Sebuah eksperimentasi yang benar-benar memuaskan, dan diproyeksikan menjadi cetak biru Taruk untuk materi-materi selanjutnya. Pernyataan ini merujuk ke karya rilisan tunggal terbaru dari unit cadas asal Bandung, Jawa Barat tersebut, yang bertajuk “Mengangkangi Dunia”. Lagu tersebut sudah bisa digeber dari berbagai sumber penyuplai musik format digital sejak 17 November 2023 lalu.
“Mengangkangi Dunia” adalah gerbang menuju terapan formula musik Taruk yang lebih cadas. Karena sejak beberapa tahun ke belakang, muncul keinginan kuat dari para personelnya, yakni Karel (vokal), Bobby Agung Prasetyo (gitar), Muhammad Zulyadri Rakhman aka Boy (bass), Muhammad Matin Mahran aka Adul (dram) serta gitaris baru, Novriansyah aka Rian untuk bereksplorasi lebih jauh. Sesuatu yang lebih gelap, mencekam, dewasa, dan tentunya cadas.
Upaya pertama adalah merekrut gitaris baru, Rian. Langkah ini berhasil, dimana Rian dianggap sukses meningkatkan tantangan musikal Taruk lewat permainan gitarnya yang ternyata di atas ekspektasi. Semangat baru terkerek, dan Taruk pun lantas kembali menggarap sejumlah materi yang sempat mangkrak imbas pandemi Covid-19 lalu secara lebih intensif.
“Single ‘Mengangkangi Dunia’ adalah lagu terkompleks Taruk yang pernah ada. Setelah sekian lama bereksperimen menggabungkan banyak genre, saya pribadi merasa bahwa ‘Mengangkangi Dunia’ berhasil dan sangat memuaskan,” ujar Bobby, meyakinkan.
Sebagai gambaran, di “Mengangkangi Dunia”, pendengar akan disambut dengan pembuka bernuansa death metal, gang shout koloni hardcore haus moshing, dentum H8000 sepanjang teriakan parau, hingga tiba-tiba dentum dram d-beat yang melatari solo gitar nan memekik.
Sementara itu, lirik “Mengangkangi Dunia” sendiri diawali dengan frasa Veni Vidi Vici yang diplesetkan menjadi “Aku lihat, aku datang, aku mengangkangi dunia”. Narasinya bercerita tentang pertarungan jiwa dan raga terhadap sekat-sekat yang menghalangi batasan diri.
“Lagu ini adalah representasi wajah kami yang akan ditonjolkan ke depannya. Abrasif, sangar dan lebih ‘berdarah’,” seru Karel menimpali. “Bagi saya, ‘Mengangkangi Dunia’ adalah level pembaharuan yang patut diperhitungkan di berbagai lini. Dan ini adalah rock and roll homage bagi Arkangel, Pulling Teeth bahkan barisan metallic-hardcore/crust di mana pun kalian berada. We owe it to all of you!”
Sesi rekaman “Mengangkangi Dunia” berlangsung selama Mei 2023 di Funhouse Studio dan Southside Chamber, dengan bantuan teknis masing-masing dari Edo Djatmika dan Ihsan Akbar. Proses tersebut dilakukan paralel dengan dengan lagu lepas Taruk sebelumnya, “Bersulang Sampai Mati” yang dirilis pada 28 Juli 2023.
“Proses rekaman berjalan lancar tanpa kendala yang berarti, sehingga ide-ide yang terkumpul bisa dieksekusi secara optimal. Mungkin kelancaran proses rekaman juga memegang peranan yang penting mengingat materi lagunya cukup kompleks. Secara keseluruhan kami puas dengan hasilnya. Kami berusaha mengelaborasi lebih banyak ide dari yang pernah kami lakukan sebelumnya. Kami mengambil referensi dari genre-genre di luar genre yang biasanya kami dengarkan,” ujar Boy ikut menambahkan.
Sementara dari departemen desain sampul, perancangan “Mengangkangi Dunia” dipercayakan kepada Jeffry Arianto, dengan konsep yang menggambarkan dua dunia yang dijembatani naga dan dilingkari ular. Terinspirasi dari kisah pohon sakral Yggdrasil serta simbol kuno Ouroboros.
Lebih jauh tentang pemikiran di balik formula baru Taruk, berikut umbaran para personelnya kepada MUSIKERAS:
MUSIKERAS: Di press release disebutkan, seluruh personel Taruk menginginkan sesuatu yang lebih gelap, mencekam, dewasa, dan tentunya cadas. Apa alasan yang melatari keinginan tersebut? Apa yang ‘salah’ di konsep musik sebelumnya?
Bobby: “Mental dan pikiran kami berubah seiring pertambahan usia, otomatis cara pandang serta pengambilan sikap dalam hidup pun juga. Hal itu sedikit banyak memengaruhi proses kreativitas Taruk. Misal secara personal, cara saya marah, cara saya berdamai, dan cara saya merespons seni pun berbeda dengan dulu. Alhasil, saya tidak bisa membuat musik yang sama dengan lima tahun silam. Saya harus lebih baik, dan Taruk harus lebih matang dari sebelumnya. Proses mendewasakan band aja. Terus tidak ada yang salah kok dengan konsep musik sebelumnya. Toh, tidak banyak berubah juga, justru lebih banyak peningkatan dalam berbagai aspek.”
