DESPISE Makin Agresif di “The Game”

Di karya terbarunya ini, Despise mencoba tidak terlalu pakem menyalakkan hardcore, namun juga menyuntikkan elemen metal untuk melebarkan pendengarnya.
despise

Usai album mini (EP) “In Your Face” yang dirilis pada awal September 2022 lalu, kini Despise mencoba meramu materi yang lebih berat dan lebih agresif di karya rekaman terbarunya.

Sebuah lagu rilisan tunggal bertajuk “The Game” yang sudah bisa digeber melalui berbagai platform digital streaming sejak 6 September 2024. 

Yang diharapkan dari terapan konsep itu, adalah agar band bentukan 2021 yang diperkuat formasi Irvan Sandy (Ivan), gitaris Jovial Andison (Jovi) dan Egga Maulana, dramer Moch Bachtiar (BachQar) dan bassis Isnan Mauladi ini bisa lebih menyentuh penikmat musik ‘bawah tanah’ di luar genre hardcore metal.

Di “The Game”, Despise masih masih tetap menonjolkan riff-riff gitar yang berat dengan penalaan (tuning) yang rendah, dengan sedikit sentuhan slaming di setiap bagiannya.

Menurut ungkapan mereka kepada MUSIKERAS, sedikit banyak referensi formulanya didapatkan dari band-band dunia macam Mouth for War, Kublai Khan TX, Bodysnatcher, Paleface, Orthodox, Chamber dan sebagainya.

“Mungkin dengan genre ini, kami bisa (dianggap) layak juga untuk main di festival-festival metal,” seru band ini lagi, terus-terang.

Kendati demikian, hardcore tetap menjadi benang merah dari keseluruhan racikan musik Despise. Alasannya, dari segi musikalitas mempersentasikan kebebasan serta lirik-lirik yang menjadikan jalan hidup.

“Saya kira hardcore adalah labuhan terakhir bagi para personel Despise yang notabene pernah mejajal berbagai sub-genre underground selain hardcore.”

Rapalan lirik di “The Game” sendiri merepresentasikan kota dimana Despise berasal, di ‘sin city’ (sebutan lokal) Tegal, Jawa Tengah. Tentang banyaknya muda-mudi terjebak dalam permainan ‘halu’, entah korban media atau gejolak kawula muda yang terlalu berambisi hingga nggak tahu diri.”

Proses kreatif penggarapan “The Game” sendiri dilakukan di beberapa studio. Untuk isian gitar dan bass dikerjakan di Monztermaker Studio, Tegal. Sementara untuk dram dan vokal dieksekusi di Rumahberisick Studio. Juga berlokasi di Tegal, Jawa Tengah. Khusus proses mixing dan mastering, Despise memilih mempercayakannya kepada Praditya Eka di Invasion Studio, Depok. 

Disamping “The Game”, Despise saat ini juga tengah menggarap materi EP bereka berikutnya. Pihak band mengakui, progesnya terbilang memakan banyak waktu lantaran dilakukan di sela-sela kesibukan duniawi dan jarak domisili antar personel yang lumayan jauh. (aug/MK02)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
repton
Read More

REPTON: Ingatkan Tragedi Kelam Mei ’98

Menyambut perilisan sebuah album split, Repton menyuarakan trauma kolektif dari Tragedi Mei 1998 silam dalam kobaran slam metal berbalut rap/DJ.
carousels
Read More

CAROUSELS: Metalcore, Synth, Saksofon!

Gagasan lama yang muncul di 2019 silam, akhirnya diwujudkan Carousels di lagu terbarunya. Mengombinasikan synthwave, metalcore dan saksofon!
rahasia intelijen
Read More

RAHASIA INTELIJEN: Berharap Bisa Merilis EP

Unit metal alternatif Jakarta, Rahasia Intelijen akhirnya menguak kasus baru lagi, lewat lagu berlirik tajam, tentang narasi religius yang berlumuran darah.
hellcrust
Read More

Ini Perbedaan HELLCRUST dan DARKSOVLS

Bangun dari hibernasi, Hellcrust rilis lagu terbaru, “Rekonstruksi Kerak Neraka”. Tapi yang mengejutkan, kali ini formasinya sama persis dengan Darksovls!