Dua musisi asal Bandung, Jawa Barat, yakni Muhammad Alfaudzan aka Al dan Muhammad Faadhil Munawwar aka Adin akhirnya mewujudkan keinginan mereka untuk berkolaborasi dalam sebuah proyek musikal yang sarat eksperimentasi.
Lewat sebuah album mini (EP) bertajuk “Cursed by Hatred, Blessed by Suffering”, keduanya – yang mengibarkan Seda sebagai nama panggung – mencoba mengombinasikan paham hardcore punk dengan elemen black metal. Di departemen lirik, dengan sikap ‘fuck you’ mereka berbicara tentang banyak hal dan orang-orang yang mereka benci, penderitaan pengungsi, depresi hingga kecenderungan bunuh diri.
“Proses kreatifnya berawal dari nongkrong sih. Kami memang udah lama pingin bikin project, cuma belum terbentuk konsep benang merahnya kayak gimana,” ujar pihak Seda kepada MUSIKERAS mengungkap awal kiprahnya.
Kebetulan, Al dan Adin sama-sama sering mendengarkan musik dari band hardcore punk dan death metal dari AS seperti seperti Youth Of Today, Gorilla Biscuit, Possessed serta band metal ekstrim asal Brasil, Sarcófago. Dari situ, keduanya lantas mencoba bereksperimen membaurkan hardcore punk era 80-90-an dengan black metal.
“Proses pengerjaan kurang lebih satu bulanan, yang lama tuh di proses mixing sama mastering. Semua direkam di (studio) Aqva Achadma Megalacheilos,” urai Seda lagi.
Lebih jauh, dari segi musikal, Seda menyebut bahwa konsep kombinasi black metal dengan hardcore punk yang diterapkan di “Cursed by Hatred, Blessed by Suffering” tidak terlalu rumit. Bahkan mereka melihat, kedua sub-genre musik keras tersebut kurang lebih punya benang merah yang sama. Hanya unsur warna musiknya saja yang berbeda.
“Sebetulnya cukup simple sih. Untuk segi instrumentasi, kami banyak unsur hardcore punk-nya. Contohnya riff-riff gitar yang sederhana, kadang dram bertempo cepat kadang lambat. Sama dalam unsur black metal. Dalam segi vokal, lirikal, amarah, nihilistik, kebencian akan sosial.”
Dari lima trek yang termuat di “Cursed by Hatred, Blessed by Suffering”, Seda menunjuk lagu “Systematic Suffering In The 21st Century” sebagai materi yang paling menantang saat mengeksekusi rekamannya secara teknis. “Karena dalam proses rekamannya pun berulang. Ketukan cepat ala black metal, tetapi riff-riff gitar hardcore punk yang minor. Coba denger aja deh lagunya biar bisa tergambar,” seru mereka beralasan.
Selain lagu yang sudah disebutkan tadi, EP debut Seda ini juga memuat lagu “To Your Beloving Place, Hell”, “Hate Em (Also Me and You)”, “Trust No One, God Is Fake” dan “Bajingan”. Tapi jika para pendengarnya membeli EP “Cursed by Hatred, Blessed by Suffering” via kanal Bandcamp, maka bakal ada tiga trek tambahan sebagai bonus. Lagu tersebut adalah versi instrumental dari “To Your Beloving Place, Hell”, “Trust No One, God Is Fake” dan “Bajingan” yang direkam secara live dari studio Aqva Achadma Megalacheilos.
Sejauh ini, Seda ingin mempertahankan konsep duo, dan bukan band seperti umumnya di metal. “Karena dari lingkungan kami, yang suka hardcore punk dan black metal sedikit. Jadi selagi bisa duo, kenapa tidak?”
EP “Cursed by Hatred, Blessed by Suffering” sendiri bisa didengarkan di kanal Bandcamp milik Records After Twenty mulai 25 Januari 2024 mendatang. (aug/MK02)
.
B aja kirain bakalan WAWWW, pasaran sudah di telinga
Kamu photo di atas makam orangtua ku di injek pula????? Mau mu apa ya???tolong hirmatin donk…..
awesome