Karel: “Sederhananya, kami secara tidak langsung banyak menyerap perspektif bahkan eksplorasi dari sana-sini. Kami memiliki ‘mode’ pula ‘level’ lain justru dari musik yang bunyinya sangat jauh dari kami. Melihat tata produksi dan penulisan lagu atau materi di luar kebiasaan juga keluar dari cara lama. Tentu, kami harus selalu bertumbuh dan merekah, bukan sudah menjadi matang, kemudian berhenti begitu saja lantas menguap. Nope!
Tentu tak salah, ia yang membuat kami semakin menanjak guna semakin ‘kejam’ dan ‘mengancam’!”
Adul: “Bagi saya pribadi, proses pendewasaan dalam bermusik sangat penting. Maka dari proses kreatif yang kami lakukan sekarang juga berbeda dengan sebelumnya. Tambahan instrumen gitar pun jelas menjadi pembeda. Mungkin salah satu hal tersebut yang membuat musik kami semakin liar dan mencekam!”
Rian: “Setiap individu pasti punya pendewasaan yang berbeda dalam selera musiknya masing-masing. Saya pribadi sih sekarang, kalau bikin lagu pengennya yang simpel aja. Maksudnya merangkum beberapa referensi yang kompleks menjadi simpel dan bernyawa di setiap treknya.”
Boy: “Sebetulnya tidak ada yang ‘salah’ dari materi terdahulu. Bermusik bagi kami sama seperti hidup, pasti berprogres. Dan seiring perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidup kami masing-masing, otomatis itu juga mengubah pandangan kami terhadap pengumpulan materi, penguasaan materi dan eksekusinya. Ya, bisa dibilang proses pendewasaanlah yang menyebabkan perubahan ini.”
MUSIKERAS: Dengan konsep yang baru ini, apakah menurut kalian jalan menuju penggarapan album baru bakal semakin menantang? Bagaimana kalian mengantisipasi itu?
Bobby: “Jelas lebih menantang karena tidak segampang yang dulu. Tapi justru bagus juga, karena saya pribadi tidak ingin Taruk berjalan di tempat. Tidak ada upaya antisipasi spesifik untuk tantangan menggarap album baru, lebih kepada harus mendedikasikan waktu dan pikiran aja buat sekadar workshop saat menggodok materi.”
Karel: “Exactly! Justru itu akan jadi keseruan dalam tubuh kami semua. Sejumput mainan baru ketika semua dari kami bukan sosok pribadi di 4-5 tahun ke belakang. Tapi kami yakin, semakin tantangannya jauh lebih terjal, akan banyak cara untuk menggapainya. Entah peningkatan signifikan knowledge masing-masing personel dan sokongan ide dari kawan-kawan di luar tubuh Taruk itu sendiri. Sinergi adalah kunci.”
Adul: “Tentunya tantangan ini bukan menjadi hambatan buat kami untuk berprogres membuat album ke depannya. Justru seiring berjalannya waktu, ide dan referensi dari masing-masing kepala di tiap personel bertambah. Maka akan membuat kaya komposisi di album berikutnya.”
Rian: “Konsep baru dan ide-ide baru menurut saya jelas akan semakin seru untuk album Taruk selanjutnya, dengan mengeksplorasi berbagai macam referensi musik ini justru akan semakin absolut di musik Taruk yang akan datang.”
Boy: “Pasti semakin menantang, tapi juga pasti akan semakin seru. Sebetulnya tidak ada antisipasi khusus untuk proses selanjutnya. Kalau soal dedikasi waktu dan pikiran yang lebih banyak, itu wajar menurut saya, bukan sebagai antisipasi khusus. Buat saya sih lebih ke ‘just do it’ aja.”
Menuju Album
Sebelum “Mengangkangi Dunia”, Taruk yang mulai digeliatkan pada 2 Februari 2018 lalu sejauh ini sudah melepas beberapa karya rekaman. Yang pertama adalah lagu “Berapi-api” pada akhir 2018, lalu disusul album mini (EP) “Sumpal” pada Februari 2019 (digital) dan Agustus 2019 (fisik). Pada akhir 2020, Taruk ikut menyumbangkan lagu “Pesta Durga, Kegilaan Takkan Pernah Berakhir” di album kompilasi rilisan Grimloc Records yang berjudul “Dasawarsa Kebisingan”, sebelum melepas materi album penuh perdananya, “Bara dalam Lebam” pada 2 Maret 2021. Juga via label Grimloc Records.
“Mengangkangi Dunia” sendiri menjadi materi terakhir Taruk di tahun ini. Setelah ini, band yang sedikit banyak menyerap inspirasi dari band-band dunia seperti DS-13, Converge, Dissection, Entombed, From Ashes Rises, serta Mötley Crüe ini berencana untuk fokus menggarap album yang dicanangkan bisa rilis pada dua sampai tiga tahun mendatang. (mdy/MK01)
.