“Seperti yang pernah kami sampaikan, 28 tahun berjalan bersama, bukan hal yang mudah bagi kami untuk mengambil keputusan tidak lagi bersama Sofyan Hadi. Death Vomit bukan hanya sekadar kesamaan selera bermusik. Hal-hal teknis mungkin bisa kami pahami. Namun bagi kami, ada hal yang lebih penting, yaitu ‘persaudaraan’ atau dalam bahasa Jawa disebut ‘Paseduluran’.”
Sekali lagi, dedengkot brutal death metal Yogyakarta ini menegaskan akar perkara yang memisahkan mereka dengan vokalis dan gitaris Sofyan Hadi, pada 20 Juli 2023 lalu. Pernyataan di atas diutarakan gitaris Oki Haribowo kepada MUSIKERAS, tanpa merinci lebih jauh.
Tapi ya sudahlah, pergantian personel di sebuah band adalah hal biasa. Walau banyak yang menganggap Death Vomit telah kehilangan sosok yang terbilang kharismatik, tapi bukan berarti mesin pacu band ini pun harus tercekat. Dua personelnya yang tersisa, yakni Oki dan dramer Roy Agus tentunya paling paham konsekuensi yang mereka hadapi. Namun ketimbang menguras pemikiran ke hal tersebut, keduanya memilih langsung tancap gas untuk terus berkarya. Bahkan Oki mengaku sudah menyiapkan beberapa materi lagu baru, walau kondisi band sedang timpang. Salah satunya adalah “Divine Heretic”, yang langsung menggetarkan skena metal ketika diluncurkan ke publik luas pada 5 Desember 2023 lalu via label Brutal Mind.
Dengan suntikan darah segar di formasi baru, yang kini juga diperkuat mantan vokalis Deadsquad, Agustinus Widi serta bassis Ari Kristiono, Death Vomit melontarkan “Divine Heretic” dengan geberan agresi distorsi yang ekstrim dan tetap brutal. Mereka kini berada di level yang paling intens, bagaikan taring tajam yang semakin terasah. Sejak awal hingga akhir lagu, tempo super gesit cukup dominan, yang dibangun dari gempuran blast beat yang bertebaran di sana-sini, serta garukan riff yang cepat dan bernada ‘jahat’.
Yang pasti, khususnya dengan bergabungnya Widi, ada dua hal baru di “Divine Heretic” yang cukup menyegarkan. Pertama, riffing yang lebih eksploratif secara progresi kord. Kedua, gaya vokal growl yang menjadi lebih eksploratif dan emosional. Secara keseluruhan, masih menyisakan benang merah musik Death Vomit yang terkenal bengis, non-kompromis, dan bernuansa old school sebagai manifestasi band death metal kelahiran dekade ‘90an. Karakter dan marwah yang mereka pertahankan sejak terbentuk pada 1995 silam.
Bagi Oki dan Roy, dengan formasi Death Vomit terkini, membuka peluang yang lebih luas bagi mereka untuk bisa lebih eksploratif dalam berkarya. Tanpa kehadiran Sofyan juga tidak mewariskan kendala apa-apa dalam proses kreatif penciptaan lagu. Karena sejak dulu pun, Oki memang selalu terlibat dalam setiap proses pembuatan materi lagu.
“Bahkan di album ‘Dominion Over Creation’ semua materi gitar dari saya. Begitu pun dalam proses rekaman album. Sejak album ‘Forging A Legacy’, saya sudah mengisi bagian gitar. Jadi semuanya berjalan secara natural saja. Secara musikal Death Vomit tidak pernah berubah. Karena referensi-referensi kami dari dulu sampai sekarang juga masih sama. Hanya, (kini dengan) ’Divine Heretic’ menjadi lebih eksploratif,” ucapnya meyakinkan.
Bergabungnya Widi sendiri, ditegaskan Oki tidak pernah direncanakan sebelumnya. Bahkan sampai ketika memutuskan untuk tidak bersama dengan Sofyan lagi, mereka juga belum menemukan pengganti. Namun, meskipun terkesan mendadak, Widi sebenarnya tidak muncul di detik-detik terakhir perilisan “Divine Heretic”. Ide melibatkan Widi datang dari gagasan yang dilontarkan Roy, yang lantas mereka pertimbangkan dan putuskan bersama untuk dieksekusi.
Keputusan merekrut Widi sepertinya menjadi tindakan yang tepat bagi Death Vomit. Secara teknis, mereka mengakui perubahan yang sangat terasa di pengeksekusian “Divine Heretic”. “Secara teknis, bagi saya karakter vokal Widi membuat ‘Divine Heretic’ lebih bertenaga. Dan secara musikal Widi bisa menerjemahkan pattern-pattern vokal yang saya buat,” seru Oki memuji.
Formasi terbaru Death Vomit sudah dijajal untuk pertama kalinya di panggung megah Rock in Solo Festival, 10 Desember 2023 lalu. Target berikutnya, tentu saja menuju perilisan album baru. Sejauh ini, Death Vomit sendiri sudah mencatatkan empat album penuh sepanjang perjalanan karirnya, yaitu “Eternally Deprecated” (1999), “The Prophecy” (2006), “Forging a Legacy” (2014) dan “Dominion Over Creation” (2020), plus satu DVD rekaman konser berjudul “Flame of Hate” (2009). (mdy/MK01)
.
Longlife Devo!!
Rock in Solo telah membuktikan betapa ngerinya Death Vomit formasi baru.
Dengan 4 orang, stage act jadi lebih dinamis, tidak terbatas seperti saat masih bertiga.
Ditunggu album barunya
Selamat mas Widi….dari Yogja to Yogja…..sukses selalu….