa ciri dram metal yang digabungkan pada beberapa part tertentu. Kami puas dengan musik baru kami, karena (merupakan) debut pertama dengan personel terbaru.”
Sebelum “Pain is Truth”, Trap Inside sudah melampiaskan karya rekaman berupa maxi-single “Demo 2022” pada Agustus 2022 dan lagu rilisan tunggal berjudul “Break the Chains” pada April 2023. Nah, dibanding rilisan awal tersebut, Trap Inside meyakinkan bahwa lagu terbarunya sudah sangat berbeda.
“(Sekarang) Kami banyak menggunakan tempo kencang pada isiannya. Terutama di karakter vokal pun sangat berbeda, dengan ciri vokal yang ekstrim serta tempo yang lebih kencang, atau isian lead gitar bernuansa gelap.”
“Pain Is Truth” sudah diperdengarkan di platform digital sejak 6 November 2023 lalu, dan dicanangkan sebagai nomor pembuka menuju album atau EP mendatang. Sejauh ini, mereka sudah mengantongi beberapa materi terbaru untuk melengkapinya. (mdy/MK01)
.
.